ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Okra (Abelmoschus esculentus L.) merupakan komoditas hortikultura yang penting, dan peningkatan produksinya dapat dilakukan melalui intensifikasi teknik budidaya seperti pemangkasan daun. Efektivitas pemangkasan sangat bergantung pada penentuan waktu yang tepat agar mampu memaksimalkan hasil dan mencegah penurunan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pemangkasan daun terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman okra, serta menentukan waktu pemangkasan daun yang paling optimal. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan 5 perlakuan yang diulang sebanyak 5 kali, menghasilkan 25 unit percobaan. Perlakuan yang diuji meliputi: Tanpa Pemangkasan (P0), Pemangkasan 3 Minggu Setelah Tanam (MST) (P1), Pemangkasan 5 MST (P2), Pemangkasan 7 MST (P3), dan Pemangkasan 9 MST (P4).Parameter yang diamati meliputi seluruh aspek pertumbuhan vegetatif (tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang) dan generatif (umur berbunga, jumlah buah, dan bobot buah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemangkasan daun memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan vegetatif maupun generatif tanaman okra. Perlakuan P2 (Pemangkasan Daun pada usia 5 MST) terbukti menjadi perlakuan yang paling optimal dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman okra. Perlakuan P2 menghasilkan rata-rata jumlah daun tertinggi (27,28 helai) , diameter batang terbesar (2,53 cm) , umur berbunga tercepat 40 hst, serta mencapai jumlah buah (16,19 buah) dan bobot buah (252,79 g) tertinggi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Salah satu tindakan agronomis yang dapat dilakukan untuk memperbaiki teknik budidaya tanaman dalam rangka meningkatkan produksi adalah dengan melakukan pemangkasan cabang. Pembentukan arsitektur cabang melalui pemangkasan cabang primer bertujuan untuk mengoptimalkan intersepsi cahaya dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan cabang dan tunas ke arah yang menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pemangkasan dan tipe cabang terhadap produksi tanaman kacang hijau (Vigna radiata L). Penelitian dilaksanakan pada tahun 2023 di lahan Praktek Fakultas Pertanian UBT. Metode penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan menggunakan 2 fakfor, yaitu. Faktor pertama yaitu tipe cabang yang terdiri dari: C1= Cabang Primer C2= Cabang Sekunder Faktor yang kedua waktu pemangkasan terdiri dari 4 taraf yaitu: W1 = di Pangkas setelah 30 HST W2 = di Pangkas setelah 37 HST W3 = di Pangkas setelah 44 HST W4 = di Pangkasa setelah 51 HST Terdapat 8 kombinasi setiap kombinasi di ulangi 3 kali dengan unit pemangkasan yang di peroleh sebanyak 24 unit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang nyata perlakuan pemangkasan cabang dan pengaturan waktu pemangkasan terhadap produksi tanaman kacang hijau. Perlakuan pemangkasan cabang primer lebih mendominasi dalam pertumbuhan dan produksi hasil tanaman kacang hijau, sementara waktu pemangkasan 51 HST jauh lebih baik dibanding perlakuan waktu pemangkasan lainya, sedangkan pada kombinasi perlakuan C1W4 menunjukkan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan produksi tanaman kacang hijau .
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Padang lamun di Perairan Pulau Balikukup memiliki kepadatan yang tinggi dan tersusun dari 6 jenis lamun, salah satunya adalah Halodule uninervis. Halodule uninervis merupakan jenis lamun yang memiliki pertumbuhan cukup cepat dan konsumsi bagi penyu hijau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laju produktivitas biomassa daun. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2023. Lokasi pengamatan pada 2 stasiun yang mewakili daerah dekat dan jauh dari aktivitas manusia. Eksperimen lapangan dengan metode pemangkasan menggunakan transek kuadran 50x50 cm2 dan pengamatan selama 16 hari dengan interval pengamatan setiap 4 hari. Kerapatan lamun yang didapatkan sebanyak 824 ind/m2 dan 1.436 ind/m2 termasuk dalam kategori sangat rapat. Tutupan lamun stasiun 1 termasuk kategori jarang dan stasiun 2 kategori sedang. Analisis kandungan nutrien menunjukkan kondisi perairan termasuk dalam keadaan oligotrofik. Rata-rata laju produktivitas biomassa pada stasiun 1 secara berurutan sebesar 0,073, 0,055, 0,038, dan 0,029 gBKm-2/hari, sedangkan pada stasiun 2 0,049, 0,048, 0,044, dan 0,044 gBKm-2/hari. Laju pertumbuhan biomassa di kedua stasiun menunjukkan kecepatan pertumbuhan menurun seiring bertambahnya waktu. Hasil uji t berpasangan tidak terdapat perbedaan laju produktivitas biomassa di kedua stasiun karena lokasi penelitian terletak dalam ekosistem yang sama.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu bahan pangan yang dikenal dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas selain beras. Kacang hijau dapat diolah menjadi bahan pangan protein nabati tinggi. Berdasarkan kesesuaian syarat tumbuh tanaman kacang hijau, kemudahan dalam budidaya, dan nilai ekonomi yang tinggi, tanaman kacang hijau memiliki prospek yang positif untuk dapat dikembangkan serta menjadi peluang usaha bidang agrobisnis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pola faktorial yang terdiri dari satu faktor terdiri dari 5 taraf yaitu: P0:tanpa pemangkasan pucuk (kontrol), P1:pemangkasan pucuk (2 MST), P2:pemangkasan pucuk (3 MST), P3:pemangkasan pucuk (4 MST), P4:pemangkasan pucuk (5 MST). Ulangan sebanyak 5 kali, sehingga diperoleh 25 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cabang produktif dan bobot biji per plot dipengaruhi oleh perlakuan pemangkasan. Perlakuan pemangkasan yang memberikan hasil terbaik pada jumlah cabang produktif adalah perlakuan P3 (5,3 cabang), dan bobot biji per plot pada perlakuan P3 (259,2 g). Terdapat kecenderungan perlakuan pemangkasan meningkatkan berat 100 biji (nilai tertinggi pada perlakuan P3 (10 g) dan jumlah polong per tanaman (nilai tertinggi pada perlakuan P3 dibandingkan P0, P1, P2, dan P4.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman ubi jalar (Ipomea batatas L.). Untuk meningkatkan produksi umbi dari tanaman ubi jalar, maka salah satu upaya yang dilakukan adalah pemangkasan. Oleh sebab itu, diperlukan pemangkasan pucuk sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan produksi dari umbi pada tanaman ubi jalar. Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanian Binalatoeng, Kelurahan Amal Lama Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Satu faktor dengan empat taraf yaitu P0 (kontrol/tidak dipangkas), P1 (30 HST), P2 ( 45 HST), dan P3 (60 HST) serta diulang sebanyak enam ulangan. Fariabel pengamatan pada penelitian ini adalah jumlah umbi, diameter umbi, bobot umbi, dan panjang umbi. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan diuji lanjut dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf 5%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan Pemangkasan 60 HST (P3) menjadi perlakuan yang paling baik dalam meningkatkan produktivitas tanaman ubi jalar, dengan memiliki bobot segar mencapai 223,34 gram dengan diameter mencapai 16,12 cm dan panjang mencapai 16,58 cm.