ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Cangkang kerang temberungun (Telescopium telescopium) yang banyak ditemukan di Tarakan masih jarang dimanfaatkan, padahal berpotensi sebagai katalis ramah lingkungan dalam pembuatan biodiesel. Di sisi lain, minyak jelantah tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan, tetapi juga menimbulkan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel dengan memanfaatkan cangkang temberungun sebagai katalis heterogen berbasis kalsium karbonat (CaCO3). Katalis kemudian digunakan pada reaksi transesterifikasi minyak jelantah dan metanol dengan rasio 1:8 pada suhu 60°C selama 3 jam, serta variasi konsentrasi katalis 1%, 2%, dan 3% dari berat minyak. Karakterisasi biodiesel dilakukan berdasarkan rendemen, densitas, viskositas, bilangan asam, dan uji nyala. Hasil menunjukkan katalis 1% menghasilkan kinerja tertinggi dengan rendemen 11,3%, densitas 0,87 g/ml sesuai SNI (0,85–0,89 g/ml), serta nyala api biru stabil yang menandakan pembakaran sempurna. Namun, nilai viskositas biodiesel masih di bawah standar SNI.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Minyak jelantah selain menimbulkan masalah bagi kesehatan manusia juga menimbulkan masalah lingkungan. Cangkang kerang temberungun (Telescopium telescopium) yang keberadaanya cukup banyak di Kota Tarakan dan belum termanfaatkan secara optimal, padahal memiliki potensi sebagai katalis biodiesel yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan cangkang kerang temberungun (Telescopium telescopium) sebagai sumber katalis kalsium oksida (CaO) dalam sintesis biodiesel dari minyak jelantah, sintesis perbedaan waktu reaksi (3,4, dan Sjam) untuk menghasilkan CaO, kemudian dilakukan reaksi transesterifikasi minyak jelantah. Biodiesel yang dihasilkan diuji karakteristiknya meliputi rendemen, densitas, viskositas, dan karakteristik nyala. Hasil penelitian menunjukkan rendemen biodiesel tertinggi sebesar 10.29% pada waktu reaksi 4 jam. Densitas meningkat seiring lamanya reaksi, yaitu 0,84 g/cm³ (3 jam), 0,88 g/cm³ (4 jam), dan 0,89 g/cm³ (5 jam), dimana waktu 4 dan 5 jam memenuhi standar SNI. Viskositas biodiesel berada pada rentang 0,82-0,94 mm/s, lebih rendah dari batas minimal SNI (2,3 mm/s). Karakteristik nyala menunjukkan pembakaran cukup efisien dengan warna api kebiruan, namun masih terdapat pembentukan jelaga. Penelitian ini membuktikan bahwa cangkang kerang temberungun berpotensi sebagai katalis ramah lingkungan, meskipun diperlukan optimasi proses untuk memenuhi seluruh parameter mutu biodiesel sesuai SNI.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah cangkang kerang temberungun (Telescopium telescopium) sebagai katalis heterogen dalam produksi biodiesel dari minyak jelantah melalui proses transesterifikasi. Cangkang dikalsinasi pada suhu 600°C dan 750°C serta dibandingkan dengan sampel tanpa kalsinasi. Sintesis biodiesel dilakukan dengan rasio berat jelantah terhadap metanol 5:1 menggunakan katalis sebanyak 2% dari berat minyak, direaksikan dengan refluks pada suhu 60°C selama 3 jam. Biodiesel yang dihasilkan dianalisis melalui uji rendemen, densitas, viskositas dan karakteristik nyala. Hasil menunjukkan bahwa kalsinasi suhu tinggi berhasil mengubah CaCO3 menjadi CaO yang aktif secara katalitik. Spektrum FTIR menunjukkan bahwa sampel 750°C menampilkan puncak khas Ca-O, menandakan konversi sempurna dari CaCO3. Biodiesel dari katalis non-kalsinasi menghasilkan rendemen tertinggi (10,09%), namun suhu 600°C memberikan hasil densitas dan viskositas paling sesuai dengan standar. Studi ini menunjukkan bahwa cangkang kerang temberungun memiliki potensi sebagai katalis ramah lingkungan dan ekonomis dalam produksi biodiesel.