ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Erosi tanah merupakan salah satu permasalahan utama dalam pengelolaan lahan pertanian di wilayah topografi kompleks seperti Kalimantan Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat bahaya erosi pada berbagai jenis tutupan lahan pertanian menggunakan tiga model empiris utama: USLE, MUSLE, dan RUSLE, serta memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam pemetaan distribusi erosi. Model USLE menghitung laju kehilangan tanah tahunan berdasarkan faktor-faktor seperti curah hujan, erodibilitas tanah, panjang dan kemiringan lereng, penutup lahan, serta praktik konservasi. MUSLE memodifikasi pendekatan ini dengan mempertimbangkan limpasan permukaan, sedangkan RUSLE memperbaharui elemen curah hujan dan perhitungannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa erosi tertinggi terjadi pada lahan pertanian lahan kering dengan kemiringan lereng curam dan minim tindakan konservasi. Lahan sawah dan rawa cenderung memiliki tingkat erosi sangat rendah. Indeks Bahaya Erosi (IBE) tertinggi terdeteksi pada unit lahan dengan nilai erosi aktual yang jauh melebihi ambang batas toleransi. Sebagai hasil, rekomendasi konservasi tanah difokuskan pada penerapan vegetasi pelindung, penanaman kontur, dan pembangunan terasering. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah untuk pengambilan kebijakan konservasi tanah dan perencanaan penggunaan lahan berkelanjutan di Kalimantan Utara.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Lahan merupakan sumberdaya alam penting yang sangat diperlukan dalam segala aktivitas manusia. Degradasi lahan menjadi masalah penting saat ini terutama mengenai peristiwa erosi, sehingga perlu untuk dilakukan suatu pendugaan untuk mengetahui tingkat bahaya erosi suatu lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju erosi dan tingkat bahaya erosi yang terjadi pada berbagai tipe penggunaan lahan di kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dan metode pendugaan erosi berdasarkan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) yang kemudian ditentukan nilai Indeks Bahaya Erosi (IBE). Terdapat 15 titik sampel unit lahan yang ditentukan berdasarkan Satuan Peta Lahan (SPL). Penelitian dilaksanakan di kota Tarakan pada beberapa tipe penggunaan lahan diantaranya sawah, hutan, semak belukar, kebun campuran, tanah terbuka, dan tegalan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa erosi yang terjadi pada unit lahan tergolong pada tingkat sangat ringan hingga sangat berat. Erosi tertinggi terdapat pada lahan terbuka dengan nilai erosi sebesar 11079.32 ton/ha/tahun dan erosi terendah terdapat pada penggunaan lahan berupa hutan dengan nilai 1.77 ton/ha/tahun. Secara umum unit lahan memiliki kelas indeks bahaya erosi sangat tinggi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kemampuan lahan merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan wilayah pertanian. Intepretasi morfologi dan karakteristik lahan menjadi tolak ukur penilaian kemampuan dan kualitas suatu lahan, selanjutnya kemampuan lahan menjadi acuan bagi pemanfaatan dan arahan perbaikan lahan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik dan kelas kemampuan lahan di Kota Tarakan, serta memberikan rekomendasi perbaikan lahan berdasarkan faktor-faktor pembatas yang ditemukan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengamati morfologi tanah dan karakteristik lahan pada 8 titik pengamatan yang mewakili tata guna lahan di Kota Tarakan. Penentuan kelas kemampuan lahan menggunakan metode matching berdasarkan kriteria klasifikasi kemampuan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 kelas kemampuan lahan yaitu kelas II di lokasi Pantai Amal dan Juata Kerikil, kelas III di Kampung Bugis, dan kelas IV di Mamburungan, Slipi, Gunung Selatan, Karang Harapan dan Juata laut, dengan faktor pembatas tekstur, drainase, erosi dan kemiringan lereng. Lahan dengan faktor pembatas kemiringan, erosi dan drainase dapat diusahakan untuk pertanian dan akan memberikan nilai ekonomi yang sangat baik melalui perbaikan lahan dengan amandemen tanah, pupuk organik, mulsa dan teknik tera sering
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Analisis penggunaan lahan berguna untuk mengidentifikasi mekanisme perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu lahan melalui pendekatan spasial dalam Sistem Informasi Geografis. Pendekatan spasial dilakukan dengan menggunakan program Arcgis untuk menganalisis data geografis kedalam satuan peta. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui rancangan Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam inventarisasi penggunaan dan potensi bahaya erosi lahan pertanian di Kota Tarakan, dan (2) menginformasikan penggunaan dan potensi bahaya erosi lahan pertanian di Kota Tarakan.. Penelitian ini mengambil data spasial dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Tarakan, data Digital Elevation Model (DEM) untuk menganalisis kemiringan lereng serta ketinggian Kota Tarakan dan survey lapangan menggunakan GPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas penggunaan lahan pertanian di Kota Tarakan secara umum 75,33%, didominasi penggunaan lahan hutan 38,91%, lahan terbuka non pemukiman 25,72%, pertanian secara khusus 9,35% dan lahan perkebunan 1,35%. Dalam sistem penggunaan lahan tidak pernah terlepas dari jenis tutupan lahan, tutupan lahan di Kota Tarakan terdapat 10 jenis tutupan meliputi hutan kota, hutan lahan kering, hutan rawa/gambut, kebun campuran, tegalan/ladang, lahan terbuka, semak belukar, kebun raya anggrek, padang rumput dan sawah. Kota Tarakan memiliki potensi bahaya erosi dapat dilihat dari faktor kemiringan lereng dari tahun 2012-2020 terjadi pengikisan luas kemiringan lereng di setiap kelasnya yaitu datar, landai, curam, agak curam dan sangat curam serta terjadinya pengurangan ketinggian dari 124 mdpl tahun 2012 menjadi 107 mdpl ditahun 2020. Dengan adanya tutupan lahan dan potensi bahaya erosi tersebut maka pendekatan pengelolaan lahan di Kota Tarakan harus lebih mengedepankan aspek intensifikasi dan konservasi lahan, agar ekosistem dapat terpelihara secara berkelanjutan.