ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang berkontribusi terhadap tingginya angka morbiditas dan mortalitas neonatal di Indonesia. Berbagai faktor maternal diketahui berperan terhadap kejadian BBLR, namun hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan inkonsistensi sehingga diperlukan kajian pada berbagai karakteristik populasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor ibu, meliputi usia ibu, paritas, usia kehamilan, status anemia, penyakit selama kehamilan, dan jarak anak terdahulu dengan kejadian BBLR serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan di Rumah Sakit Pertamina Tarakan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain case-control retrospektif menggunakan data rekam medis persalinan periode Januari–Desember 2025. Sampel penelitian berjumlah 154 responden yang terdiri atas 77 kelompok kasus (BBLR) dan 77 kelompok kontrol (BBLN). Sampel kasus ditentukan menggunakan teknik total sampling, sedangkan kelompok kontrol dipilih dengan teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden, analisis bivariat untuk menguji hubungan antarvariabel, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda untuk menentukan faktor yang berhubungan secara independen dengan kejadian BBLR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia reproduksi sehat (20–35 tahun), memiliki paritas tidak berisiko, usia kehamilan aterm, tidak mengalami anemia, tidak memiliki penyakit selama kehamilan, dan memiliki jarak anak terdahulu yang tidak berisiko. Analisis bivariat menunjukkan bahwa paritas (p=0.004), usia kehamilan (p0.001), penyakit selama kehamilan (p=0.010), dan jarak anak terdahulu (p=0.002) berhubungan secara bermakna dengan kejadian BBLR, sedangkan usia ibu dan status anemia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Hasil analisis regresi logistik berganda menunjukkan bahwa paritas (OR=2.700), usia kehamilan (OR=36.576), dan penyakit selama kehamilan (OR=4.886) merupakan faktor yang berhubungan secara independen dengan kejadian BBLR, dengan usia kehamilan sebagai faktor yang paling dominan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa risiko BBLR dipengaruhi terutama oleh usia kehamilan, paritas, dan penyakit selama kehamilan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar dalam memperkuat deteksi dini kehamilan berisiko, mencegah persalinan preterm, meningkatkan pemantauan ibu dengan paritas berisiko dan penyakit penyerta, serta mengoptimalkan pelayanan antenatal sebagai upaya menurunkan kejadian BBLR.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang berkontribusi terhadap tingginya angka morbiditas dan mortalitas neonatal di Indonesia. Berbagai faktor maternal diketahui berperan terhadap kejadian BBLR, namun hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan inkonsistensi sehingga diperlukan kajian pada berbagai karakteristik populasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor ibu, meliputi usia ibu, paritas, usia kehamilan, status anemia, penyakit selama kehamilan, dan jarak anak terdahulu dengan kejadian BBLR serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan di Rumah Sakit Pertamina Tarakan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain case-control retrospektif menggunakan data rekam medis persalinan periode Januari–Desember 2025. Sampel penelitian berjumlah 154 responden yang terdiri atas 77 kelompok kasus (BBLR) dan 77 kelompok kontrol (BBLN). Sampel kasus ditentukan menggunakan teknik total sampling, sedangkan kelompok kontrol dipilih dengan teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden, analisis bivariat untuk menguji hubungan antarvariabel, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda untuk menentukan faktor yang berhubungan secara independen dengan kejadian BBLR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia reproduksi sehat (20–35 tahun), memiliki paritas tidak berisiko, usia kehamilan aterm, tidak mengalami anemia, tidak memiliki penyakit selama kehamilan, dan memiliki jarak anak terdahulu yang tidak berisiko. Analisis bivariat menunjukkan bahwa paritas (p=0.004), usia kehamilan (p0.001), penyakit selama kehamilan (p=0.010), dan jarak anak terdahulu (p=0.002) berhubungan secara bermakna dengan kejadian BBLR, sedangkan usia ibu dan status anemia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Hasil analisis regresi logistik berganda menunjukkan bahwa paritas (OR=2.700), usia kehamilan (OR=36.576), dan penyakit selama kehamilan (OR=4.886) merupakan faktor yang berhubungan secara independen dengan kejadian BBLR, dengan usia kehamilan sebagai faktor yang paling dominan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa risiko BBLR dipengaruhi terutama oleh usia kehamilan, paritas, dan penyakit selama kehamilan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar dalam memperkuat deteksi dini kehamilan berisiko, mencegah persalinan preterm, meningkatkan pemantauan ibu dengan paritas berisiko dan penyakit penyerta, serta mengoptimalkan pelayanan antenatal sebagai upaya menurunkan kejadian BBLR.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Stres merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental dan fisik, yang dapat mengakibatkan perubahan berat badan dan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara stres dengan berat badan dan tekanan darah pada masyarakat di daerah perbatasan Kalimantan Utara, khususnya di pulau Sebatik. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 300 responden dari masyarakat perbatasan. Hasil penelitian terdapat hubungan antara stres terhadap berat badan dengan nilai p=,001, stres dengan tekanan darah sistolik dengan nilai p=,001, dan hubungan stres terhadap dengan tekanan darah diastolik dengan nilai p=,001. Istrumen yang digunakan dalam peneilitan ini menggunakan DASS versi 21, sphygmomanometer, dan timbangan antropometri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengembangan program kesehatan mental dan intervensi yang lebih baik, serta menjadi referensi dalam studi keperawatan jiwa di daerah perbatasan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat dan institusi pendidikan dalam memahami dampak stres terhadap kesehatan fisik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Praktik pijat bayi merupakan sebuah kearifan lokal turun temurun yang dilakukan oleh nenek moyang kita sejak dulu. Jadi dapat dikatakan bahwa, pijat bayi merupakan salah satu teknik yang umum diberikan pada bayi atau anak yang sedang sakit untuk membantu penyembuhannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian pijat bayi terhadap peningkatan berat badan dan perkembangan Motorik Kasar bayi umur 0 s/d 11 bulan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif quasy experiment dengan pendekatan pre and post test design without control group. Analisis data penelitian menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan Uji Wilcoxon. Nilai rata-rata berat badan bayi sebelum perlakuan pijat adalah 6016, 6667 dengan standar deviasi 2113, 33302 sedangkan nilai rata-rata berat badan bayi setelah menerima perlakuan pijat bayi selama 4 minggu atau 8 kali adalah 6680, 5556 dengan standar deviasi 1918,72651 dengan nila P Value 0,05 yaitu 0,000. Sedangkan untuk nilai rata-rata perkembangan motori kasar setelah perlakuan adalah 2,22 dengan standar deviasi 0,428 dengan hasil uji Wilcoxon didapatkan P value 0,05 yaitu 0,025. Kesimpulan penelitian ini didasarkan pada hasil Asymp. Sig. (2-tailed) 005 artinya ada pengaruh pijat bayi terhadap kenaikan berat badan dan perkembangan motorik kasar bayi. Kata kunci : Pijat bayi, berat badan, motorik kasar
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Ruptur perineum adalah robekan yang terjadi pada saat persalinan yang dimana disebabkan oleh beberapa faktor antara lain posisi pada saat persalinan, cara meneran, pimpinan persalinan, berat badan bayi baru lahir dan keadaan perineum. Bayi baru lahir yang mempunyai berat badan >4000 gram yang akan kemungkinan mengakibatkan bahu bayi tersangkut, bayi akan lahir dengan gangguan nafas. Maka hal ini dapat disebabkannya berat bayi yang besar sehingga sulit untuk melewati panggul dan menyebabkan ruptur perineum pada ibu yang bersalin normal. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan berat badan lahir bayi dengan ruptur perineum pada ibu persalinan normal di Rumah Sakit Umum Carsa Kota Tarakan Tahun 2023. Desain penelitian ini adalah analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah populasi sebanyak 970 orang dan sampel 283 orang yang diambil dengan menggunakan teknik sistematik random sampling dengan pengumpulan data menggunakan rekam medis dan memilih sampel menggunakan aplikasi spin the wheel. Dari penelitian yang penulis lakukan terdapat 223 (78,8%) ibu yang bersalin secara normal dengan ruptur perineum, yang dimana sebanyak 7 (3,1%) dengan berat badan lahir bayi tidak berisiko 2500 gram, 212 (95,1%) dengan berat badan lahir bayi 2500-4000 gram, dan 4 (1,8%) bayi dengan berat badan lahir bayi yang berisiko >4000 gram. Maka dari hasil uji chi-square yaitu nilai p = 0,000 a = 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara berat badan lahir bayi dengan ruptur perineum pada ibu bersalin normal yang dimana Ho ditolak dan Ha diterima. Perineal rupture is a tear during delivery caused by several factors, including the position during delivery, the method of delivery, the leader of delivery, the weight of the newborn, and the condition of the perineum. Newborns weighing >4000 grams may cause the shoulder to get stuck and experience breathing problems. This can be caused by the newborns with large body weight making it difficult to pass through the pelvis and causing perineal rupture in mothers who give birth normally. This study aims to determine the relationship between baby's birth weight and perineal rupture in mothers with normal delivery at Carsa General Hospital, Tarakan in 2023. The design of this study was correlational analytic with a cross sectional approach. The population was 970 people and a sample of 283 people were taken using systematic random sampling techniques with data collection utilizing medical records and sample selection using the spin the wheel application. Based on the research results, there were 223 mothers (78.8%) who gave birth normally with perineal rupture, of which 7 mothers (3.1%) with baby's birth weight not at risk 2500 grams, 212 mothers (95.1%) with baby's birth weight 2500-4000 grams, and 4 mothers (1.8%) with baby's birth weight at risk >4000 grams. The results of the chi-square test showed a value of p=0.000 a 0.05, it can be concluded that there was a significant relationship between the baby's birth weight and perineal rupture in normal delivery mothers where Ho was rejected and Ha was accepted.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sepsis pada bayi baru lahir (sepsis neonatal) masih merupakan masalah yang belum dapat terpecahkan dalam pelayanan dan perawatan bayi baru lahir. Sepsis pada bayi baru lahir adalah infeksi aliran darah yang bersifat invasif dan ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah, cairan sumsum tulang atau air kemih. Kejadian sepsis berat pada bayi baru lahir adalah keadaan sepsis yang disertai disfungsi organ salah satunya hepatologi, ini yang menyebabkan terjadinya ikterus neonatorum pada bayi baru lahir. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa pengaruh berat badan bayi terhadap kejadian ikterus neonatorum setelah terjadinya sepsis neonatorum pada bayi baru lahir. Jenis penelitian ini adalah pendekatan observasional analitik retrospektif. Populasi adalah semua bayi baru lahir yang dirawat di ruangan perinatologi di RS Umum Kota Tarakan dan telah di diagnosis medis sepsis neonatorum dengan kejadian ikterus neonatorum pada bayi baru lahir. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Hasil penelitian diketahui kejadian ikterus neonatorum setelah terjadinya sepsis neonatorum dengan berat badan lahir rendah (79,7%) lebih besar dari pada kejadian ikterus neonatorum setelah sepsis neonatorum dengan berat badan lahir normal (60,2%). Dari analisis didapat p-value=0,012 sehingga p-value 0,05 dengan rasio prevalensi 6,357. Hal ini berarti bayi dengan berat badan lahir rendah merupakan faktor resiko timbulnya ikterus neonatorum setelah terjadinya sepsis neonatorum di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan tahun 2020 – 2021. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan berat badan bayi terhadap kejadian ikterus neonatorum setelah terjadinya sepsis neonatorum pada bayi baru lahir dan bayi dengan berat badan lahir rendah berpeluang mengalami ikterus neonatorum setelah terjadinya sepsis neonatorum 6 kali lebih besar dibandingkan dengan berat badan lahir normal.