ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman Krisan (Chrysanthemum indicum L.) merupakan salah satu tanaman hias populer yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun perbanyakan melalui stek seringkali terkendala oleh pertumbuhan akar dan tunas yang lambat. Aplikasi zat pengatur tumbuh alami, seperti ekstrak kecambah kacang hijau, dapat menjadi alternatif yang aman dan ekonomis untuk memacu pertumbuhan vegetative tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi ekstrak kecambah kacang hijau sebagai zat pengatur tumbuh alami terhadap pertumbuhan stek pucuk krisan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan perlakuan ekstrak kecambah kacang hijau yang terdiri dari K0 : Kontrol, K1 : Konsentrasi 20%, K2 : Konsentrasi 40%, K3 : Konsentrasi 60%, K4 : Konsentrasi 80% dan K5 : konsentrasi 100% beserta zat pengatur tumbuh sintetis growtone, K+ : 10g/100 ml air. Terdapat 7 perlakuan dengan 4 ulangan, masing-masing ulangan terdapat 4 sampel sehingga diperoleh 112 unit percobaan. Parameter yang diamati meliputi pertambahan jumlah daun, pertambahan tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah bunga dan jumlah cabang yang di pantau hingga 12 minggu setelah tanam. Data hasil penelitian diuji menggunakan Uji Normalitas, data yang berdistribusi normal dianalisis dengan Sidik Ragam Anova (Analysis Of Variance) dan dilanjutkan dengan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT), sedangkan data yang tidak berdistribusi normal dianalisis menggunakan analisis non-parametrik Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kecambah kacang hijau memberikan pengaruh terhadap setiap parameter pertumbuhan stek pucuk krisan. Perlakuan K1 dengan konsentrasi 20% mampu menghasilkan rata-rata pertambahan jumlah daun sebesar 19,00 dan rata-rata pertambahan tinggi tanaman sebesar 20,71, Perlakuan K3 dengan konsentrasi 60% menghasilkan rata-rata jumlah anakan tertinggi sebesar 3,25, sedangkan perlakuan K2 dengan konsentrasi 40% menghasilkan rata-rata jumlah bunga tertinggi sebesar 4,86 dan rata-rata jumlah cabang tertinggi sebesar 4,0.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Jahe merupakan salah satu komoditas ekspor rempah-rempah Indonesia, disamping itu juga menjadi bahan baku obat tradisional maupun fitofarmaka, yang memberikan peranan cukup berarti dalam penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara. Kendala dalam pembibitan jahe merah terletak pada pertunasan pada rimpang jahe merah. Semakin berat bobot rimpang, kandungan patinya juga semakin tinggi sehingga kemungkinan dapat mempercepat pertunasan jahe merah. Masa pertumbuhan tunas pada rimpang jahe merah juga dapat dipercepat dengan upaya intensifikasi atau penggunaan zat pengatur tumbuh. Penelitian ini bertujuan; (1) Mengetahui pengaruh dari perbedaan bobot rimpang terhadap pertumbuhan jahe merah, (2) Mengetahui pengaruh dari jenis ZPT NAA dan BAP terhadap pertumbuhan jahe merah dan (3) Mengetahui interaksi antara bobot rimpang dengan jenis zat pengatur tumbuh terhadap pertumbuhan jahe merah. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktorial yang terdiri dari faktor pertama bobot rimpang 10 g, 20 g dan 30 g dan faktor kedua zat pengatur tumbuh Z1 NAA 150 mg, Z2 BAP 100 mg dan Z3 kombinasi NAA 150 mg dan BAP 100 mg. Parameter yang diamati meliputi; tinggi tanaman, jumlah tunas, jumlah daun, diameter batang, jumlah akar, panjang akar, bobot terubus, bobot akar, bobot rimpang dan persentase tanamanan tumbuh. Data yang diperoleh kemudian di uji anova dan diuji lanjut menggunakan DMRT. Perbedaan bobot rimpang dan zat pengatur tumbuh pada faktor tunggal secara umum tidak memberikan pengaruh pada pertumbuhan tanaman jahe merah. Berpengaruh hanya pada interaksinya di parameter tinggi tanaman kombinasi perlakuan bobot rimpang 20 g dan 100 mg BAP (B2 Z2) mampu menginsiasi pertumbuhan pucuk, parameter jumlah tunas kombinasi perlakuan bobot rimpang 30 g dan 150 mg NAA (B3Z1) memiliki pertumbuhan jumlah tunas dan jumlah akar terbanyak serta mampu menginisiasi pertumbuhan panjang akar sehingga menghasilkan bobot terubus dan rimpang panen terberat, kombinasi perlakuan bobot 10 g dan 100 mg BAP + 150 mg NAA (B1 Z3) dapat memperbanyak jumlah daun, pertumbuhan jumlah daun akan memperbesar diameter batang. Kombinasi perlakuan bobot rimpang 30 g dan tanpa ZPT (B3 Z0) memiliki berat akar terbaik.