ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ANALISIS KEBERLANJUTAN USA HATANI PADI SAWAH DI DESA NAWANG BARU KECAMATAN KAYAN HULU KABUPATEN MALINAU ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberlanjutan usahatani padi sawah di Desa Nawang Baru, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau berdasarkan aspek ekologi, ekonomi, sosial, dan budaya serta mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat keberlanjutannya. Penelitian dilaksanakan pada Maret 2026 dengan melibatkan seluruh petani padi sawah di Desa Nawang Baru sebagai responden, yaitu sebanyak 45 orang. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, kuesioner, dan dokumentasi yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Rapfish dengan metode Multidimensional Scaling (MDS). Analisis leverage juga digunakan untuk mengetahui atribut yang memiliki pengaruh paling besar terhadap tingkat keberlanjutan pada setiap dimensi. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan usahatani padi sawah secara multidimensi sebesar 70,46 yang berada pada kategori cukup berkelanjutan. Jika dilihat berdasarkan dimensinya, nilai indeks ekologi sebesar 41,85 dengan status kurang berkelanjutan, dimensi ekonomi sebesar 74,58 dengan status cukup berkelanjutan, dimensi sosial sebesar 74,49 dengan status cukup berkelanjutan, dan dimensi budaya sebesar 90,93 dengan status berkelanjutan. Faktor yang mendukung keberlanjutan antara lain konservasi tanah dan air, pemanfaatan pupuk organik, kelayakan ekonomi usahatani, kerja sama antarpetani, serta penerapan kearifan lokal dan gotong royong. Adapun faktor yang menjadi kendala meliputi pengelolaan pupuk dan air yang belum maksimal, perubahan harga hasil produksi, terbatasnya akses pasar dan informasi pertanian, ketersediaan tenaga kerja yang terbatas, serta belum optimalnya regenerasi dan penerusan pengetahuan pertanian kepada generasi muda. Oleh karena itu, upaya peningkatan keberlanjutan usahatani padi sawah di Desa Nawang Baru perlu lebih diarahkan pada perbaikan aspek ekologi dengan tetap menjaga kondisi ekonomi, sosial, dan budaya yang telah mendukung keberlanjutan usahatani.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman padi merupakan tanaman penghasil beras yang digunakan sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia pada umumnya dan kabupaten Malinau pada khususnya. Secara umum pemanfaatan barang dan jasa lingkungan secara keberlanjutan tidak terlepas dari aspek ekologi, ekonomi, sedangkan untuk keberlanjutan usahatani padi sawah dikembangkan menjadi aspek ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, teknologi dan kelembagaan. Tingkat pendidikan, motivasi petani untuk bertani, keikutsertaan petani dalam pelatihan pertanian, status kepemilikan lahan, umur, pengalaman dalam bertani, dan frekuensi konflik, semuanya berdampak pada keberlanjutan usahatani padi. Tujuan pertanian berkelanjutan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat petani sambil melestarikan ekosistem yang mendukung kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan serta mengetahui keberlanjutan usahatani padi dari segi dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial dan budaya, dimensi teknologi, dan dimensi kelembagaan dan apa saja atribut yang sensitif yang bisa mempengaruhi keberlanjutan usahatani padi sawah di Desa Tanjung Lapang Kecamatan Malinau Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode Rapfish melalui pendekatan Multidimensional Scalling (MDS), Leverage Analysis, dan Monte Carlo. Penelitian ini dilakukan di desa Tanjung Lapang Kecamatan Malinau Barat Kabupaten Malinau menggunakan teknik purposive sampling yang memiliki kriteria tertentu dan untuk jumlah respondenya mengambil 15% dari seluruh jumlah petani yang tercatat dan dibulatkan menjadi 100 responden. Data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Adapun hasil penelitian ini yaitu berdasarkan indeks keberlanjutan usahatani padi sawah di desa Tanjung Lapang Kecamatan Malinau Barat Kabupaten Malinau memperoleh indeks sebesar 46,27 dengan kategori kurang berkelanjutan. Adapun hasil dari masing-masing dimensinya yaitu ekologi sebesar 50,9 berstatus cukup keberlanjutan, ekonomi sebesar 37,2 berstatus kurang berkelanjutan, sosial dan budaya sebesar 53,1 berstatus cukup berkelanjutan, teknologi sebesar 52,7 berstatus cukup berkelanjutan, kelembagaan sebesar 37,3 berstatus kurang berkelanjutan. Atribut dalam penelitian ini sebanyak 37 atribut sedangkan yang digunakan dari lima dimensi keberlanjutan hanya terdapat 26 atribut yang sensitif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya lokal turun temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi serta ditunjukkan dengan adanya tradisi di masyarakat dayak lundayeh. Salah satu daerah yang masih kental dengan kearifan lokalnya adalah desa Long Midang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kearifan lokal masyarakat dayak lundayeh dan peran lembaga adat dalam menjaga kearifan lokal masyarakat dayak lundayeh pada usahatani padi sawah. Penelitian dilakukan di Desa Long Midang Kecamatan Krayan Kabupaten Nunukan. Pemilihan lokasi ditentukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa Desa Long Midang masih memegang erat kearifan lokal dengan kondisi lahan yang juga luas. Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kearifan Lokal dan Peran Lembaga Adat Masyarakat Dayak Lundayeh Pada Usahatani Padi Sawah Di Desa Long Midang Kecamatan Krayan Kabupaten Nunukan masih sangat kental dilakukan oleh masyarkat. Kegiatan adat istiadat seringkali dilakukan dari pra tanam sampai pasca panen di Desa Long Midang, yaitu meledek lati sampai dengan acara erau fengeh meranih. Masuknya unsur teknologi seperti penggilingan padi dalam kegiatan usaha tani padi sawah tidak terlalu mempengaruhi masyarakat desa untuk meninggalkan kegiatan adat yang turun temurun. Dilaksanakan karena sudah menjadi budaya nenek monyang yang harus dipertahankan. Peran lembaga adat dalam hal ini tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda terdiri dari dua, yaitu : (1) Menampung dan menyalurkan pendapat masyarakat kepada pemerintah, (2) Memberdayakan dan melestarikan kearifan lokal yang ada dalam masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Desa Binalawan Kecamatan Sebatik Barat merupakan Desa penghasil padi terbesar di antara desa lainnya yang ada di Kecamatan Sebatik Barat. Namun hal ini kurang berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk, (1) mengetahui pendapatan usahatani padi di Desa Binalwaan Kecamatan Sebatik Barat; (2) mengetahui kontribusi pendapatan usahatani padi terhadap pendapatan total di Desa Binalawan Kecamatan Sebatik Barat; (3) mengetahui ketahanan pangan rumah tangga tani di Desa Binalawan Kecamatan Sebatik Barat; (4) mengetahui kesejahteraan rumah tangga petani padi di Desa Binalawan Kecamatan Sebatik Barat. Metode penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan Purposive Sampling dengan jumlah responden sebanyak 42 petani. Analisis yang digunakan yaitu biaya usahatani, penerimaan, pendapatan, kontribusi pendapatan usahatani, analisis ketahanan pangan (TSP), analisis kesejahteraan pangan dengan menggunakan GSR dan DBPp. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan usahatani padi di Desa Binalwaan Kecamatan Sebatik Barat sebesar Rp 2.008.644,50 per tahun. Kontribusi pendapatan usahatani padi terhadap pendapatan total di Desa Binalawan Kecamatan Sebatik Barat sebesar 4,737%. Ketahanan pangan rumah tangga petani padi di Desa Binalawan Kecamatan Sebatik Barat dengan nilai TSP sebesar 1,58 yang berarti bahwa kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan konsumsi pangan dari hasil usahatani padi dapat mencukupi kebutuhan setara beras . Kesejahteraan rumah tangga petani di Desa Binalawan Kecamatan Sebatik dengan nilai tingkat daya beli sebesar 2,02 dan GSR sebesar 1,44 yang berarti ekonomi rumah tangga petani padi tergolong kurang sejahtera.