ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tomat tergolong buah klimaterik yaitu buah yang memiliki periode pematangan cepat dan diikuti dengan peningkatan etilen sehingga mengakibatkan buah mengalami pelunakan serta perubahan warna dan rasa. Pelunakan pada buah tomat terkait dengan perubahan fraksi pektin dalam dinding sel. Penghambatan pelunakan buah tomat sangat diperlukan untuk mempertahankan kualitas dan umur siman buah. Salah satu cara untuk menghambat pelunakan buah tomat yakni dengan aplikasi asam sitrat dan penggunaan kemasan yang tepat.tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pencelupan asam sitrat dan jenis kemasan terhadap sifat fisik dan masa simpan buah tomat selama 15 hari penyimpanan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) 2 faktor. Faktor ke 1 yaitu konsentrasi asam sitrat terdiri dari 3 perlakuan yaitu S0= 0%, S1 = 1%, dan S2 = 2%. Faktor ke 2, yaitu jenis kemasan yang terdiri dari K1 = Styrofoam tanpa tutup, K2 = besek bambu, K3 = daun kelapa, dan K4 = kertas. Parameter pengamatan dalam penelitian terdiri dari kadar air,vitamin C,susut bobot,dan kekerasan buah.Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pencelupan asam sitrat konsentrasi 1% (S1) dan 2 % (S2) memberikan pengaruh yang nyata terhadap sifik buah tomat pada parameter kadar air saat pengamatan hari ke- 5-15, Pada vitamin C memberikan pengaruh mulai penyimpanan hari ke-0- hari ke-15. Begitu juga dengan susut bobot saat penyimpanan hari ke-5, hari ke-10, dan hari ke-15. Sedangkan pada kekerasan tekstur buah tomat selama penyimpanan, yaitu pada hari ke-10 dan 15. Perlakuan jenis kemasan memberikan pengaruh yang nyata terhadap sifat fisik buah tomat, yaitu pada parameter kadar air penyimpanan hari ke-5dan ke-10.Dan perlakuan kombinasai konsentrasi pencelupan asam sitrat dan jenis kemasan (SK) tidak memberikan pengaruh terhadap sifat fisik buah tomat di semua umur penyimpanan Tomatoes are classified as climacteric fruits, meaning they undergo a rapid ripening phase followed by increased ethylene production, which leads to softening and changes in color and taste. The softening of tomatoes is related to changes in the pectin fraction within the cell walls. Inhibiting this softening process is essential to maintain the quality and shelf life of tomatoes. One way to delay softening is through citric acid application and the use of appropriate packaging. This study aimed to determine the effect of citric acid dipping and different types of packaging on the physical properties and shelf life of tomatoes during 15 days of storage. The research used a Randomized Block Design (RBD) with two factors. The first factor was citric acid concentration, consisting of three treatments: S0 = 0%, S1 = 1%, and S2 = 2%. The second factor was packaging type, consisting of K1 = uncovered styrofoam, K2 = bamboo basket, K3 = coconut leaves, and K4 = paper. Observed parameters included moisture content, vitamin C, weight loss, and fruit firmness. The results showed that dipping treatments with 1% (S1) and 2% (S2) citric acid had significant effects on tomato physical properties. These effects were observed in moisture content on days 5 to 15, vitamin C from day 0 to day 15, and weight loss on days 5, 10, and 15. A significant effect on fruit firmness was observed on days 10 and 15. The type of packaging also significantly influenced the physical properties of tomatoes, particularly in moisture content on days 5 and 10. However, the combination of citric acid concentration and packaging type did not significantly affect the physical properties of tomatoes at any storage duration
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tomat merupakan salah satu tanaman hortikultura yang telah banyak tersebar dibeberapa negara termasuk Indonesia. Tomat memiliki cita rasa yang unik, yakni perpaduan antara manis dan asam serta memiliki kandungan gizi yang dapat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, sehingga menjadikan tomat banyak disukai oleh masyarakat,. Akan tetapi, tomat memiliki sifat mudah rusak (perishable), mudah terserang mikroba, serta memiliki masa simpan yang relatif pendek sehingga membutuhkan penanganan pasca panen yang tepat melalui edible coating. Salah satu alternatif yang dapat di lakukan adalah dengan menggunakan metode pelilinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian kulit ubi kayu dan cangkang kepiting dengan konsentrasi yang berbeda terhadap masa simpan buah tomat selama 20 hari penyimpanan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) 2 faktor yaitu konsentrasi pati (kulit ubi kayu) yang terdiri dari 4 perlakuan yaitu P0= 0%, P1 = 1%, P2 = 2% dan P3 = 3%. Sedangkan konsentrasi kitosan (cangkang kepiting) yang terdiri dari 4 perlakuan C0 = 0%, C1 = 0,5%, C2 = 1% dan C3 = 1,5% . Parameter pengamatan dalam penelitian ini terdiri dari kadar air, kadar vitamin C dan susut bobot yang diamati setiap 10 hari selama 20 hari penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pati kulit ubi kayu 2% dikombinasi dengan kitosan cangkang kepiting 1% untuk melapisi buah tomat yang disimpan selama 20 hari mampu memperkecil penurunan kadar air dengan nilai dari 93,95% hingga 52,70%, mampu menekan laju penurunan vitamin C dengan nilai dari 39,10% hingga 33,10%, mampu menekan laju susut bobot dengan nilai dari 3,53% hingga 5,53%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Roti merupakan produk pangan berbahan dasar tepung terigu yang di fermentasi dengan ragi atau bahan pengembang lainnya yang diolah dengan cara dipanggang. Roti memiliki umur simpan yang relatif singkat sehingga mudah mengalami kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas bubuk kayu manis sebagai bahan pengawet alami terhadap umur simpan roti. Tahap pertama dalam penelitian ini adalah pembuatan bubuk kayu manis. Setelah itu dilakukan penelitian pendahuluan meliputi penentuan konsentrasi bubuk kayu manis yang dan penentuan formula roti yang digunakan. Di dalam penelitian utama, diketahui konsentrasi bubuk kayu manis yang digunakan yaitu 1%, 2% dan 3%. Sebagai perbandingan, peneliti menambahkan bahan pengawet buatan jenis asam sorbat dan tanpa penambahan konsentrasi bubuk kayu manis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor yaitu penambahan bahan pengawet (0%, 1%, 2%, 3% bubuk kayu manis dan penambahan pengawet buatan jenis asam sorbat) dan lama penyimpanan (5 hari, 10 hari dan 15 hari). Parameter yang diamati adalah Kadar Air, Kadar Abu, Kadar Protein, Uji Mikroba dan pengujian Organoleptik. Berdasarkan hasil perhitungan kadar air roti manis berkisar antara 29,73% hingga 31,66% pada awal penyimpanan, sedangkan pada akhir penyimpanan berkisar antara 27,69% hingga 29,12%. kadar abu roti manis berkisar antara 1,16% hingga 1,53% pada awal penyimpanan, sedangkan pada akhir penyimpanan berkisar antara 0,97% hingga 1,28%. kadar protein roti manis berkisar antara 5,71% hingga 6,05% pada awal penyimpanan, sedangkan pada akhir penyimpanan berkisar antara 5,23% hingga 5,60%. Pada parameter uji mikroba, total kapang terbanyak selama penyimpanan ditemukan pada perlakuan K0 pada masa penyimpanan 15 hari dengan jumlah coloni 2,54 x 107 coloni/g. Hasil pengujian organoleptik paling banyak disukai oleh panelis pada semua perlakuan (K0, K1, K2, K3, dan K4) yaitu pada masa penyimpanan 5 hari dengan kriteria cukup baik sampai sangat baik.