ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini menganalisis karakteristik path loss sinyal LoRa 433 MHz dan mengevaluasi akurasi model propagasi Two Ray Ground, Weissberger, dan COST-235 di lingkungan lahan pertanian cabai tropis. Pengukuran lapangan dilakukan dengan memvariasikan ketinggian antena pada 0 meter dan 1 meter. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan ketinggian antena ke 1 meter secara signifikan menurunkan path loss empiris dari rentang 84–124 dB menjadi 72–105 dB. Evaluasi terhadap ketiga model standar menunjukkan adanya underestimasi redaman yang sangat parah karena tidak mengakomodasi atenuasi vegetasi dan pantulan permukaan tanah. Model Two Ray Ground mencatatkan Root Mean Square Error (RMSE) terendah (sekitar 38–42 dB), namun tetap jauh di atas batas toleransi, sementara model Weissberger dan COST-235 menghasilkan RMSE di atas 55 dB. Disimpulkan bahwa model propagasi standar tidak relevan untuk digunakan secara langsung di lingkungan pertanian tropis. Diperlukan kalibrasi parameter berbasis data lapangan atau pengembangan model empiris baru guna mendukung perencanaan jaringan Wireless Sensor Network (WSN) berbasis LoRa yang andal untuk aplikasi pertanian presisi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis path loss pada jaringan 4G LTE di wilayah Tarakan Barat menggunakan model Ericsson 9999 dan model polinomial kuadratik serta kubik. Pengukuran dilakukan melalui metode drive test pada dua antena sektor BTS yang menghasilkan data jarak dan parameter sinyal RSRP. Data tersebut digunakan untuk menghitung nilai path loss dan memodelkan hubungan antara jarak dan path loss menggunakan pendekatan regresi polinomial. Model Ericsson 9999 digunakan sebagai pembanding (benchmark) untuk menilai kinerja model polinomial. Hasil analisis menunjukkan bahwa model polinomial memberikan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan model Ericsson 9999 pada semua skenario pengukuran. Nilai Root Mean Square Error (RMSE) untuk model polinomial kuadratik adalah 3.58 dB (antena 1), 3.38 dB (antena 2), dan 8.77 dB (gabungan), sedangkan model polinomial kubik menghasilkan RMSE 2.97 dB (antena 1), 3.10 dB (antena 2), dan 8.42 dB (gabungan). Pada data gabungan antena 1 dan antena 2, diperoleh persamaan regresi kuadratik PL=1.2784×10^(-5) x^2-0.0104x+144.3545 dan persamaan regresi kubik PL=1.5387×10^(-7) x^3-2,7106×10^(-4) x^2+0.1431x+120.9511. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa model polinomial, khususnya polinomial kubik, lebih sesuai digunakan untuk memodelkan path loss di wilayah Tarakan Barat. Model Ericsson 9999 tetap memiliki nilai guna sebagai pembanding, namun bukan model utama yang direkomendasikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini menganalisis karakteristik propagasi sinyal 4G LTE di wilayah perkotaan, khususnya di sepanjang Jalan Gajah Mada, Kota Tarakan, dengan menggunakan metode drive test dan pemodelan path loss. Data diperoleh dari 118 titik pengukuran yang merekam nilai RSRP, kemudian dikonversi menjadi path loss untuk dibandingkan dengan hasil perhitungan menggunakan model COST231-Hata dan Walfisch-Ikegami. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai path loss meningkat seiring bertambahnya jarak dari BTS. Pada jarak di bawah 200 meter, sinyal masih berada dalam kondisi baik, sedangkan setelah 350 meter terjadi peningkatan redaman yang signifikan dengan rata-rata path loss sebesar 104,2 dB pada BTS 1 dan 101,6 dB pada BTS 2. Perbandingan model menunjukkan bahwa COST231-Hata menghasilkan prediksi yang cenderung lebih rendah dibandingkan data aktual, dengan nilai RMSE sebesar 18,70 dB pada BTS 1 dan 19,98 dB pada BTS 2. Sementara itu, model Walfisch-Ikegami memberikan hasil yang lebih mendekati kondisi lapangan dengan RMSE sebesar 10,28 dB pada BTS 1 dan 5,54 dB pada BTS 2. Dengan demikian, model Walfisch-Ikegami dinilai lebih akurat dan sesuai digunakan untuk perencanaan jaringan di wilayah urban seperti Kota Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi prediksi path loss (PL) untuk jaringan 4G LTE di lingkungan perkotaan Tarakan, Indonesia. Tiga model propagasi konvensional (Okumura-Hatta, SUI, dan Ericsson 9999) dievaluasi menggunakan data drive test yang dikumpulkan di sepanjang Jalan Yos Sudarso dengan kecepatan 30 km/jam. Hasil drive test menunjukkan bahwa 62,94% kekuatan sinyal (RSRP) di lokasi penelitian tergolong sebagai kategori excellent. Namun, untuk kualitas sinyal (RSRQ), 51,78% berada pada kategori good. Klasifikasi jenis medan berdasarkan model propagasi konvensional menunjukkan bahwa model Okumura-Hatta mengklasifikasikan 77,78% area sebagai suburban, model SUI mengidentifikasi seluruh area sebagai terrain B, dan model Ericsson 9999 mengelompokkan seluruh area sebagai urban. Evaluasi awal menunjukkan nilai RMSE yang tinggi, yaitu 56,64 dB, 61,56 dB, dan 74,17 dB, yang secara signifikan melebihi ambang toleransi sebesar 8 dB. Untuk mengatasi hal ini, algoritma Particle Swarm Optimization (PSO) diterapkan dan menghasilkan peningkatan akurasi yang signifikan pada semua model. Di antara ketiganya, model Okumura-Hatta menunjukkan performa paling konsisten, dengan standar deviasi terendah (3,18 dB) dan 77,78% Cell ID mencapai RMSE ≤ 8 dB, menjadikannya model yang paling andal untuk digunakan di wilayah Tarakan Tengah.