Abstrak
Penelitian ini menganalisis karakteristik propagasi sinyal 4G LTE di wilayah perkotaan, khususnya di sepanjang Jalan Gajah Mada, Kota Tarakan, dengan menggunakan metode drive test dan pemodelan path loss. Data diperoleh dari 118 titik pengukuran yang merekam nilai RSRP, kemudian dikonversi menjadi path loss untuk dibandingkan dengan hasil perhitungan menggunakan model COST231-Hata dan Walfisch-Ikegami. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai path loss meningkat seiring bertambahnya jarak dari BTS. Pada jarak di bawah 200 meter, sinyal masih berada dalam kondisi baik, sedangkan setelah 350 meter terjadi peningkatan redaman yang signifikan dengan rata-rata path loss sebesar 104,2 dB pada BTS 1 dan 101,6 dB pada BTS 2. Perbandingan model menunjukkan bahwa COST231-Hata menghasilkan prediksi yang cenderung lebih rendah dibandingkan data aktual, dengan nilai RMSE sebesar 18,70 dB pada BTS 1 dan 19,98 dB pada BTS 2. Sementara itu, model Walfisch-Ikegami memberikan hasil yang lebih mendekati kondisi lapangan dengan RMSE sebesar 10,28 dB pada BTS 1 dan 5,54 dB pada BTS 2. Dengan demikian, model Walfisch-Ikegami dinilai lebih akurat dan sesuai digunakan untuk perencanaan jaringan di wilayah urban seperti Kota Tarakan.