ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sarapan merupakan salah satu kebiasaan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan energi dan mendukung fungsi otak selama proses pembelajaran. Namun, masih terdapat mahasiswa yang memiliki kebiasaan sarapan yang belum optimal dan mengalami kesulitan berkonsentrasi saat mengikuti perkuliahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan dengan tingkat konsentrasi belajar mahasiswa baru angkatan 2025 Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 2.158 mahasiswa baru angkatan 2025 dengan sampel sebanyak 371 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Kebiasaan sarapan diukur menggunakan kuesioner kebiasaan sarapan, sedangkan tingkat konsentrasi belajar diukur menggunakan Student Learning Concentration Questionnaire Indeks (SLCQI). Analisis hubungan kedua variabel menggunakan uji korelasi Spearman Rank karena kedua variabel berskala ordinal. Sebagian besar responden memiliki kebiasaan sarapan kategori baik sebayak 182 responden, kategori cukup sebanyak 180 responden, dan kategori kurang sebanyak 9 responden. Tingkat konsentrasi belajar sebagian besar berada pada kategori rendah sebanyak 193 responden, kategori sedang 148 responden, dan kategori tinggi 30 responden. Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,049 dengan p-value 0,349 (p>0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan sarapan dengan tingkat konsentrasi belajar mahasiswa baru Universitas Borneo Tarakan. Hubungan yang ditemukan bersifat positif tetapi sangat lemah, sehingga tingkat konsentrasi belajar kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain selain kebiasaan sarapan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penegakan hukum terhadap mahasiswa baru terhadap korban penganiayaan mahasiswa baru selama masa pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru. Serta untuk mengetahui jenis-jenis perlindungan hukum terhadap korban penganiayaan mahasiswa baru selama penerimaan mahasiswa baru dan bagaimana mekanisme perlindungan dan penegakan hukum terhadap tindak pidana penganiayaan mahasiswa baru selama penerimaan mahasiswa baru. Seluruh data yang diperoleh dalam penelitian, baik data primer dan data sekunder akan dianalisis secara analisis kualitatif. Selain itu dideskripsikan, dengan menelaah permasalahan yang ada, mengambarkan, menguraikan hingga menjelaskan permasalahan-permasalahan untuk memperoleh gambaran yang baik, jelas, dan memberikan selengkap mungkin tentang objek yang diteliti dalam hal ini menggambarkan bagaimana penegakan hukum terhadap korban penganiayaan mahasiswa baru selama masa pengenalan kehidupan mahasiswa baru. Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis berkesimpulan bahwa penegakan hukum terhadap mahasiswa baru terhadap korban penganiayaan mahasiswa baru selama masa pengenalan kehidupan mahasiswa baru ialah penegasan perlindungan preventif dan perlindungan represif serta bagaimana mekanisme perlindungan dan penegakan hukum tersebut sebagai upaya pecegahan dan penanganan agar tidak terjadi lagi tindak pidana penganiyaan mahasiswa baru selama masa pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tinjauan kriminologi terhadap tindak pidana penganiayaan mahasiswa baru dalam kegiatan pengenalan kehidupan kampus bagai mahasiswa baru di Universitas Borneo Tarakan yang menjadi faktor penyebab seseorang melakukan tindak penganiayaan terhadap mahasiswa baru. Serta upaya pencegahan dan penanggulangan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya tindak pidana penganiayaan. Seluruh data yang diperoleh dalam penelitian, baik primer dan data sekunder akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif. Selain itu, dideskripsikan, dengan menelaah permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan penelitian ini. Penggunaan metode dideskriptif ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang baik, jelas dan dapat memberikan sedetail mungkin tentang objek yang diteliti, dalam hal ini menggambarkan bagaimana faktor yang mempengaruhi terjadinya tindak pidana penganiayaan terhadap mahasiswa baru. Pada penelitian ini penulis memilih lokasi penelitian di Universitas Borneo Tarakan. Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis berkesimpulan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya tindak pidana penganiayaan terhadap mahasiswa baru dalam kegiatan pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru, faktor tersebut, yakni tradisi, doktrin, seorang pelaku yang menjadi korban, lingkungan keluarga, dan unjuk senior atau dinamika senior. Peran universitas dalam pencegahan dan penanggulangan merupakan peran yang sangat penting untuk mencegah terjadinya tindak penganiayaan terhadap mahasiswa baru.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesehatan mental mahasiswa baru perantau merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan, terutama dalam proses adaptasi terhadap lingkungan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor kesehatan mental mahasiswa baru perantau di Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 299 mahasiswa baru perantau yang dipilih dengan teknik insidental sampling. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini, faktor biologis diukur melalui identifikasi riwayat penyakit, faktor psikologis diukur menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS-21), faktor sosial budaya yang dinilai berdasarkan suku dan tempat asal responden serta faktor lingkungan diukur melalui kuesioner yang disusun oleh peneliti berdasarkan indikator kondisi lingkungan tempat tinggal mahasiswa baru perantau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor biologis mayoritas mahasiswa baru perantau berada dalam kondisi kesehatan fisik yang baik. Faktor psikologis mahasiswa baru perantau pada skor total responden bahwa mayoritas responden dalam kategori Sedang (38,7%), diikuti tingkat depresi mayoritas responden dalam kategori Sedang (49,8%), tingkat kecemasan mayoritas responden dalam kategori Sedang (37,5%) dan tingkat stres mayoritas responden dalam kategori Normal (65,9%). Faktor sosial budaya menggambarkan bahwa mahasiswa baru perantau berasal dari berbagai suku dan tempat asal, dengan mayoritas berasal dari suku Bugis dan Jawa serta tempat asal Nunukan/Sebatik. Sementara itu, faktor lingkungan menunjukkan bahwa mayoritas responden berada dalam kategori lingkungan mendukung. Hasil penelitian ini memberikan gambaran tentang kondisi kesehatan mental mahasiswa baru perantau dan dapat menjadi acuan bagi institusi pendidikan dalam menyediakan dukungan yang lebih optimal bagi mahasiswa baru agar dapat beradaptasi dengan baik.