ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kualitas air merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan budidaya udang windu (Penaeus monodon), terutama pada tambak tradisional yang pengelolaan airnya bergantung pada pasang surut alami. Penelitian ini bertujuan mengkaji kondisi kualitas air pemeliharaan udang windu pada tambak tradisional di Pulau Tekolang, Desa Sajau Hilir, Kabupaten Bulungan, yang dilaksanakan pada Januari–Maret 2026 di tiga petak tambak menggunakan metode survei deskriptif kuantitatif. Parameter yang diamati meliputi suhu, salinitas, kecerahan, oksigen terlarut (DO), pH, alkalinitas, amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat, yang dibandingkan dengan baku mutu budidaya udang windu berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 75 Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata suhu 30,1–30,4 °C, salinitas 15,6 ppt, dan kecerahan 33–34 cm masih mendukung budidaya. Nilai rata-rata pH berkisar 7,6–8,1 dan DO 4,6–4,8 mg/L, meskipun DO minimum pada beberapa pengamatan mencapai 2,8 mg/L. Alkalinitas berfluktuasi cukup tinggi, khususnya pada Petak 1 dan Petak 3. Amonia menjadi parameter paling kritis dengan rata-rata 0,24 mg/L (Petak 1), 0,09 mg/L (Petak 2), dan 0,06 mg/L (Petak 3), sehingga seluruh petak melebihi baku mutu 0,01 mg/L. Nitrit juga melampaui baku mutu pada sejumlah periode pengamatan, terutama di Petak 2 dan Petak 3. Rata-rata nitrat sebesar 0,57 mg/L (Petak 1), 0,39 mg/L (Petak 2), dan 0,81 mg/L (Petak 3), dengan Petak 3 menunjukkan akumulasi tertinggi. Sebaliknya, rata-rata fosfat relatif rendah (0,062–0,086 mg/L) dan umumnya belum mencapai standar minimal 0,1 mg/L. Secara umum, kondisi fisik air mendukung pemeliharaan udang windu, sedangkan akumulasi senyawa nitrogen, fluktuasi alkalinitas, rendahnya DO pada periode tertentu, dan rendahnya fosfat menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan tambak tradisional. Pengelolaan bahan organik dasar, pengapuran sesuai kebutuhan, pergantian air pasang surut terencana, serta pemantauan kualitas air rutin diperlukan untuk menjaga kestabilan lingkungan budidaya. Kata kunci: kualitas air; udang windu; tambak tradisional; senyawa nitrogen; Pulau Tekolang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sumber air tambak tradisional mengandalkan pasang surut air laut sedangkan wilayah pesisir Kota Tarakan terdapat berbagai aktivitas manusia seperti permukiman, pusat komersial, pelabuhan, industri, transportasi dan tempat penjualan bahan bakar minyak (BBM). Aktivitas tersebut berpotensi menghasilkan limbah logam berat yang dapat mencemari laut dan tambak tradisonal. Tujuan penelitian adalah menganalisis kandungan logam Pb, Cd, Cu pada air, sedimen dan udang windu (Penaeus monodon) di tambak tradisional Kota Tarakan. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan dari bulan Desember 2023-Februari 2024 di Kecamatan Tarakan Barat dan Kecamatan Tarakan Timur Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan yaitu membandingkan standar baku mutu berdasarkan Permen KP. No. 75 tahun 2016, PP No. 22 tahun 2021, ANZECC tahun 2000 dan SNI 7387-2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kandungan logam berat pada 3 titik sampling di tambak Tarakan Barat untuk logam Pb, Cd, dan Cu di air yaitu 0,004-0,002 mg/l, 0,001 mg/l, dan 0,005-0,004 mg/l; di sedimen yaitu 2,66-5,08 mg/kg, 0,02-0,04 mg/kg, dan 2,56-3,25 mg/kg; di udang windu yaitu 0,07-0,17 mg/kg, 0,01 mg/kg dan 0,02 mg/kg. Sementara rata-rata kandungan logam Pb, Cd, Cu di tambak Tarakan Timur pada 3 titik sampling di air yaitu 0,002-0,004 mg/l, 0,002-0,007 mg/l, dan 0,002-0,006 mg/l; di sedimen yaitu 2,28-2,54 mg/kg, 0,046-0,04 mg/kg, dan 2,13-3 mg/kg; dan di udang windu yaitu 0,17-0,19 mg/kg, 0,01 mg/kg dan 0,02 mg/kg. Secara keseluruhan kandungan logam berat Pb, Cd, dan Cu di air, sedimen dan udang windu masih sesuai standar baku mutu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Kota Tarakan mempunyai luas 657,33 km², 61,8% atau sekitar 406,53 km² berupa lautan sehingga potensi kelautan dan perikanan sangat menjanjikan untuk dikembangkan. Selain lautan, Tarakan memiliki potensi perikanan seperti tambak tradisional untuk kegiatan budidaya khususnya udang windu. Mineral merupakan komponen yang diperlukan oleh udang windu, meskipun hanya dalam jumlah kecil. Namun, informasi mengenai hubungan ketersediaan mineral dan kegiatan budidaya udang windu masing sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memonitor kualitas air yang tersedia pada tambak udang windu (Penaeus monodon). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Juli, terdapat 2 lokasi yang berbeda yaitu di Kecamatan Tarakan barat dan Tarakan timur Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan metode eksploratif dan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Dari penelitian ini telah didapatkan nilai ukur pada Nitrat, Nitrit, Amoniak, Fosfat dan Keasadahan yang dimana baik hasil dari tambak 1 maupun tambak 2 memenuhi baku mutu untuk kegiatan budidaya. Pada Tambak 1 diperoleh nilai Nitrat 0.1-0,4 mg/L, Nitrit 0-0,4 mg/L, Amoniak 0,1-0,4 mg/L, Fosfat 0-0,4 mg/L dan Kesadahan 0,17-0,41 mg/L. pada Tambak 2 diperoleh nilai Nitrat 0.1-0,3 mg/L, Nitrit 0-0,3 mg/L, Amoniak 0-0,3 mg/L, Fosfat 0-0,4 mg/L dan Kesadahan 0,25-0,30 mg/L. dimana nilai untuk kualitas air ini tidak berbahaya bagi tambak budidaya udang windu. Kisaran nilai kualitas air (suhu, salinitas, pH, dan oksigen terlarut) pada semua tambak tergolong layak untuk budidaya udang windu. Kualitas air tambak tidak memberi pengaruh signifikan dalam budidaya. Hasil panen yang diperoleh di Tambak 1 sebesar 90 kg, sedangkan di Tambak 2 tidak dilakukan pemanenan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Beragamnya aktivitas manusia sepanjang aliran sungai menyebabkan pencemaran terhadap sungai semakin meningkat, salah satunya yakni buangan limbah domestik. Sungai merupakan tempat buangan limbah dari berbagai aktifitas daratan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kondisi kualitas air dari aspek parameter fisika dan kimia di Sungai Sesayap Kabupaten Tana Tidung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Storet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kualitas air pada Sungai desa Tideng Pale parameter suhu berkisar antar 25-32 oC, salinitas berkisar 7-15 ppt, kekeruhan berkisar 1,15-4,43 mg/L, kecerahan berkisar 95-125 cm, pH berkisar 7,2-7,7, fosfat berkisar 0,006-0,063 mg/L, amonia berkisar 0,038-0,449 mg/L, nitrat berkisar 0,22-0,28 mg/L, DO berkisar 3,10-4,52 mg/L, BOD berkisar 1,12-2,17 mg/L dan pada Sungai Desa Sesayap parameter suhu berkisar 20-30 oC, salinitas berkisar 8-15 ppt, kekeruhan berkisar 1,99-3,75 NTU, kecerahan berkisar 100-135 cm, pH berkisar 6,2-7,4, fosfat berkisar 0,025-0,038 mg/L, amonia berkisar 0,063-0,409 mg/L, nitrat 0,23-0,26 mg/L, DO berkisar 3,25-4,57 mg/L, BOD berkisar 1,23-2,23 mg/L sedangkan pada Sungai Desa Bebatu parameter suhu berkisar 22-36 oC, salinitas berkisar 10-25 ppt, kekeruhan berkisar 2,13-4,19 NTU, kecerahan berkisar 110-130 cm, pH berkisar 6-7,8, fosfat berkisar 0,010-0,30 mg/L, amonia berkisar 0,065-0,525 mg/L, nitrat berkisar 0,26-0,30 mg/L, DO berkisar 3,10-4,60 mg/L, BOD berkisar 1,17-2,23 mg/L. berdasarkan penelitian tersbut bahwa kondisi kualitas air masih tergolong baik.