BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat serta tingkat penerapan good governance dalam pengelolaan Dana Desa di Desa Gunung Sari, Kecamatan Tanjung Selor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data primer yang diperoleh melalui kuesioner yang dibagikan kepada 88 responden. Instrumen penelitian terdiri dari 36 pernyataan yang mencakup aspek akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Dana Desa. Pengukuran variabel dilakukan menggunakan skala Likert, sedangkan analisis data deskriptif dilakukan dengan membandingkan skor aktual dengan nilai ideal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akuntabilitas dalam pengelolaan Dana Desa memperoleh persentase sebesar 84,36% dan berada pada kategori sangat kuat. Transparansi memperoleh persentase sebesar 83,18% dan termasuk dalam kategori sangat kuat. Partisipasi masyarakat memperoleh persentase sebesar 86,27% dengan kategori sangat kuat dan menjadi aspek dengan persentase tertinggi. Secara keseluruhan, tingkat penerapan good governance dalam pengelolaan Dana Desa memperoleh skor rata-rata sebesar 84,60% dan berada pada kategori sangat kuat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan Dana Desa di Desa Gunung Sari telah menerapkan prinsip good governance melalui akuntabilitas pemerintah desa, keterbukaan informasi, serta keterlibatan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi pengelolaan Dana Desa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat serta tingkat penerapan good governance dalam pengelolaan Dana Desa di Desa Gunung Sari, Kecamatan Tanjung Selor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data primer yang diperoleh melalui kuesioner yang dibagikan kepada 88 responden. Instrumen penelitian terdiri dari 36 pernyataan yang mencakup aspek akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Dana Desa. Pengukuran variabel dilakukan menggunakan skala Likert, sedangkan analisis data deskriptif dilakukan dengan membandingkan skor aktual dengan nilai ideal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akuntabilitas dalam pengelolaan Dana Desa memperoleh persentase sebesar 84,36% dan berada pada kategori sangat kuat. Transparansi memperoleh persentase sebesar 83,18% dan termasuk dalam kategori sangat kuat. Partisipasi masyarakat memperoleh persentase sebesar 86,27% dengan kategori sangat kuat dan menjadi aspek dengan persentase tertinggi. Secara keseluruhan, tingkat penerapan good governance dalam pengelolaan Dana Desa memperoleh skor rata-rata sebesar 84,60% dan berada pada kategori sangat kuat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan Dana Desa di Desa Gunung Sari telah menerapkan prinsip good governance melalui akuntabilitas pemerintah desa, keterbukaan informasi, serta keterlibatan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi pengelolaan Dana Desa.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Abstrak Peran kepala sekolah sebagai pendidik (educator) harus mampu meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan kinerja guru, seperti kemampuan kepala sekolah membimbing guru terutama dalam hal yang berkaitan dengan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran. Mengingat pentingnya peran kepala sekolah sebagai pendidik (educator) maka penelitian ini berfokus pada peran kepala sekolah sebagai pendidik (educator) dalam meningkatkan kinerja guru di SD Negeri 011 Tarakan. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Adapun sumber data pada penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder dengan informan yaitu kepala sekolah, pengawas sekolah, dan guru kelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi dokumen. Serta menggunakan teknik analisis data kualitatif melalui proses reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kepala sekolah SD Negeri 011 Tarakan telah melaksanakan perannya sebagai pendidik (educator) dalam meningkatkan kinerja guru yaitu: (1) sebagai pendidik (educator) dengan membimbing guru pada proses perencanaan pembelajaran yang dapat dilihat melalui adanya kalender pendidikan, buku kurikulum, program tahunan, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), (2) sebagai pendidik (educator) dengan membimbing guru pada proses pelaksanaan pembelajaran yang dapat dilihat melalui supervisi kelas yang dilakukan kepala sekolah dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yang memuat strategi, media pembelajaran, model pembelajaran, (3) sebagai pendidik (educator) dengan membimbing guru pada proses evaluasi pembelajaran yang dapat dilihat melalui kegiatan rapat yang diadakan kepala sekolah untuk mengevaluasi pembelajaran dan menyediakan buku yang digunakan guru dalam pembelajaran.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Peran kepala sekolah sebagai pendidik (educator) harus mampu meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan kinerja guru, seperti kemampuan kepala sekolah membimbing guru terutama dalam hal yang berkaitan dengan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran. Mengingat pentingnya peran kepala sekolah sebagai pendidik (educator) maka penelitian ini berfokus pada peran kepala sekolah sebagai pendidik (educator) dalam meningkatkan kinerja guru di SD Negeri 011 Tarakan. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Adapun sumber data pada penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder dengan informan yaitu kepala sekolah, pengawas sekolah, dan guru kelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi dokumen. Serta menggunakan teknik analisis data kualitatif melalui proses reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kepala sekolah SD Negeri 011 Tarakan telah melaksanakan perannya sebagai pendidik (educator) dalam meningkatkan kinerja guru yaitu: (1) sebagai pendidik (educator) dengan membimbing guru pada proses perencanaan pembelajaran yang dapat dilihat melalui adanya kalender pendidikan, buku kurikulum, program tahunan, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), (2) sebagai pendidik (educator) dengan membimbing guru pada proses pelaksanaan pembelajaran yang dapat dilihat melalui supervisi kelas yang dilakukan kepala sekolah dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yang memuat strategi, media pembelajaran, model pembelajaran, (3) sebagai pendidik (educator) dengan membimbing guru pada proses evaluasi pembelajaran yang dapat dilihat melalui kegiatan rapat yang diadakan kepala sekolah untuk mengevaluasi pembelajaran dan menyediakan buku yang digunakan guru dalam pembelajaran.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Literasi sains adalah kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Literasi sains penting untuk dikuasai oleh siswa agar dapat memahami lingkungan hidup, kesehatan,ekonomi dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern yang sangat bergantung pada teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kemampuan literasi sains siswa kelas X MIA SMA di Kota Tarakan. Kemampuan literasi sains diukur menggunakan tiga indikator dalam aspek kompetensi yaitu mengidentifikasi permasalahan ilmiah, menjelaskan fenomena secara ilmiah dan menggunakan bukti ilmiah. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Hang Tuah Tarakan yang berjumlah 3 kelas dan siswa kelas X SMA Negeri 3 Tarakan yang berjumlah 3 kelas, dengan total siswa berjumlah 190 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains siswa kelas X di SMA Hang Tuah Tarakan termasuk dalam kategori “Kurang” dengan nilai rata-rata sebesar 57,72. Adapun nilai pada aspek mengidentifikasi permasalahan ilmiah memperoleh nilai rata-rata 62,11 termasuk dalam kategori cukup, pada aspek menjelaskan fenomena secara ilmiah memperoleh nilai rata-rata sebesar 48,91 termasuk dalam kategori sangat kurang dan untuk aspek menggunakan bukti ilmiah memperoleh nilai rata-rata sebesar 63,09 dengan kategori cukup. Hasil penelitian pada siswa Kelas X SMA Negeri 3 Tarakan menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains siswa termasuk dalam kategori “Cukup” dengan nilai rata-rata sebesar 67,72. Adapun nilai pada aspek mengidentifikasi permasalahan ilmiah memperoleh nilai rata-rata 67,40 termasuk dalam kategori cukup, pada aspek menjelaskan fenomenan secara ilmiah memperoleh nilai rata-rata 56,88 termasuk dalam kategori kurang dan untuk aspek menggunakan bukti ilmiah memperoleh nilai rata-rata sebesar 63,87 termasuk dalam kategori cukup. Scientifik literacy was defined as the ability to apply scientific knowledeg, identifity problems, and draw conclusions based on facts in order to comperehend and make judgments about nature and the changes caused by human activity. Scientific literacy was critical for students to comperhend environment, health, economy, and other issues confronting modern society, which is heavily reliant on technology and scientific advancements. The purpose of this study was to analyze the scientific literacy skills of ten grade students in MIA SMA Tarakan. Scientific literacy skills was measured using three indicator of the aspect of compentence, namely identifying scientific problems, explaining phenomena scientifically and using scientific problems. The sample for this study werw students in class ten at SMA Hang Tuah Tarakan, consisting of three classes, and student in class ten at SMA Negeri 3 Tarakan, consisting of three classes, for a total of 190 students. The results showed that tenth grade students at SMA Hang Tuah Tarakan had an average score of 57.72 for scientific literacy. The aspect of identifying scientific problems got on an average score of 62.11, categorize as “sufficient” , the aspect of scientifically explaining the phenomenon got on average score of 48.91, categorized as “very poor” , and the aspect of using scientific evidence got on average score of 63.09, categorized as “ sufficients”. While, the result at tenth grade students in SMA Negeri 3 Tarakan revealed that student’s scientific literacy skills werw categorized as “Enough”, wit in average score of 67.72. The average value for identifying scientific problems was 67.40, categorized as “sufficient”, the average score for aspect of explaining phenomena scientifically was 56.88, categorized as “less”, and the average score for scientific evidence was 63.87, categorized as “sufficient”.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Literasi sains adalah kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Literasi sains penting untuk dikuasai oleh siswa agar dapat memahami lingkungan hidup, kesehatan,ekonomi dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern yang sangat bergantung pada teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kemampuan literasi sains siswa kelas X MIA SMA di Kota Tarakan. Kemampuan literasi sains diukur menggunakan tiga indikator dalam aspek kompetensi yaitu mengidentifikasi permasalahan ilmiah, menjelaskan fenomena secara ilmiah dan menggunakan bukti ilmiah. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Hang Tuah Tarakan yang berjumlah 3 kelas dan siswa kelas X SMA Negeri 3 Tarakan yang berjumlah 3 kelas, dengan total siswa berjumlah 190 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains siswa kelas X di SMA Hang Tuah Tarakan termasuk dalam kategori “Kurang” dengan nilai rata-rata sebesar 57,72. Adapun nilai pada aspek mengidentifikasi permasalahan ilmiah memperoleh nilai rata-rata 62,11 termasuk dalam kategori cukup, pada aspek menjelaskan fenomena secara ilmiah memperoleh nilai rata-rata sebesar 48,91 termasuk dalam kategori sangat kurang dan untuk aspek menggunakan bukti ilmiah memperoleh nilai rata-rata sebesar 63,09 dengan kategori cukup. Hasil penelitian pada siswa Kelas X SMA Negeri 3 Tarakan menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains siswa termasuk dalam kategori “Cukup” dengan nilai rata-rata sebesar 67,72. Adapun nilai pada aspek mengidentifikasi permasalahan ilmiah memperoleh nilai rata-rata 67,40 termasuk dalam kategori cukup, pada aspek menjelaskan fenomenan secara ilmiah memperoleh nilai rata-rata 56,88 termasuk dalam kategori kurang dan untuk aspek menggunakan bukti ilmiah memperoleh nilai rata-rata sebesar 63,87 termasuk dalam kategori cukup. Scientifik literacy was defined as the ability to apply scientific knowledeg, identifity problems, and draw conclusions based on facts in order to comperehend and make judgments about nature and the changes caused by human activity. Scientific literacy was critical for students to comperhend environment, health, economy, and other issues confronting modern society, which is heavily reliant on technology and scientific advancements. The purpose of this study was to analyze the scientific literacy skills of ten grade students in MIA SMA Tarakan. Scientific literacy skills was measured using three indicator of the aspect of compentence, namely identifying scientific problems, explaining phenomena scientifically and using scientific problems. The sample for this study werw students in class ten at SMA Hang Tuah Tarakan, consisting of three classes, and student in class ten at SMA Negeri 3 Tarakan, consisting of three classes, for a total of 190 students. The results showed that tenth grade students at SMA Hang Tuah Tarakan had an average score of 57.72 for scientific literacy. The aspect of identifying scientific problems got on an average score of 62.11, categorize as “sufficient” , the aspect of scientifically explaining the phenomenon got on average score of 48.91, categorized as “very poor” , and the aspect of using scientific evidence got on average score of 63.09, categorized as “ sufficients”. While, the result at tenth grade students in SMA Negeri 3 Tarakan revealed that student’s scientific literacy skills werw categorized as “Enough”, wit in average score of 67.72. The average value for identifying scientific problems was 67.40, categorized as “sufficient”, the average score for aspect of explaining phenomena scientifically was 56.88, categorized as “less”, and the average score for scientific evidence was 63.87, categorized as “sufficient”.