PERENCANAAN SUMUR RESAPAN UNTUK PEMANENAN AIR HUJAN DI GEDUNG LABORATORIUM TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
.
COLLECTION
Koleksi otomatis dari Perpustakaan
.
Pneumonia adalah infeksi pada sistem pernapasan tepatnya di bronkus dan alveolus. Pneumonia pada umumnya disebabkan oleh baktteri Streptococcus pneumoniae. Penularan pneumonia lebih rentan terjadi pada anak-anak dikarenakan sistem imun yang belum terbentuk sempurna. Oleh karena itu, penelitian ini tertarik dilakukan penulis untuk memperoleh pengalaman dalam mengaplikasikan asuhan keperawatan pada anak dengan pneumonia. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Subjek studi yang digunakan adalah 2 orang pasien anak dengan pneumonia. Penulis menguraikan pembahasan terkait adanya kesesuaian maupun kesenjangan antara teori dan hasil asuhan keperawatan pada pasien 1 dan 2 dengan pneumonia. Hasil pengkajian diperoleh keluhan utama yang sama yaitu pasien mengeluh demam disertai batuk berdahak. Hasil analisa data diperoleh masalah keperawatan pada pasien 1 yaitu hipertermia, diare, bersihan jalan napas tidak efektif, gangguan rasa nyaman, dan ansietas, sedangkan pada pasien 2 yaitu hipertermia, bersihan jalan napas tidak efektif, risiko hipovolemia, gangguan rasa nyaman, dan ansietas. Hasil studi kasus didapatkan bahwa kedua pasien memiliki urutan prioritas masalah keperawatan yang tidak sama sehingga penyusunan dan pelaksanaan intervensi pada kedua pasien berbeda. Hasil studi kasus diharapkan penulis mampu mempersiapkan intervensi strategi pelaksanaan yang lebih baik kedepannya.
Pendahuluan: pada studi kasus ini peneliti melakukan penerapan asuhan keperawatan pada pasien 1 dan pasien 2 dengan pneumonia yang menjalani masa perawatan di RSUD dr. H. JUSUF SK. Tujuan: tujuan studi kasus ini yaitu melakukan perbandingan asuhan keperawatan antara pasien 1 dan pasien 2 dengan pneumonia. Metode: pada studi kasus ini peneliti melakukan pengumpulan data melalui wawancara maupun pemeriksaan fisik (head to toe) dengan hasil anamnesis pasien 1 mengalami sesak napas, sulit melakukan aktivitas akibat sesak, kurang melakukan perawatan diri akibat kondisi, serta mengalami penurunan selera makan, sedangkan pada pasien 2 ditemukan data sesak napas, nyeri pada perut, edema pada ekstremitas, kurang melakukan perawatan diri akibat kondisi, dan mengalami penurunan selera makan. Hasil: adapun hasil pada studi kasus ini peneliti telah menentukan beberapa masalah keperawatan yang sesuai dengan panduan SDKI dan berdasarkan hasil anamnesis serta pemeriksaan fisik yaitu pola napas tidak efektif (D.0005), intoleransi aktivitas (D.0056), nyeri akut (D.0077), hipervolemia (D.0022), defisit perawatan diri (D.0109), dan risiko defisit nutrisi (D.0033). Kesimpulan: pada hasil penelitian ini peneliti telah memberikan gambaran mengenai asuhan keperawatan pada pasien 1 dan pasien 2 dengan pneumonia menggunakan format pengkajian KMB serta buku panduan SDKI, SLKI, dan SIKI sehingga peneliti dapat menemukan perbedaan kondisi kesehatan yang dialami oleh masing-masing pasien serta perumusan masalah hingga evaluasi keperawatan yang berbeda, dan dalam hal ini peneliti dapat melakukan perbandingan asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien 1 dan pasien 2. Saran: Dalam hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah masukan dan pembelajaran dalam meningkatkan pengetahuan serta wawasan bagi masyarakat terutama mahasiswa kesehatan mengenai penyakit pneumonia, serta dapat menambah keluasan ilmu dalam penerapan bidang keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, dan memperoleh pengalaman dalam menerapkan asuhan keperawatan khususnya asuhan keperawatan pada pasien dengan pneumonia.
Cephalopelvic Disproportion (CPD) adalah salah satu komplikasi yang mengharuskan tindakan sectio caesarea. CPD adalah disproporsi antara ukuran janin dan ukuran pelvis, yakni ukuran pelvis tertentu tidak cukup besar untuk mengakomodasi keluarnya janin tertentu melalui pelvis sampai terjadi kelahiran pervaginam. CPD timbul karena berkurangnya ukuran panggul, ukuran janin terlalu besar (makrosomia), atau yang lebih umum, dan karena kombinasi keduanya. Masalah CPD bukan hanya berdampak kepada ibu yang akan melahirkan namun juga pada keselamatan bayi. Apabila tidak ditangani secara efektif dapat menyebabkan kematian pada ibu dan janin. Oleh karena itu, penulis melakukan studi kasus dengan melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung ada Ny. P dan Ny. M yang terdiagnosis CPD dan sedang menjalani perawatan di Ruang Mawar RSUD dr. H. Jusuf SK. Pelaksanaan studi kasus bertujuan untuk melakukan perbandingan asuhan keperawatan antara Ny. P dan Ny. M. Dalam studi kasus ini penulis menemukan adanya perbedaan hasil penatalaksanaan dari kedua pasien. Pada hasil penelitian ini dapat di simpulkan CPD merupakan salah satu dari komplikasi atau penyulit persalinan yang dapat dilakukan tindakan SC. Oleh sebab itu, penulis melakukan pengkajian sesuai dengan standar keperawatan dan melaksanakan tindakan keperawatan yang tepat akan membantu proses pemulihan pasien dengan baik.
Stroke merupakan sindrom defisit neurologis akut dan fokal yang secara mendadak disebabkan oleh gangguan perfusi melalui pembuluh darah ke otak. Terdapat dua jenis stroke yaitu non hemoragik stroke dan hemoragik stroke. Stroke non hemoragik disebabkan oleh adanya penyumbatan akibat gumpalan aliran darah ke otak terhenti. Dapat menyebabkan gejala klinis seperti kelumpuhan dan kelemahan pada beberapa bagian tubuh, Kesulitan berbicara (cedal dan pelo), Gangguan penglihatan, Penurunan daya ingat, Perubahan pada bentuk mulut (mencong atau tidak simetris), Nyeri kepala, Gangguan fungsi otak, Kesadaran menurun. Apabila tidak ditangani secara efektif maka akan menimbulkan komplikasi seperti dekubitus, tekanan intrakranial meningkat, aspirasi, dan gagal napas. Pasien dengan penyakit non hemoragik stroke diperlukan perawatan klinis yang efektif agar proses pemulihan berlangsung dengan cepat tanpa terjadinya komplikasi sehingga dapat kembali melakukan aktivitas dengan leluasa. Oleh karena itu, penulis melakukan studi kasus dengan malaksanakan asuhan keperawatan secara langsung pada Ny. M dan Ny. T yang terdiagnosis Non Hemoragik Stroke dan sedang menjalani perawatan di ruang Dahlia RSUD dr. H. JUSUF SK. Pelaksanaan studi kasus bertujuan untuk melakukan perbandingan asuhan keperawatan antara Ny. M dan Ny. T. Dalam studi kasus ini penulis menemukan adanya perbedaan tingkat kebutuhan pasien sehingga membutuhkan perawatan yang berbeda kepada kedua pasien. pada hasil penelitian ini disimpulkan stroke dapat menimbulkan obstruksi pada aliran darah ke otak sehingga menyebabkan bekuan pada darah. Jika tidak mendapat pertolongan dan penanganan yang cepat, NHS dapat menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak area yang disuplai, sehingga mengakibatkan penderita mengalami kelumpuhan atau bahkan kematian. Oleh sebab itu, melakukan pengkajian sesuai dengan standar keperawatan dan melaksanakan tindakan keperawatan yang tepat akan membantu proses pemulihan pasien dengan baik.
Skizofernia adalah suatu sindrom, gangguan psikologis, atau episode klinis yang mempengaruhi seseorang dan berhubungan dengan tekanan, kecacatan, atau pelepasan dari faktor risiko apa pun yang semakin parah dan mencakup ketidakmampuan, kehilangan kebebasan, sakit atau, bahkan kehilangan nyawa. Halusinasi adalah distorsi persepsi palsu yang disebabkan oleh respons neurobiologis yang maladaptif, seseorang yang terkena dampak benar-benar mengalami distorsi sensorik sebagai hal yang nyata dan bereaksi terhadapnya. Tujuan penulisan ini adalah mendapatkan gambaran pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran. Metode penulisan ini menggunakan penelitian deskriptif. Peneliti melakukan asuhan keperawatan pada dua orang pasien dengan gangguan jiwa. Hasil yang didapatkan terdapat tiga diagnosis keperawatan yang sama yang ditegakkan pada klien satu dan klien dua dan satu diagnosisi yang berbeda pada klien satu dan klien dua. Diagnosis keperawatan pada klien satu yaitu, halusinasi, risiko perilaku kekerasan, isolasi sosial, pada klien dua yaitu, halusinasi, isolasi sosial, defisit perawatan diri. Intervensi yang dilakukan pada klien sesuai dengan kondisi klien, sarana dan prasarana. Hasil dari penyusunan studi kasus ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam peningkatan mutu asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa, khususnya pada klien dengan Halusinasi.
Risiko perilaku kekerasan merupakan salah satu respon marah yang diekspresikan dengan melakukan ancaman, mencederai diri sendiri atau orang lain, dan dapat merusak lingkungan sekitar. Tanda-tanda utamanya mencakup perilaku subjektif seperti mengkritik, mengumpat, berbicara keras, dan berbicara tiba-tiba, serta perilaku objektif seperti serangan fisik, melukai diri sendiri, gangguan terhadap lingkungan, dan ledekkan kasar. Tanda-tanda minornya antara lain manifestasi fisik seperti mata melotot, tangan terkepal, rahang terkatup, wajah memerah, dan postur tubuh kaku. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan studi kasus yang digunakan adalah pendekatan asuhan keperawatan pada 2 orang pasien yang meliputi identifikasi data hasil pengkajian, diganosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pada pasien risiko perilaku kekerasan di RSUD dr. H. Jusuf SK Kota Tarakan. Hasil pengkajian antara klien 1 dan 2 dengan diagnosa resiko perilaku kekerasan didapatkan perbedaan meliputi identitas pasien, alasan masuk rumah sakit, faktor predisposisi, pemeriksaan fisik, psikososial, penyebab, tanda dan gejala perilaku yang dilakukan, akibat perilaku kekerasan, status mental, dan mekanisme koping. Berdasarkan hasil penelitian review kasus penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan risiko perilaku kekerasan pada 2 klien selama 5 hari. Tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan dan ingin dicapai setelah dilakukan tindakan sesuai dengan waktu yang ditentukan dan diharapkan klien mampu mengenali risiko perilaku kekerasan yang dialami, dapat mengontrol dan mengurangi risiko perilaku kekerasan, mampu mengikuti program pengobatan secara optimal. Respon klien setelah melakukan tindakan yang diberikan yaitu klien 1 tidak mengingat tindakan yang telah diberikan dan hanya melakukan hingga SP 2 sedangkan klien 2 kooperatif dan mampu melanjutkan ke SP 3. Diharapkan institusi untuk bisa menambah referensi mengenai strategi pelaksanaan tindakan yang akan diintervensikan oleh mahasiswa ke pasien.
Diabetes Melitus Tipe II adalah kumpulan gejala penyakit yang ditandai dengan gula darah yang meningkat (hiperglikemia). Tingginya kadar gula darah disebabkan karena penurunan produksi hormon insulin oleh kelenjar pankreas dan atau penurunan sensitivitas dari hormon insulin (retensi hormon insulin) sehingga gula tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh dan beredar didalam darah. Diabetes Melitus Tipe II dapat menyebabkan gejala klinis yang sering muncul seperti sering buang air kecil, sering haus, banyak makan. Apabila tidak ditangani secara efektif dapat menimbulkan komplikasi seperti penyakit ginjal, neuropati/gangguan pada saraf, kerusakan pada retina, dan amputasi. Oleh karena itu, penulis melakukan studi kasus dengan melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung pada Ny. S dan Ny. R yang terdiagnosis Diabetes Melitus Tipe II dan sedang menjalani perawatan diruang Dahlia RSUD dr. H. Jusuf SK. Pelaksanaan studi kasus bertujuan untuk melakukan perbandingan asuhan keperawatan pda Ny. S dan Ny. R. Dalam studi kasus ini penulis menemukan adanya perbedaan tanda dan gejala dari komplikasi Diabetes Melitus Tipe II pada kedua pasien. Pada hasil penelitian ini dapat disimpulkan Diabetes Melitus Tipe II adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai dengan kenaikan gula darah dan dapat menyebabkan komplikasi yang akan mempengaruhi kesehatan jika tidak ditangani dengan segera. Oleh sebab itu, melakukan pengkajian sesuai dengan standar keperawatan dan melaksanakan tindakan keperawatan yang tepat akan membantu proses pemulihan pasien dengan baik.
ABSTRAK Gagal ginjal kronik merupakan penyakit pada organ ginjal dengan gangguan fungsi renal yang progresif sehingga keseimbangan cairan elektrolit terganggu dan menyebabkan uremia. Penyakit gagal ginjal ini merupakan kerusakan ginjal yang progresif sehingga tubuh tidak dapat mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan elektrolit. Tujuan penulisan ini adalah mendapatkan gambaran pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosis medis gagal ginjal kronik . Metode penulisan ini menggunakan penelitian studi kasus. Peneliti melakukan asuhan keperawatan pada dua orang pasien dengan gagal ginjal kronik. Hasil yang didapatkan terdapat dua diagnosis keperawatan yang sama yang ditegakkan pada klien satu dan klien dua dan satu diagnosis yang berbeda pada klien satu dan klien dua. Diagnosis keperawatan pada klien satu yaitu, pola napas tidak efektif, hipervolemia, nyeri akut, pada klien dua yaitu, pola napas tidak efektif, hipervolemia, nyeri akut. Intervensi yang dilakukan pada klien sesuai dengan kondisi klien, sarana dan prasarana. Hasil dari penyusunan studi kasus ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam peningkatan mutu asuhan keperawatan pada klien, khususnya pada klien dengan gagal ginjal kronik.
Pneumonia adalah salah satu penyakit infeksi yang terjadi pada saluran pernapasan dengan tanda dan gejala seperti batuk dan sesak napas dan merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di didunia. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan gambaran asuhan keperawatan pada pasien dewasa dengan pneumonia di RSUD dr. H Jusuf SK Tarakan. Metode penulisan Laporan Tugas Akhir ini menggunakan studi kasus. Peneliti melakukan asuhan keperawatan pada dua orang pasien dewasa dengan pneumonia. Studi kasus ini dilakukan dengan melakukan wawancara, observasi, melakukan pemeriksaan pada kedua pasien yang harus tetap memperhatikan etika seperti menjaga kerahasian pasien, adil dalam memberikan asuhan keperawatan pada kedua pasien. Hasil yang didapatkan terdapat tiga diagnosis keperawatan yang berbeda yang ditegakkan pada pasien satu dan pasien dua. Adapun masalah keperawatan pada pasien satu yaitu hipertermia, bersihan jalan napas tidak efektif, dan nyeri akut sedangkan pada pasien dua yaitu pola napas tidak efektif, gangguan pola tidur dan risiko defisit nutrisi. Dari ketiga diagnosis keperawatan pada pasien satu dan pasien dua dapat teratasi pada evaluasi akhir. Berdasarkan dengan literatur yang digunakan terdapat delapan diagnosis keperawatan yang ditegakkan pada pasien dengan pneumonia dan yang ditemukan pada pasien hanya empat diagnosis keperawatan yaitu hipertermia, bersihan jalan napas tidak efektif, pola napas tidak efektif dan gangguan pola tidur. Intervensi yang dilakukan pada pasien sesuai dengan kondisi pasien, sarana dan prasarana. Adapun penyusunan studi kasus dapat menjadi referensi dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan pada pasien dewasa, khususnya pada pasien dengan pneumonia.
Isolasi sosial adalah ketika seseorang tidak hanya mengalami perilaku menyendiri, tetapi juga ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, terutama kemampuan untuk mengekspresikan atau memvalidasi emosi negatif atau positif yang dialaminya sepenuhnya tidak berdaya. Perawatan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan keterampilan interaksi pasien. Metode studi kasus yang digunakan secara deskriptif, dimana metode studi kasus dilakukan dengan terlebih dahulu mengumpulkan data, menganalisis data, kemudian menarik kesimpulan Didapatkan yaitu masalah keperawatan isolasi sosial pada kedua klien implementasi yang berfokus pada interaksi sosial pada kedua klien dengan cara mengetahui keuntungan dan kerugian tidak punya teman dan bercakap-cakap. Intervensi yang dilakukan yaitu memberikan asuhan keperawatan yang baik kepada klien agar bisa berinteraksi dengan orang lainBerdasarkan dengan kajian pustaka dan pembahasan hasil studi kasus asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis isolasi sosial dengan penerapan selama 3 hari yang berdasarkan pada 3 diagnosa keperawatan utama dapat mengurangi isolasi sosial pada kedua klien. Pada pengkajian keperawatan telah disesuaikan dengan teori dan format asuhan keperawatan jiwa pada Diploma Tiga Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan. Penegakan diagnosis keperawatan pada kedua klien telah disesuaikan dengan kriteria pada buku SDKI dan tanda gejala yang muncul pada klien.
Stroke adalah penyakit saraf, atau sistem persyarafan, yang terjadi dengan cepat dan penyebab utamanya adalah gangguan aliran darah menuju otak. Kebocoran darah yang dimaksud dapat disebabkan oleh dua penyebab berbeda: pecahnya darah membran atau penyumbatan darah membran. Masalah yang terjadi menyebabkan fungsi otak pada akhirnya akan menurun dan menghambatan suplai darah keotak. Berdasarkan hasil perbandingan yang telah di dapat antar kedua pasien yaitu terangkatnya dingnosis keperawatan risiko perfusi serebral tiak efektif. Sesuai dengan teori yang di ajukan.
Sectio Caesarea merupakan tindakan pembedahan dengan cara membuat sayatan pada dinding perut dan dinding uterus untuk mengeluarkan janin yang berada di dalam rahim ibu. Persalinan menggunakan metode Sectio Caesarea ini dilakukan karna terdapat indikasi pada ibu ataupun bayi sehingga tidak dapat dilakukan persalinan secara pervaginam. Tujuan penulisan LTA ini adalah untuk memberikan gambaran asuhan keperawatan pada pasien post operasi Sectio Caesarea. Metode dalam karya tulis ini menggunakan pendekatan studi kasus pada dua pasien post operasi Sectio Caesarea. Hasil yang didapatkan yaitu terdapat kesamaan pada diagnosis keperawatan pada kedua responden yaitu nyeri akut, menyusui tidak efektif dan resiko infeksi. Kesimpulan pada pelaksanaan asuhan keperawatan pada penilitian ini tidak terdapat kesenjangan terhadap teori dan pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien post operasi Sectio Caesarea.
Angka persalinan dengan metode Sectio Caesarea dengan indikasi letak sungsang di Indonesia juga mengalami peningkatan 3-4% dari tahun 2022 hingga 2023. Sectio Caesarea menjadi metode persalinan yang disarankan untuk menurunkan tingkat risiko kematian pada ibu dan janin dengan indikasi letak sungsang. Penulisan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien Post Operasi Sectio Caesarea di RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan, dengan menggunakan metode deskriptif melalui pendekatann studi kasus dalam penelitian dengan pengumpulan data primer dan sekunder melalui observasi dan dokumentasi asuhan keperawatan secara sistematis. Hasil studi kasus dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari ditemukan masalah keperawatan yaitu nyeri akut, menyusui tidak efektif, dan risiko infeksi. Pada kedua pasien termasalah keperawatan teratasi sesuai dengan luaran keperawatan yang di inginkan. Kesimpulan dari pelaksanaan asuhan keperawatan pada penelitian ini menunjukkan tindakan keperawatan memiliki keterkaitan dengan proses penyembuhan secara optimal dalam mengurangi risiko komplikasi serta dapat menjadi rujukan dalam pembuatan asuhan keperawatan maternitas pada ibu dengan Post Sectio Caesarea.
Bronkopneumonia adalah penyakit pada parenkim paru yang mengalami proses peradangan atau inflamasi pada bronkus sampai alveolus yang disebabkan oleh beberapa agen infeksi, seperti virus, bakteri dan jamur yang ditandai dengan batuk pilek disertai nafas cepat atau sesak nafas. Penyakit ini sering kali tidak diobati sehingga menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada anak. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendapatkan gambaran pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan pada anak dengan bronkopneumonia dengan menggunakan pendekatan keperawatan komprehensif. Metode penulisan Laporan Tugas Akhir ini menggunakan studi kasus (case study). Penulis melakukan asuhan keperawatan pada dua orang klien anak dengan bronkopneumonia. Hasil yang didapatkan terdapat empat diagnosis keperawatan yang ditegakkan pada klien 1 dan klien 2. Diagnosis keperawatan pada klien 1 yaitu bersihan jalan napas tidak efektif, pola napas tidak efektif, gangguan rasa nyaman, dan ansietas. Sedangkan diagnosis keperawatan pada klien 2 yaitu bersihan jalan napas tidak efektif, nausea, gangguan rasa nyaman, dan ansietas. Keempat diagnosis tersebut diamati secara mendalam dan keempat diagnosis tersebut teratasi. Berdasarkan literatur yang digunakan terdapat empat diagnosis keperawatan yang dapat ditegakkan pada anak dengan bronkopneumonia, namun yang ditemukan pada klien hanya dua diagnosis yang sama yaitu bersihan jalan napas tidak efektif dan pola napas tidak efektif. Intervensi yang dilakukan telah disesuaikan dengan kondisi klien, sarana, dan prasarana. Hasil dari penyusunan studi kasus ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam peningkatan mutu asuhan keperawatan pada anak dengan bronkopneumonia.
CKD (Chronic Kidney Disease) atau CKD (GGK) adalah kondisi dimana fungsi ginjal mengalami kegagalan dalam mempertahankan metabolisme tubuh, dan menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit diakibatkan terjadinya destruksi struktur pada ginjal yang terus berkembang dengan tanda gelaja terjadinya penumpukan sisa-sisa metabolisme di dalam darah. Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan Asuhan Keperawatan pada pasien dengan penyakit CKD. Jenis penulisan pada Karya Tulis Ilmiah ini menggunakan metode deskriptif dalam bentuk studi kasus. Subjek penelitian yang digunakan berjumlah 2 pasien yang terdiagnosa Chronic Kidney Disease di RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan dan menggunakan format asuhan keperawatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku yang terdiri dari pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Berdasarkan analisa data yang diperoleh melalui pengkajian terdapat 5 diagnosis keperawatan pada pasien 1 (Tn.S) dan 8 diagnosis keperawatan pada pasien 2 (Tn.M). Pasien 1 dengan diagnosis Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif b.d hipersekresi jalan napas, Risiko Perfusi Renal Tidak efektif d.d faktor disfungsi ginjal, Hipervolemia b.d kelebihan asupan cairan, Defisit Nutrisi b.d peningkatan kebutuhan metabolisme, Nyeri Akut b.d agen pencedera fisiologis, dan Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan. Pasien 2 dengan diagnosis Pola Napas Tidak Efektif b.d penurunan energi, Penurunan Curah Jantung b.d perubahan kontraktilitas, Risiko Defisit Nutrisi d.d ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien, Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit d.d disfungsi ginjal, Nyeri Akut b.d agen pencedera fisiologis, Gangguan Pola Tidur b.d hambatan lingkungan, Intoleransi Aktivitas b.d kelamahan, Defisit Perawatan Diri b.d kelemahan. Pada pasien 1 terdapat 2 diagnosis keperawatan teratasi dan 4 diagnosis keperawatan belum teratasi. Sedangkan pada pasien 2, 4 diagnosis keperawatan teratasi dan 4 diagnosis keperawatan belum teratasi. Penelitian ini diharapkan menjadi acuan dalam melakukan Asuhan keperawatan pada pasien dengan CKD.
Gastroenteritis adalah penyakit yang sering ditemukan di masyarakat termasuk pada anak, yang ditandai dengan adanya rasa nyeri atau tidak nyaman pada bagian abdomen atau disertai perubahan frekuensi buang air besar. Gastroenteritis termasuk salah satu jenis penyakit yang tidak menular namun akibat paparan penyakit tersebut dapat menyebabkan mortilitas yang sangat tinggi. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada anak dengan gastroenteritis di Ruang Anggrek B Rumah Sakit Umum Daerah dr. H Jusuf SK Tarakan. Metode penulisan Laporan Tugas Akhir ini menggunakan case study. Peneliti melakukan asuhan keperawatan dua orang pasien anak dengan gastroenteritis Hasil yang didapatkan terdapat 3 diagnosis keperawatan yang berbeda yang ditegakkan pada pasien 1 dan pasien 2. Diagnosis keperawatan pada pasien 1 yaitu nyeri akut, diare, nausea, resiko defisit nutrisi, dan resiko hipovolemia sedangkan diagnosis keperawatan pada pasien 2 yaitu diare, ansietas, nyeri akut, dan resiko hipovolemia diagnosis tersebut diamati secara mendalam dan 5 diagnosis tersebut teratasi. Berdasarkan literatur yang digunakan terdapat 6 diagnosis keperawatan yang dapat ditegakkan pada anak dengan gastroenteritis. Intervensi yang dilakukan disesuaikan dengan kondisi pasien, sarana dan prasarana.Hasil dari penyusunan studi kasus ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam peningkatan mutu asuhan keperawatan pada anak, khususnya pada anak dengan gastroenteritis.
Induksi persalinan adalah suatu teknik yang digunakan untuk menstimulasi proses persalinan melalui jalur vagina. Namun, jika induksi terlalu lama atau tidak ada kemajuan persalinan normal dalam 24 jam, maka dapat berdampak buruk bagi ibu maupun janinnya, sehingga tindakan alternatif yang dapat diambil dengan melakukan operasi sectio caesarea. Oleh karena itu penulis tertarik melakukan studi kasus dengan melakukan asuhan keperawatan secara langsung kepada klien dengan diagnosis medis gagal Induksi yang sedang menjalani proses pemulihan di ruang Mawar RSUD. dr. H. JUSUF. SK. Pelaksanaan studi kasus bertujuan untuk melakukan perbandingan asuhan keperawatan antara klien 1 dan klien 2. Hasil penelitian dalam studi kasus ini penulis menemukan adanya berbedaan diagnosis keperawatan pada klien 1 dan klien 2 diantaranya: Menyusui Efektif dan Menyusui Tidak Efektif. Sedangkan persamaan diagnosis yang ditemukan adalah Nyeri Akut dan Gangguan Mobilitas Fisik. Hasil dari penyusunan studi kasus ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam peningkatan mutu asuhan keperawatan pada pasien dengan dengan Post Operasi Sectio Caesarea etiologi gagal induksi.
DHF (Dengue Hemorrhagic Fever) adalah salah satu penyakit tropis yang paling sering menyerang manusia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus dengue dengan manifestasi klinis demam, pusing, mual, muntah, ruam, nyeri perut, nyeri sendi dan pegal, trombositopenia dan hemokonsentrasi. Menurut WHO kasus DHF di dunia pada 2023 mencapai 6,5 juta kasus dengan kasus anak tertinggi di Indonesia mencapai 88.593 kasus, Kota Tarakan menempati posisi pertama dengan kasus DHF tertinggi di Kalimantan Utara. Tujuan penulisan ini agar penulis mendapatkan gambaran nyata terkait asuhan keperawatan komprehensif dengan dua subjek studi pasien An. M dan An. Y dengan DHF. Metode penulisan adalah deskriptif, tipe studi kasus dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Pemberian asuhan keperawatan meliputi pengkajian, penentuan diagnosis keperawatan, penyusunan rencana intervensi, implementasi dan evaluasi. Pengkajian meliputi identitas klien, riwayat kesehatan sekarang dan lalu, kondisi klien sebelum dan saat sakit, adapun didapatkan kesenjangan antara teori dengan laporan studi kasus pada pengkajian dan penegakan diagnosis. Diagnosis yang didapatkan pada pasien 1 dan 2 adalah risiko perdarahan, risiko hipovolemia, nyeri akut, risiko defisit nutrisi, gangguan rasa nyaman, defisit pengetahuan. Pengambilan data dapat dilaksanakan dengan mudah karena keluarga pasien yang sangat kooperatif. Intervensi dan kriteria hasil yang disusun sudah disesuaikan berdasarkan penegakkan diagnosis dan kondisi pasien. Evaluasi hasil tindakan keperawatan menunjukkan diagnosis teratasi sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil. Akan tetapi ada beberapa diagnosis yang teratasi sebagaian pada pasien 1 dan 2 yaitu risiko perdarahan dan risiko hipovolemia. Hasil studi kasus disimpulkan bahwa terdapat prioritas masalah yang berbeda yang menyebabkan adanya perbedaan implementasi kepada kedua pasien.
Perawatan spiritual merupakan bagian dari pelayanan asuhan keperawatan yang holistik dengan memberikan bimbingan spiritual. Mahasiswa yang memiliki sikap kepedulian spiritual yang positif akan bersedia memperoleh lebih banyak pengetahuan dan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan pasien dengan demikian mahasiswa dapat memberikan perawatan yang lebih efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran persepsi mahasiswa sarjana keperawatan tentang perawatan spiritual. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif survey. Jumlah sampel 233 mahasiswa. Penentuan jumlah sampel menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Spirituality and Spiritual Care Rating Scale versi Bahasa Indonesia (SSCRS-BI) sebanyak 17 item pernyataan. Analisa data penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Berdasarkan penelitian didapatkan hasil persepsi mahasiswa sarjana keperawatan tentang perawatan spiritual adalah baik sebanyak 125 (53.6%), mahasiswa dengan berpersepsi kurang baik yaitu sebanyak 108 (46%) hal ini menunjukan sedikit perbedaan diantara kedua nya yaitu sebanyak 8%. Sub varabel spiritual care memiliki persepsi baik terbanyak sebanyak 183 (78.5%) dibandingkan tiga sub variabel lainya. Hasil ini dapat dilanjutkan dengan penelitian tentang faktor-faktor yang memengaruhi persepsi mahasiswa sarjana keperawatan terhadap perawatan spiritual.