.
2023 · Book · Koleksi Perpustakaan
.
Profil penulis
5 karya publik ditemukan.
.
Generator sinkron mempunyai permasalahan yaitu Ketidak stabilan tegangan pada generator sinkron menyebabkan sistem secara keseluruhan terutama kualitas sistem, kemampuan transfer daya dari pembangkit ke konsumen, kondisi terparah terjadinya mekanisme pelepasan beban dengan demikian maka diperlukan peralatan yang dapat mengendalikan kestabilan tegangan generator sinkron yaitu Automatic Voltage Regulator (AVR). AVR adalah suatu perangkat yang dipasang pada generator yang dapat bekerja secara otomatis mengatur tegangan yang dihasilkan oleh generator agar tetap stabil. Pada tugas akhir ini mengontrol tegangan generator agar stabil menggunakan metode Neural Network (NN). Data pelatihan NN diambil dari input dan output kendali PID dengan Sistem AVR yang sama. AVR sederhana dengan respon delay time (t_d) 1,129s, rise time (t_r) 2,469s, peak time (t_p) 5,039s, settling time (t_s) 4,427s, max overshoot (M_p) 0% dan untuk error steady state (e_ss) 0%. AVR sederhana respon tidak terdapat overshoot dan respon waktunya lebih lambat 5,039s, konvensional terdapat overshoot yang tinggi dan lebih cepat 0,715s, NN respon yang didapatkan overshoot pada waktu 2,456s dan adanya usaha perbaikan respon tegangan kembali ke Vref.
Kemajuan teknologi secara cepat telah membawa dunia memasuki era globalisasi yang serba maju dan modern. Salah satu bukti kemajuan teknologi yang dapat membantu kelancaran dan meringankan beban pekerjaan manusia adalah gadget. Indonesia merupakan negara pengguna gadget terbesar ke empat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Jumlah pengguna gadget pada usia anak meningkat hampir dua kali lipat, dari angka 38% menjadi 72%. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat berdampak pada perubahan perilaku seseorang, termasuk pada seorang anak. Penggunaan gadget tentu akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak, baik itu secara fisik maupun mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan perilaku sosial anak akibat penggunaan gadget di SDN 024 Kota Tarakan. Metode penelitian ini adalah analitic correlational dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 86 responden dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan faktor internal (self esteem, self controll, senstaion seeking, dan kepribadian ektraversi), faktor situasional, faktor sosial, dan faktor eksternal (lingkungan) dengan perubahan perilaku sosial anak akibat penggunaan gadget di SDN 024 Kota Tarakan. Anak yang memiliki self esteem, self controll, sensantion seeking, dan kepribadian ekstraversi kurang baik cenderung berperilaku sosial ke arah negatif. Selain itu, faktor situasional yang mendukung, kurangnya pengawasan keluarga, dan lingkungan yang negatif juga cenderung menyebabkan anak beperilaku sosial ke arah negatif. Bagi orang tua diharapkan dapat lebih peka terhadap dampak yang ditimbulkan akibat kecenderungan penggunaan gadget secara berlebihan pada anak, salah satunya adalah dengan mulai memperhatikan, mengawasi, bahkan membatasi penggunaan gadget pada anak guna menghindari adanya dampak perubahan perilaku sosial pada anak.
Kemajuan teknologi secara cepat telah membawa dunia memasuki era globalisasi yang serba maju dan modern. Salah satu bukti kemajuan teknologi yang dapat membantu kelancaran dan meringankan beban pekerjaan manusia adalah gadget. Indonesia merupakan negara pengguna gadget terbesar ke empat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Jumlah pengguna gadget pada usia anak meningkat hampir dua kali lipat, dari angka 38% menjadi 72%. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat berdampak pada perubahan perilaku seseorang, termasuk pada seorang anak. Penggunaan gadget tentu akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak, baik itu secara fisik maupun mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan perilaku sosial anak akibat penggunaan gadget di SDN 024 Kota Tarakan. Metode penelitian ini adalah analitic correlational dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 86 responden dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan faktor internal (self esteem, self controll, senstaion seeking, dan kepribadian ektraversi), faktor situasional, faktor sosial, dan faktor eksternal (lingkungan) dengan perubahan perilaku sosial anak akibat penggunaan gadget di SDN 024 Kota Tarakan. Anak yang memiliki self esteem, self controll, sensantion seeking, dan kepribadian ekstraversi kurang baik cenderung berperilaku sosial ke arah negatif. Selain itu, faktor situasional yang mendukung, kurangnya pengawasan keluarga, dan lingkungan yang negatif juga cenderung menyebabkan anak beperilaku sosial ke arah negatif. Bagi orang tua diharapkan dapat lebih peka terhadap dampak yang ditimbulkan akibat kecenderungan penggunaan gadget secara berlebihan pada anak, salah satunya adalah dengan mulai memperhatikan, mengawasi, bahkan membatasi penggunaan gadget pada anak guna menghindari adanya dampak perubahan perilaku sosial pada anak.
abstract.This study sought to answer two questions related to learning strategies used by seventh grade students of SMP N 8 Tarakan first, what was the percentage of learning strategies used by the students in learning English? Second, what was the most dominant learning strategy used by the students in learning English. This research used a quantitative descriptive method. The researcher described the learning strategies used by the seventh grade students. The population of this study was 215 students and the researcher took 5% (141 students) of the total population as the samples. In addition, a Microsoft Excel 2010 was used to analyze the data to find out the percentage of learning strategies. The instruments used in this study were a closed questionnaire and structured interview. The results showed that the strategy most frequently used by the seventh grade students of SMP N 8 Tarakan was metacognitive strategy (65%) and the least used was compensation strategy (43%).