Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

RAZMI NUR FADILAH

4 karya publik ditemukan.

2026: 22025: 2

Pemberian Posisi Passive Leg Raising (PLR) Terhadap Perubahan Hemodinamik Pada Pasien Hipotensi Di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD)

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Hipotensi merupakan kondisi kegawatdaruratan yang dapat terjadi akibat penurunan volume intravaskular, yang disebabkan oleh syok hipovolemia akibat perdarahan serta kehilangan cairan berlebihan seperti diare dan muntah yang berkaitan dengan gangguan gastrointestinal. Kondisi ini menyebabkan ketidakstabilan hemodinamik yang ditandai dengan penurunan status hemodinamik dan Mean Arterial Pressure (MAP). Penatalaksanaan awal yang umum dilakukan adalah pemberian terapi cairan untuk mengembalikan volume sirkulasi. Salah satu metode noninvasif yang dapat digunakan untuk meningkatkan status hemodinamik adalah posisi passive leg raising (PLR), yang meningkatkan venous return secara sementara untuk meningkatkan status hemodinamik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi hemodinamik pasien hipotensi sebelum dan sesudah pemberian posisi passive leg raising (PLR), serta mengetahui perubahan kondisi hemodinamik yang terjadi. Data dikumpulkan melalui pengkajian dan observasi status hemodinamik sebelum intervensi, setelah pemberian terapi cairan, dan sesudah dilakukan posisi PLR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi hemodinamik pasien sebelum intervensi berada dalam keadaan tidak stabil yang ditandai dengan tekanan darah rendah dan nilai Mean Arterial Pressure (MAP) di bawah batas normal (65 mmHg). Setelah pemberian terapi cairan, terjadi perbaikan awal pada parameter hemodinamik, yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik serta kenaikan nilai MAP. Pemberian posisi PLR menunjukkan peningkatan tekanan darah dan MAP yang menandakan respons positif terhadap peningkatan preload. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perubahan kondisi hemodinamik pada pasien hipotensi sebelum dan sesudah pemberian posisi Passive Leg Raising (PLR), sehingga intervensi ini efektif dalam menilai respons cairan dan mendukung stabilitas hemodinamik pasien.

Pemberian Posisi Passive Leg Raising (PLR) Terhadap Perubahan Hemodinamik Pada Pasien Hipotensi Di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD)

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipotensi merupakan kondisi kegawatdaruratan yang dapat terjadi akibat penurunan volume intravaskular, yang disebabkan oleh syok hipovolemia akibat perdarahan serta kehilangan cairan berlebihan seperti diare dan muntah yang berkaitan dengan gangguan gastrointestinal. Kondisi ini menyebabkan ketidakstabilan hemodinamik yang ditandai dengan penurunan status hemodinamik dan Mean Arterial Pressure (MAP). Penatalaksanaan awal yang umum dilakukan adalah pemberian terapi cairan untuk mengembalikan volume sirkulasi. Salah satu metode noninvasif yang dapat digunakan untuk meningkatkan status hemodinamik adalah posisi passive leg raising (PLR), yang meningkatkan venous return secara sementara untuk meningkatkan status hemodinamik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi hemodinamik pasien hipotensi sebelum dan sesudah pemberian posisi passive leg raising (PLR), serta mengetahui perubahan kondisi hemodinamik yang terjadi. Data dikumpulkan melalui pengkajian dan observasi status hemodinamik sebelum intervensi, setelah pemberian terapi cairan, dan sesudah dilakukan posisi PLR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi hemodinamik pasien sebelum intervensi berada dalam keadaan tidak stabil yang ditandai dengan tekanan darah rendah dan nilai Mean Arterial Pressure (MAP) di bawah batas normal (65 mmHg). Setelah pemberian terapi cairan, terjadi perbaikan awal pada parameter hemodinamik, yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik serta kenaikan nilai MAP. Pemberian posisi PLR menunjukkan peningkatan tekanan darah dan MAP yang menandakan respons positif terhadap peningkatan preload. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perubahan kondisi hemodinamik pada pasien hipotensi sebelum dan sesudah pemberian posisi Passive Leg Raising (PLR), sehingga intervensi ini efektif dalam menilai respons cairan dan mendukung stabilitas hemodinamik pasien.

Gambaran Kepuasan Kerja Perawat Rumah Sakit di Wilayah Pesisir Kalimantan Utara

2025 · Book ·

Kepuasan kerja perawat merupakan faktor penting yang memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan, kesejahteraan perawat, serta niat untuk tetap bekerja. Kepuasan kerja yang rendah dapat meningkatkan risiko turnover dan menurunkan kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja perawat Rumah Sakit X di wilayah pesisir Kalimantan Utara. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain survei deskriptif. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 139 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Delapan komponen kepuasan kerja dianalisis, dengan tingkat kepuasan tertinggi pada aspek hubungan dengan rekan kerja, jadwal dinas, dan kesempatan berinteraksi. Sebaliknya, penghargaan eksternal menjadi sumber ketidakpuasan tertinggi (51,8%), terutama dialami oleh perawat non-ASN, lulusan D3, dan berpenghasilan dibawah UMR. Komitmen kerja juga ditemukan tinggi, dengan 76,3% responden menyatakan ingin tetap bekerja di rumah sakit. Implikasi dari hasil ini menekankan pentingnya peningkatan sistem penghargaan dan insentif berbasis kinerja untuk mempertahankan motivasi dan stabilitas tenaga keperawatan, serta meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa meskipun tingkat kepuasan kerja tergolong sedang, perawat tetap menunjukkan komitmen tinggi, sehingga perlu ada perbaikan pada aspek penghargaan agar kesejahteraan tenaga kesehatan perawat dapat ditingkatkan.

Gambaran Kepuasan Kerja Perawat Rumah Sakit X di Wilayah Pesisir Kalimantan Utara

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kepuasan kerja perawat merupakan faktor penting yang memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan, kesejahteraan perawat, serta niat untuk tetap bekerja. Kepuasan kerja yang rendah dapat meningkatkan risiko turnover dan menurunkan kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja perawat Rumah Sakit X di wilayah pesisir Kalimantan Utara. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain survei deskriptif. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 139 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Delapan komponen kepuasan kerja dianalisis, dengan tingkat kepuasan tertinggi pada aspek hubungan dengan rekan kerja, jadwal dinas, dan kesempatan berinteraksi. Sebaliknya, penghargaan eksternal menjadi sumber ketidakpuasan tertinggi (51,8%), terutama dialami oleh perawat non-ASN, lulusan D3, dan berpenghasilan dibawah UMR. Komitmen kerja juga ditemukan tinggi, dengan 76,3% responden menyatakan ingin tetap bekerja di rumah sakit. Implikasi dari hasil ini menekankan pentingnya peningkatan sistem penghargaan dan insentif berbasis kinerja untuk mempertahankan motivasi dan stabilitas tenaga keperawatan, serta meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa meskipun tingkat kepuasan kerja tergolong sedang, perawat tetap menunjukkan komitmen tinggi, sehingga perlu ada perbaikan pada aspek penghargaan agar kesejahteraan tenaga kesehatan perawat dapat ditingkatkan.