Abstrak
Hipotensi merupakan kondisi kegawatdaruratan yang dapat terjadi akibat penurunan volume intravaskular, yang disebabkan oleh syok hipovolemia akibat perdarahan serta kehilangan cairan berlebihan seperti diare dan muntah yang berkaitan dengan gangguan gastrointestinal. Kondisi ini menyebabkan ketidakstabilan hemodinamik yang ditandai dengan penurunan status hemodinamik dan Mean Arterial Pressure (MAP). Penatalaksanaan awal yang umum dilakukan adalah pemberian terapi cairan untuk mengembalikan volume sirkulasi. Salah satu metode noninvasif yang dapat digunakan untuk meningkatkan status hemodinamik adalah posisi passive leg raising (PLR), yang meningkatkan venous return secara sementara untuk meningkatkan status hemodinamik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi hemodinamik pasien hipotensi sebelum dan sesudah pemberian posisi passive leg raising (PLR), serta mengetahui perubahan kondisi hemodinamik yang terjadi. Data dikumpulkan melalui pengkajian dan observasi status hemodinamik sebelum intervensi, setelah pemberian terapi cairan, dan sesudah dilakukan posisi PLR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi hemodinamik pasien sebelum intervensi berada dalam keadaan tidak stabil yang ditandai dengan tekanan darah rendah dan nilai Mean Arterial Pressure (MAP) di bawah batas normal (65 mmHg). Setelah pemberian terapi cairan, terjadi perbaikan awal pada parameter hemodinamik, yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik serta kenaikan nilai MAP. Pemberian posisi PLR menunjukkan peningkatan tekanan darah dan MAP yang menandakan respons positif terhadap peningkatan preload. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perubahan kondisi hemodinamik pada pasien hipotensi sebelum dan sesudah pemberian posisi Passive Leg Raising (PLR), sehingga intervensi ini efektif dalam menilai respons cairan dan mendukung stabilitas hemodinamik pasien.