Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

FERIANSYAH

3 karya publik ditemukan.

2025: 2

ANALISIS SKALA PRIORITAS PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS) (STUDI KASUS : KANTOR KELURAHAN KARANG REJO KOTA TARAKAN)

· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pemeliharaan bangunan dilakukan untuk menjaga, kenyamanan dan keandalan bangunan gedung sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemeliharaan bangunan kantor Kelurahan Karang Rejo Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), untuk menentukan bobot komponen bangunan. Langkah yang digunakan yaitu membandingkan data masing-masing penilaian komponen, yang diolah dengan menggunakan software expert choice v.11, dan hasil pembobotan tiap-tiap responden dikombinasikan. Dari hasil penelitian diperoleh penilaian bahwa kondisi kerusakan yang terjadi pada bangunan dengan skala kerusakan 11,5 masih dinyatakan baik. Biaya pemeliharaan untuk perbaikan bangunan gedung Kantor Kelurahan Karang Rejo diperlukan biaya sebesar Rp. 12.416.177,00. (Dua Belas Juta Empat Ratus Enam Belas Ribu Seratus Tujuh Puluh Tujuh Rupiah).Dan dari hasil perhitungan prioritas dalam pemeliharan bangunan diperoleh urutan prioritas yakni elemen cat dinding menjadi prioritas yang utama dengan nilai bobot 21,2%, kemudian Plafon Gypsum menjadi prioritas ke-2 dengan nilai bobot 19,7%, Plafon Tripleks menjadi prioritas ke-3 dengan nilai bobot 15,4%, daun pintu menjadi prioritas ke-4 dengan nilai bobot 15,4%, kemudian pintu kaca, listplafon, kunci tanam, handle pintu, dan lampu menjadi prioritas ke-5, ke-6, ke-7, ke-8, ke-9, dengan masing-masing bobot 12,9%, 6%, 3,4%, 3%, dan 3%.

PERBEDAAN BOBOT RIMPANG SERTA JENIS AUKSIN DAN SITOKININ TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF JAHE MERAH (Zingiber officinale var. Rubrum)

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Jahe merupakan salah satu komoditas ekspor rempah-rempah Indonesia, disamping itu juga menjadi bahan baku obat tradisional maupun fitofarmaka, yang memberikan peranan cukup berarti dalam penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara. Kendala dalam pembibitan jahe merah terletak pada pertunasan pada rimpang jahe merah. Semakin berat bobot rimpang, kandungan patinya juga semakin tinggi sehingga kemungkinan dapat mempercepat pertunasan jahe merah. Masa pertumbuhan tunas pada rimpang jahe merah juga dapat dipercepat dengan upaya intensifikasi atau penggunaan zat pengatur tumbuh. Penelitian ini bertujuan; (1) Mengetahui pengaruh dari perbedaan bobot rimpang terhadap pertumbuhan jahe merah, (2) Mengetahui pengaruh dari jenis ZPT NAA dan BAP terhadap pertumbuhan jahe merah dan (3) Mengetahui interaksi antara bobot rimpang dengan jenis zat pengatur tumbuh terhadap pertumbuhan jahe merah. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktorial yang terdiri dari faktor pertama bobot rimpang 10 g, 20 g dan 30 g dan faktor kedua zat pengatur tumbuh Z1 NAA 150 mg, Z2 BAP 100 mg dan Z3 kombinasi NAA 150 mg dan BAP 100 mg. Parameter yang diamati meliputi; tinggi tanaman, jumlah tunas, jumlah daun, diameter batang, jumlah akar, panjang akar, bobot terubus, bobot akar, bobot rimpang dan persentase tanamanan tumbuh. Data yang diperoleh kemudian di uji anova dan diuji lanjut menggunakan DMRT. Perbedaan bobot rimpang dan zat pengatur tumbuh pada faktor tunggal secara umum tidak memberikan pengaruh pada pertumbuhan tanaman jahe merah. Berpengaruh hanya pada interaksinya di parameter tinggi tanaman kombinasi perlakuan bobot rimpang 20 g dan 100 mg BAP (B2 Z2) mampu menginsiasi pertumbuhan pucuk, parameter jumlah tunas kombinasi perlakuan bobot rimpang 30 g dan 150 mg NAA (B3Z1) memiliki pertumbuhan jumlah tunas dan jumlah akar terbanyak serta mampu menginisiasi pertumbuhan panjang akar sehingga menghasilkan bobot terubus dan rimpang panen terberat, kombinasi perlakuan bobot 10 g dan 100 mg BAP + 150 mg NAA (B1 Z3) dapat memperbanyak jumlah daun, pertumbuhan jumlah daun akan memperbesar diameter batang. Kombinasi perlakuan bobot rimpang 30 g dan tanpa ZPT (B3 Z0) memiliki berat akar terbaik.

PERBEDAAN BOBOT RIMPANG SERTA JENIS AUKSIN DAN SITOKININ TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF JAHE MERAH (Zingiber officinale var. Rubrum)

2025 · Thesis ·

Jahe merupakan salah satu komoditas ekspor rempah-rempah Indonesia, disamping itu juga menjadi bahan baku obat tradisional maupun fitofarmaka, yang memberikan peranan cukup berarti dalam penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara. Kendala dalam pembibitan jahe merah terletak pada pertunasan pada rimpang jahe merah. Semakin berat bobot rimpang, kandungan patinya juga semakin tinggi sehingga kemungkinan dapat mempercepat pertunasan jahe merah. Masa pertumbuhan tunas pada rimpang jahe merah juga dapat dipercepat dengan upaya intensifikasi atau penggunaan zat pengatur tumbuh. Penelitian ini bertujuan; (1) Mengetahui pengaruh dari perbedaan bobot rimpang terhadap pertumbuhan jahe merah, (2) Mengetahui pengaruh dari jenis ZPT NAA dan BAP terhadap pertumbuhan jahe merah dan (3) Mengetahui interaksi antara bobot rimpang dengan jenis zat pengatur tumbuh terhadap pertumbuhan jahe merah. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktorial yang terdiri dari faktor pertama bobot rimpang 10 g, 20 g dan 30 g dan faktor kedua zat pengatur tumbuh Z1 NAA 150 mg, Z2 BAP 100 mg dan Z3 kombinasi NAA 150 mg dan BAP 100 mg. Parameter yang diamati meliputi; tinggi tanaman, jumlah tunas, jumlah daun, diameter batang, jumlah akar, panjang akar, bobot terubus, bobot akar, bobot rimpang dan persentase tanamanan tumbuh. Data yang diperoleh kemudian di uji anova dan diuji lanjut menggunakan DMRT. Perbedaan bobot rimpang dan zat pengatur tumbuh pada faktor tunggal secara umum tidak memberikan pengaruh pada pertumbuhan tanaman jahe merah. Berpengaruh hanya pada interaksinya di parameter tinggi tanaman kombinasi perlakuan bobot rimpang 20 g dan 100 mg BAP (B2 Z2) mampu menginsiasi pertumbuhan pucuk, parameter jumlah tunas kombinasi perlakuan bobot rimpang 30 g dan 150 mg NAA (B3Z1) memiliki pertumbuhan jumlah tunas dan jumlah akar terbanyak serta mampu menginisiasi pertumbuhan panjang akar sehingga menghasilkan bobot terubus dan rimpang panen terberat, kombinasi perlakuan bobot 10 g dan 100 mg BAP + 150 mg NAA (B1 Z3) dapat memperbanyak jumlah daun, pertumbuhan jumlah daun akan memperbesar diameter batang. Kombinasi perlakuan bobot rimpang 30 g dan tanpa ZPT (B3 Z0) memiliki berat akar terbaik.