ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pencemaran, tingkat kontaminasi, dan tingkat bioakumulasi logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada air, tanah, dan ikan bandeng (Chanos chanos) di tambak tradisional Desa Binai, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak dua kali (bulan ke-1 dan bulan ke-3) dengan analisis menggunakan instrumen Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Parameter yang dianalisis meliputi Geo-Accumulation Index (Igeo), Contamination Factor (CF), dan Bio Concentration Factor (BCF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Igeo logam berat Pb dan Cd pada air di bulan ke-1 dan ke-3 termasuk dalam kategori tercemar sangat berat (Igeo ≥5), sedangkan pada tanah berada pada kategori tercemar berat hingga sangat berat (45). Nilai CF logam berat Pb dan Cd pada seluruh media tergolong rendah (CF1), yang menunjukkan kontaminasi rendah secara keseluruhan. Nilai BCF logam berat Pb pada tanah mencapai 121,66, sementara BCF Cd pada air sebesar 3,33, sehingga tingkat akumulatif ikan bandeng termasuk dalam kategori sedang (100≤BCF≤1000). Akumulasi logam berat lebih dominan berasal dari media tanah dibandingkan air. Meskipun demikian, konsentrasi logam berat dalam daging ikan bandeng masih berada di bawah batas maksimum cemaran logam berat yang diatur dalam SNI 7387:2009, sehingga ikan masih layak untuk dikonsumsi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pencemaran, tingkat kontaminasi, dan tingkat bioakumulasi logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada air, tanah, dan ikan bandeng (Chanos chanos) di tambak tradisional Desa Binai, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak dua kali (bulan ke-1 dan bulan ke-3) dengan analisis menggunakan instrumen Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Parameter yang dianalisis meliputi Geo-Accumulation Index (Igeo), Contamination Factor (CF), dan Bio Concentration Factor (BCF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Igeo logam berat Pb dan Cd pada air di bulan ke-1 dan ke-3 termasuk dalam kategori tercemar sangat berat (Igeo ≥5), sedangkan pada tanah berada pada kategori tercemar berat hingga sangat berat (45). Nilai CF logam berat Pb dan Cd pada seluruh media tergolong rendah (CF1), yang menunjukkan kontaminasi rendah secara keseluruhan. Nilai BCF logam berat Pb pada tanah mencapai 121,66, sementara BCF Cd pada air sebesar 3,33, sehingga tingkat akumulatif ikan bandeng termasuk dalam kategori sedang (100≤BCF≤1000). Akumulasi logam berat lebih dominan berasal dari media tanah dibandingkan air. Meskipun demikian, konsentrasi logam berat dalam daging ikan bandeng masih berada di bawah batas maksimum cemaran logam berat yang diatur dalam SNI 7387:2009, sehingga ikan masih layak untuk dikonsumsi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pencemaran, tingkat kontaminasi, dan tingkat bioakumulasi logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada air, tanah, dan ikan bandeng (Chanos chanos) di tambak tradisional Desa Binai, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak dua kali (bulan ke-1 dan bulan ke-3) dengan analisis menggunakan instrumen Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Parameter yang dianalisis meliputi Geo-Accumulation Index (Igeo), Contamination Factor (CF), dan Bio Concentration Factor (BCF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Igeo logam berat Pb dan Cd pada air di bulan ke-1 dan ke-3 termasuk dalam kategori tercemar sangat berat (Igeo ≥5), sedangkan pada tanah berada pada kategori tercemar berat hingga sangat berat (45). Nilai CF logam berat Pb dan Cd pada seluruh media tergolong rendah (CF1), yang menunjukkan kontaminasi rendah secara keseluruhan. Nilai BCF logam berat Pb pada tanah mencapai 121,66, sementara BCF Cd pada air sebesar 3,33, sehingga tingkat akumulatif ikan bandeng termasuk dalam kategori sedang (100≤BCF≤1000). Akumulasi logam berat lebih dominan berasal dari media tanah dibandingkan air. Meskipun demikian, konsentrasi logam berat dalam daging ikan bandeng masih berada di bawah batas maksimum cemaran logam berat yang diatur dalam SNI 7387:2009, sehingga ikan masih layak untuk dikonsumsi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Salah satu indikator permasalahan lingkungan di laut adalah keberadaan kandungan logam berat yang ada di dalam perairan pesisir yang bersumber dari kegiatan industri, transportasi laut, maupun yang bersumber dari alam. Penyebab utama logam berat menjadi bahan pencemar berbahaya yaitu logam berat tidak dapat di hancurkan (non degradable) oleh organisme hidup dan terakumulasi ke lingkungan. Salah satu logam berat yang berbahaya adalah Timbal (Pb). Timbal yang terdapat di perairan dan sedimen dapat menjadi polutan apabila konsentrasinya melebihi ambang baku mutu yang telah ditentukan. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan logam berat Timbal (Pb) yang terdapat di Perairan Laut Kelurahan Juata Permai Kota Tarakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan melakukan pengambilan sampel pada lima titik stasiun melalui metode purposive sampling yang dilakukan pada bulan Desember 2021 di Perairan Juata Permai Kota Tarakan. Parameter yang di uji yaitu sampel air dan sampel sedimen terkait logam berat Timbal (Pb) serta parameter kualitas air meliputi suhu, pH dan salinitas. Analisis kandungan logam berat menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrofotometry). Pada hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai Timbal (Pb) yang terkandung pada air sebesar 0,0683- 0,1445, pada sedimen sebesar 0,1336- 2,58. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan logam berat Timbal (Pb) pada air di Perairan Juata Permai Kota Tarakan sudah melebihi nilai baku mutu berdasarkan PP Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021, sedangkan kandungan logam berat Timbal (Pb) pada sedimen masih di bawah baku mutu berdasarkan SEPA (Swedish Enviromental Protection Agency) Tahun 2000.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Cangkang Meretrix meretrix banyak ditemukan menjadi limbah yang sangat melimpah di Pantai Amal, kota Tarakan. Telah dilakukan penelitian tentang Meretrix meretrix sebagai adsorben logam berat timbal (Pb2+) dengan menggunakan adsorpsi metode Shacker melalui aktivasi fisika dengan menggunakan pemanasan suhu 400 oC, 500 oC dan 600 oC. Tahapan pertama yang dilakukan penelitian ini adalah karakteristik adsorben dengan mengukur kadar air dan kadar abu, hasil penelitian yang menunjukan bahwa arang aktif Meretrix meretrix sebelum aktivasi memiliki kadar air dan kadar abu yang lebih tinggi yaitu 20,48% dan 31,60% dibandingkan dengan arang aktif yang sudah diaktivasi yaitu 4.17% dan 21,26%. Hasil adsorpsi menunjukan bahwa Meretrix meretrix dengan aktivasi dalam isoterm Freundlich memiliki kemampuan menyerap Pb2+ sebesar 1,173 mg/g dibandingkan dengan tanpa aktivasi hanya 0,871 mg/g. Dapat disimpulkan bahwa limbah cangkang Meretrix meretrix dapat digunakan sebagai penyerap logam berat timbal (Pb2+).