Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

5 hasil
Subjek: faktor risiko
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Usia 6 - 23 Bulan Di Wilayah Kerja Uptd Puskesmas Tanjung Selor

2026•

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 6 - 23 BULAN DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS TANJUNG SELOR Abstrak Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 menunjukkan prevalensi stunting sebesar 19,8%, yang masih berada di atas target nasional sebesar 14,2%. Di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Selor, prevalensi stunting masih bervariasi antar desa/kelurahan sehingga menunjukkan stunting masih menjadi masalah kesehatan di tingkat lokal. Berbagai faktor diduga berhubungan dengan kejadian stunting, antara lain kualitas pelayanan antenatal care (ANC), berat badan lahir, pemberian ASI eksklusif, dan tingkat pengetahuan ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 6–23 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Selor. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian korelasional menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 93 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas ANC yang baik 67,7%, bayi lahir dengan berat badan normal 69,9%, tidak mendapatkan ASI eksklusif 69,9%, dan ibu memiliki tingkat pengetahuan rendah 44,1%. Mayoritas balita mengalami stunting 51,6%. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara kualitas ANC p=0,049, berat badan lahir p=0,004, pemberian ASI eksklusif p=0,044, dan tingkat pengetahuan ibu p=0,001 dengan kejadian stunting pada balita usia 6–23 bulan. Kesimpulan dari penelitian ini kualitas ANC, berat badan lahir, pemberian ASI eksklusif, dan tingkat pengetahuan ibu berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 6–23 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Selor. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kualitas pelayanan ANC melalui skrining kesehatan ibu hamil secara komprehensif, pemantauan status gizi ibu dan janin, konseling gizi, promosi ASI eksklusif, serta peningkatan pengetahuan ibu sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEKTIVITAS EDUKASI VIDEO FAKTOR RISIKO TINGGI IBU HAMIL DAN PERSALINAN TERHADAP PENGETAHUAN KADER POSYANDU DI KECAMATAN TARAKAN TENGAH

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kematian ibu terus menjadi tantangan kesehatan masyarakat, terutama terkait kehamilan dan persalinan berisiko tinggi. Deteksi dini faktor risiko merupakan upaya penting untuk mencegah komplikasi. Kader posyandu berperan dalam upaya promotif dan preventif kesehatan ibu, namun pengetahuan mereka tentang faktor risiko tinggi masih rendah sehingga diperlukan metode edukasi yang efektif. Media video cukup efektif untuk menyebarluaskan informasi sehingga dapat meningkatkan pemahaman kader. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh edukasi kesehatan berbasis video terhadap pengetahuan kader posyandu mengenai faktor risiko tinggi ibu hamil dan bersalin di Kecamatan Tarakan Tengah. Penelitian quasi experiment dengan one group pretest–posttest dilakukan pada Januari 2025 dengan sampel 60 kader yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Intervensi berupa video edukasi ±5 menit. Pengukuran pengetahuan menggunakan kuesioner 19 item yang telah valid dan reliabel. Analisis univariat dan bivariat dilakukan dengan uji Wilcoxon karena data tidak berdistribusi normal (Kolmogorov–Smirnov, p = 0,000). Hasil pretest menunjukkan kategori baik 56,7%, cukup 40,0%, dan kurang 3,3%. Posttest meningkat menjadi baik 95,0%, cukup 3,3%, dan kurang 1 1,7%. Uji Wilcoxon p = 0,000 menunjukkan peningkatan pengetahuan signifikan. Edukasi melalui media video efektif meningkatkan pengetahuan kader dan mendukung deteksi dini serta pencegahan komplikasi kehamilan dan persalinan

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANAK DENGAN DIAGNOSA KEJANG DEMAM DIRUANG PERAWATAN ANGGREK B RSUD TARAKAN

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kejang demam adalah kejang yang disebabkan oleh peningkatan suhu tubuh diatas 38 derajat C namun tidak disertai penyebab atau penyakit lain yang membuat terjadinya kejang seperti infeksi saraf pusat dan masih banyak lagi. Berulangnya kejang demam disebabkan oleh banyaknya faktor risiko, salah satu faktor risiko tersebut adalah riwayat kejang di keluarga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko berulangnya kejang demam dan apakah terdapat hubungan antara riwayat kejang di keluarga dengan berulangnya kejang demam. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan desain cross sectional serta telah melewati ethical clearance. Jumlah sampel sebanyak 69 pasien dipilih secara simple random sampling. Data didapatkan melalui rekam medis semua pasien anak dengan kejang demam berulang yang dirawat di RSUD Tabanan tahun 2017 - 2020. Dari 69 sampel pasien kejang demam, sebanyak 37 sampel (53,6%) mengalami kejang demam berulang. Hasil pen- gujian independent t test mendapatkan pengaruh yang signifikan antara jenis kejang demam sederhana dan riwayat kejang di keluarga terhadap berulangnya kejang demam. Hasil uji regresi logis- tik menunjukan bahwa riwayat kejang di keluarga memiliki hubungan yang kuat terhadap berulangnya kejang demam Anak memiliki risiko lebih besar untuk kembali mengalami kejang demam apabila memiliki riwayat kejang di keluarga.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pneumonia pada balita masih menjadi masalah kesehatan yang utama di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka morbiditas dan mortalitas pneumonia balita. Salah satu upaya untuk menurunkan kasus pneumonia yaitu dengan cara mengetahui faktor-faktor risiko yang mengakibatkan terjadinya pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Karang Rejo dan Puskesmas Sebengkok. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah balita yang didiagnosis pneumonia dan tidak pneumonia dari bulan Mei-Juni 2023 di Puskesmas Karang Rejo dan Puskesmas Sebengkok sebanyak 101 responden dan didapatkan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian dengan menggunakan uji chi square diperoleh ada hubungan antara status merokok anggota keluarga dengan kejadian pneumonia (p-value : 0,001) dan tidak ada hubungan antara status gizi (p-value : 0,534), riwayat ASI ekslusif (p-value : 0,210)dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Karang Rejo dan Puskesmas Sebengkok. Kesimpulan penelitian ini diharapkan masyarakat dapat meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat yaitu dengan cara memberikan edukasi kepada keluarga dan masyarakat tentang upaya pencegahan pneumonia terutama dalam hal paparan asap rokok.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit ginjal kronis pada masyarakat di wilayah pesisir

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penyakit ginjal kronis merupakan suatu keadaan adanya penurunan fungsi ginjal secara progresif yang terjadi dalam beberapa bulan atau tahun. Secara global, setiap tahun terdapat 850.000 kematian akibat dari penyakit ginjal kronis. Tingginya angka kejadian penyakit ginjal kronis diduga disebabkan oleh beberapa faktor risiko seperti penyakit hipertensi, diabetes mellitus, kebiasaan merokok, konsumsi minuman suplemen, dan gaya hidup. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit ginjal kronis pada masayarakat pesisir. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel 68 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor sosiodemografi (usia dan jenis kelamin), penyakit penyerta (hipertensi, diabetes mellitus, dan hiperurisemia), gaya hidup (konsumsi seafood, alkohol, dan kafein) dengan kejadian penyakit ginjal kronis pada masyarakat di wilayah pesisir. Kesimpulan terdapat faktor risiko sosio demografi (usia dan jenis kelamin), terdapat faktor risiko penyakit penyerta (hipertensi, diabetes mellitus, hiperuresemia), terdapat faktor risiko gaya hidup (komsumsi seafood, alcohol, dan kafein) dengan kejadian penyakit ginjal kronis pada masyarakat di wilayah pesisir, tidak ada hubungan faktor sosiodemografi (pendidikan), gaya hidup (komsumsi suplemen), dan riwayat keluarga dengan penyakit ginjal kronis pada masyarakat di wilayah pesisir. Diharapkan masyarakat dapat melakukan pemeriksaan secara berkala terkait tekanan darah, kadar gula, dan kadar asam urat didalam darah, serta dapat mengubah gaya hidup yang lebih positif guna mencegah terjadinya penyakit ginjal kronis.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail