Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Subjek: Vibrio sp.
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Aktivitas Antibakteri Kalsium Oksida (CaO) dari Cangkang Kapah Terhadap Bakteri Vibrio sp.

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Budidaya udang windu (Penaeus monodon) menghadapi ancaman serius akibat infeksi bakteri Vibrio sp., yang dapat menyebabkan vibriosis dan Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) dengan tingkat mortalitas lebih dari 90%. Penggunaan antibiotik sintetis yang tidak terkontrol dapat memicu resistensi bakteri dan meninggalkan residu berbahaya pada produk perikanan, sehingga diperlukan alternatif antibakteri yang efektif dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kalsium oksida (CaO) yang disintesis dari limbah cangkang kerang kapah (Meretrix sp.) sebagai agen antibakteri terhadap Vibrio sp. CaO diperoleh melalui kalsinasi tepung cangkang pada suhu 1000°C dan dikarakterisasi menggunakan spektroskopi FTIR. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan yaitu kontrol positif amoksisilin, kontrol negatif etanol, CaO 5%, 10%, dan 15%, masing-masing tiga ulangan. Hasil karakterisasi FTIR mengkonfirmasi terbentuknya CaO yang ditandai munculnya puncak vibrasi ikatan Ca–O pada bilangan gelombang 551,64 cm⁻¹ dan 397,34 cm⁻¹. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi CaO mampu menghambat pertumbuhan Vibrio sp., dengan diameter zona hambat tertinggi pada konsentrasi 15% sebesar rata-rata 5,67 mm.Uji One Way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan antar perlakuan (p = 0,006; p 0,05), mengindikasikan bahwa aktivitas antibakteri CaO bersifat semakin tinggi konsentrasi, semakin kuat efeknya. Mekanisme kerja antibakteri melalui, pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS), denaturasi protein, dan kerusakan membran sel bakteri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa CaO dari cangkang kerang kapah berpotensi dikembangkan sebagai agen antibakteri alami dan ramah lingkungan untuk mendukung budidaya udang yang berkelanjutan. Kata kunci: Akuakultur; Difusi cakram; Meretrix sp.; Vibrio sp.; Zona hambat. Abstract Tiger prawn (Penaeus monodon) aquaculture faces a serious threat from Vibrio sp. bacterial infections, which can cause vibriosis and Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), with a mortality rate exceeding 90%. The uncontrolled use of synthetic antibiotics can trigger bacterial resistance and leave harmful residues in fishery products, necessitating the development of effective and environmentally friendly antibacterial alternatives. This study aims to evaluate the effectiveness of calcium oxide (CaO) synthesized from waste shells of the kapah clam (Meretrix sp.) as an antibacterial agent against Vibrio sp. CaO was obtained through calcination of shell powder at 1000°C and characterized using Fourier Transform Infrared (FTIR) spectroscopy. Antibacterial activity testing was conducted using the disc diffusion method with a Completely Randomized Design (CRD), comprising five treatments: a positive control of amoxicillin, a negative control of ethanol, and CaO at concentrations of 5%, 10%, and 15%, each replicated three times. FTIR characterization confirmed the formation of CaO, indicated by the appearance of Ca-O bond vibration peaks at wavenumbers of 551.64 cm¹ and 397.34 cm. The results show that all CaO concentrations were capable of inhibiting the growth of Vibrio sp., with the highest inhibition zone diameter recorded at the 15% concentration, yielding a mean of 5.67 mm. One-Way ANOVA revealed significant differences among treatments (p=0.006; p 0.05), indicating a concentration-dependent antibacterial activity, whereby higher concentrations produced stronger inhibitory effects. The antibacterial mechanism operates through the formation of Reactive Oxygen Species (ROS), protein denaturation, and bacterial cell membrane damage. This study concludes that CaO derived from kapah clam shells has potential for development as a natural and environmentally friendly antibacterial agent to support sustainable prawn aquaculture. Keywords: Aquaculture, Disc Diffusion, Meretrix sp., Vibeto sp., Inhibition Zone.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI BAKTERI Vibrio sp., Salmonella sp., DAN Escherichia coli PADA PRODUK KERING IKAN NOMEI (Harpadon nehereus) DI KOTA TARAKAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Ikan nomei (Harpadon nehereus) merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan di Kota Tarakan yang banyak dikonsumsi dalam bentuk ikan kering. Namun, proses pengolahan dan penyimpanan yang kurang higienis dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri patogen, seperti Vibrio sp., Salmonella sp., dan Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan ketiga bakteri tersebut pada ikan nomei kering yang diperdagangkan di Pengepul Juata Laut dan Pasar Batu, Kota Tarakan. Metode penelitian meliputi isolasi bakteri dengan media selektif, uji biokimia, dan pewarnaan Gram. Sampel ikan diolah menggunakan Tryptone Soya Agar (TSA) dan Thiosulfate Citrate Bile Salts Sucrose Agar (TCBS) untuk mendeteksi keberadaan Vibrio sp., serta media selektif lain untuk Salmonella sp. dan Escherichia coli. Setelah dilakukan analisis laboratorium, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan kontaminasi Vibrio sp., Salmonella sp., maupun Escherichia coli pada sampel ikan yang diuji. Ikan nomei kering yang dijual di Pengepul Juata Laut dan Pasar Batu Kota Tarakan tergolong aman dari ketiga jenis bakteri patogen tersebut. Namun, pengawasan rutin terhadap sanitasi dan kebersihan dalam proses pengolahan, penyimpanan, serta distribusi ikan tetap diperlukan untuk memastikan keamanan pangan yang berkelanjutan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI BAKTERI Vibrio sp., Salmonella sp., DAN Escherichia coli PADA RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) YANG BERASAL DARI PERAIRAN NUNUKAN, TARAKAN DAN SEBATIK

2025•

Budidaya rumput laut merupakan sektor strategis dalam perikanan Indonesia yang berkontribusi signifikan terhadap produksi nasional, khususnya jenis Kappaphycus alvarezii yang memiliki nilai ekonomis tinggi untuk industri pangan, karagenan, dan kosmetik. Kualitas mutu Kappaphycus alvarezii dipengaruhi oleh kontaminasi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis bakteri pada Kappaphycus alvarezii di perairan Tarakan, Nunukan, dan Sebatik, serta menganalisis parameter kualitas air seperti pH dan suhu. Metode penelitian melibatkan Identifikasi bakteri menggunakan uji biokimia, serta analisis kualitas air. Hasil Parameter suhu dan pH Nunukan untuk pH 7,55, Sebatik 7,56 dan Tarakan 7,23 sedangakan suhu untuk Nunukan 300C, Sebatik 300C dan Tarakan 310C. Berdasarkan dari hasil pengujian terhadap Rumput laut (Kappaphyus alvarezii) yang di Budidayakan oleh Masyarakat Nunukan, Sebatik, Tarakan menunjukkan hasil negatif dari cemaran bakteri Vibrio sp. Hasil uji pendugaan menunjukan hasil negatif tidak ditemukan adanya cemaran bakteri Escherichia coli Hasil uji mengguakan media selektif SSA Menunjukkan hasil negatif tidak di temukan bakteri Salmonella sp. Temuan ini memberikan data penting untuk strategi pengendalian bakteri guna meningkatkan keberhasilan budidaya di wilayah penelitian.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGGUNAAN EKSTRAK ETANOL RUMPUT LAUT (KAPPAPHYCUS ALVAREZII) UNTUK MENEKAN AKTIVITAS BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT ICE-ICE PADA RUMPUT LAUT SECARA IN-VITRO

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bakteri patogen yang sering menyerang rumput laut yaitu bakteri Vibrio sp, penyakit pada rumput laut ini disebut Ice-ice atau bercak putih. Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengkaji potensi antibakteri ekstrak rumput laut segar terhadap bakteri Vibrio sp yang menyebabkan penyakit Ice-ice pada rumput laut, melalui uji in-vitro. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental, identifikasi bakteri didapatkan bakteri Vibrio sp dengan gram negatif. Uji in-vitro dilakukan dengan enam perlakuan tiga ulangan pada konsentrasi 15%, 20%, 25%, 30%, K+ dan K-. Hasil uji in-vitro memperlihatkan bahwa ekstrak rumput laut pada konsentrasi 15% sampai 30% berpotensi sebagai antibakteri Vibrio sp dengan diameter zona hambat terbesar pada konsetrasi 30% yaitu 19.2 mm.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail