ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemanfaatan bakteri sebagai probiotik dalam budidaya udang windu merupakan salah satu upaya preventif yang efektif untuk mengurangi risiko serangan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas bakteri Bacillus subtilis dan Lactobacillus acidophilus dalam menghambat infeksi bakteri patogen Vibrio parahaemolyticus pada udang windu (Penaeus monodon). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga Maret 2025 di Laboratorium Biologi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Borneo Tarakan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pengujian secara in vitro dan in vivo. Konsentrasi bakteri yang digunakan dalam kedua pengujian tersebut adalah B. subtilis dan L. acidophilus masing-masing sebesar 10^8 CFU/mL, serta V. parahaemolyticus sebanyak 10^4 CFU/mL. Parameter yang diamati meliputi kemampuan daya hambat B. subtilis dan L. acidophilus, kelangsungan hidup, pola kematian, rata-rata waktu kematian (RWK), Relative Percentage Survival (RPS), kelimpahan bakteri, dan gejala klinis. Hasil uji in vitro menunjukkan bahwa L. acidophilus memiliki daya hambat yang lebih besar terhadap V. parahaemolyticus dengan rata-rata zona hambat sebesar 7,07 mm ± 4,94, dibandingkan B. subtilis yang hanya menghasilkan rata-rata zona hambat sebesar 2,18 mm ± 0,92. Data in vitro tersebut sejalan dengan hasil uji in vivo, di mana perlakuan L. acidophilus menunjukkan tingkat kelangsungan hidup tertinggi, yaitu sebesar 69,67% ± 15,50, diikuti oleh perlakuan B. subtilis sebesar 43,00% ± 5,00. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa L. acidophilus memiliki potensi lebih besar sebagai agen probiotik untuk meningkatkan ketahanan udang terhadap infeksi V. parahaemolyticus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyakit akibat bakteri Vibrio parahaemolyticus merupakan masalah besar dalam budidaya udang windu (Penaues monodon) yang menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan. Salah satu alternatif pengobatan yang lebih ramah lingkungan dan efektif adalah penggunaan ekstrak daun sirih (Piper betle), yang diketahui memiliki sifat antibakteri, antioksidan, dan imunostimulan yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun sirih dalam meningkatkan kelangsungan hidup udang windu terhadap infeksi bakteri V. parahemolyticus serta menentukan dosis terbaik ekstrak daun sirih yang dapat meningkatkan ketahanan tubuh udang. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari kontrol positif (tanpa perendaman ekstrak daun sirih, hanya uji tantang dengan bakteri), kontrol negatif (tanpa pemberian bakteri, hanya perendaman ekstrak daun sirih), serta tiga perlakuan dengan ekstrak daun sirih pada dosis 35 ppm,40 ppm, dan 45 ppm. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup (SR), laju pertumbuhan spesifik (SGR), gejala klinis infeksi, serta kualitas air selama penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan B dengan dosis 35 ppm memberikan SR tertinggi 60% serta memiliki nilai SGR mencapai 15.97%. Hasil uji coba menunjukkan perlakuan B tidak berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya.. Analisis kualitas air menunjukan bahwa semua parameter masih berada dalam kisaran standar baku mutu yang direkomendasikan untuk budidaya udang windu. Berdasarkan hasil ini, ekstrak daun sirih dapat dijadikan alternatif dalam meningkatkan ketahanan tubuh udang windu terhadap infeksi V. parahaemolyticus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
PENGGUNAAN PROBIOTIK DENGAN TEKNIK KULTUR BERBEDA UPAYA MENEKAN PERTUMBUHAN BAKTERI Vibrio parahaemolyticus PADA MEDIA PEMELIHARAAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) Abstrak Udang windu P. monodon adalah salah satu spesies udang yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam industri perikanan. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri ini dapat menyebabkan penyakit pada udang yang dikenal sebagai Vibrio infection atau Vibriosis. Untuk mengatasi masalah tersebut, penggunaan probiotik telah menjadi fokus penelitian dalam budidaya udang windu. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji kemampuan dari probiotik komersil dan probiotik hasil kultur dalam menekan pertumbuhan populasi V. parahaemolyticus serta menganalisa kepadatan populasi dari V. parahaemolyticus pada media budidaya udang windu. Penelitian ini dilakukan masa pemeliharaan 15 hari, kemudian dilanjut uji tantang dan untuk perhitungan atau analisa jumlah koloni bakteri serta isolasi bakteri menggunakan metode Total Plate Count . Kemudian untuk parameter kualitas air yang diukur dalam penelitian ini meliputi suhu, oksigen terlarut (DO), pH (derajat keasaman), salinitas, dan amonia. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Anova dan disajikan dalam bentuk grafik. Hasil penelitian diperoleh selama masa penelitian menunjukkan jumlah bakteri V. parahaemolyticus pada perlakuan P1 tanpa pemberian probiotik didapatkan nilai 1,85 x 106 CFU/ml, P2 dengan probiotik komersil (EM4) yaitu 4 x 105 CFU/ml, dan P3 probiotik hasil kultur 8 x 104 CFU/ml. Pada perlakuan P3, yaitu dengan penambahan probiotik hasil kultur mampu menekan pertumbuhan bakteri V. parahaemolyticus pada media pemeliharaan udang windu dibandingkan dengan perlakuan lainnya.