ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penerapan kewaspadaan standar merupakan upaya penting dalam mencegah penularan infeksi di rumah sakit. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang memiliki kontak langsung dengan pasien berisiko tinggi mengalami paparan darah maupun cairan tubuh, sehingga persepsi terhadap kewaspadaan standar menjadi faktor penting dalam praktik pencegahan infeksi. Health Belief Model (HBM) dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku kesehatan berdasarkan persepsi individu terhadap ancaman, manfaat, dan hambatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi perawat terhadap kewaspadaan standar di Rumah Sakit X berdasarkan teori Health Belief Model. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 317 perawat yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Basic Principle of Standard Precaution versi bahasa Indonesia yang mengukur tiga konstruk utama HBM, yaitu persepsi ancaman, persepsi manfaat, dan persepsi hambatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki persepsi ancaman dalam kategori baik sebanyak 226 orang (71,3%), persepsi manfaat dalam kategori baik sebanyak 211 orang (66,6%), dan persepsi hambatan dalam kategori baik sebanyak 203 orang (64,0%). Selain itu, sebagian besar responden pernah mengalami paparan di tempat kerja, yaitu terpajan darah atau cairan tubuh pasien sebanyak 223 orang (70,3%) serta tertusuk jarum atau benda tajam infeksius sebanyak 126 orang (39,7%). Kejadian paparan dan tertusuk jarum paling banyak terjadi pada perawat yang bekerja di ruang operasi (OK), yaitu sebanyak 21 orang (77,8%). Secara umum, persepsi perawat terhadap kewaspadaan standar berdasarkan teori Health Belief Model berada pada kategori baik, meskipun masih terdapat sebagian perawat dengan persepsi kurang baik terutama pada aspek hambatan. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan pelatihan serta peningkatan budaya keselamatan kerja guna mendukung penerapan kewaspadaan standar secara konsisten di rumah sakit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penegakan diagnosis merupakan aspek penting dalam praktik keperawatan. Diagnosis keperawatan telah diterapkan di berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya, namun pengetahuan perawat terkait indikator-indikator diagnostik untuk penegakan diagnosis masih perlu ditingkatkan agar penegakan dapat dilakukan secara tepat dan terstandarisasi, serta proses penegakan diagnosis tidak dianggap sulit. SDKI sebagai pedoman perumusan diagnosis keperawatan telah diberlakukan sejak tahun 2017, akan tetapi pada kenyataannya saat ini penerapan diagnosis keperawatan berdasarkan SDKI belum optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengeksplorasi pengalaman perawat dalam menegakkan diagnosis keperawatan berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi. Hasil penelitian ini memunculkan tema antara lain: (1) tantangan baru, (2) perasaan ambivalen, (3) kendala penggunaan SDKI, (4) butuh dukungan eksternal, (5) memudahkan perawat. Penggunaan SDKI memudahkan dalam penentuan diagnosis karena memiliki batasan karakteristik yang telah disesuaikan dengan keluhan pada pasien secara umum. Komite rumah sakit perlu melakukan penyegaran nursing care plan yang disesuaikan dengan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
STUDY KUALITATIF TENTANG STRES PERAWAT SAAT TERKONFIRMASI POSITIF COVID-19 DI RSUD H. JUSUF S.K TARAKAN Abstrak Prevalensi kejadian stres cukup tinggi. Setiap orang mempunyai toleransi yang berbeda terhadap berbagai situasi stres. Kejadian stres merupakan kejadian epidemi dunia pada abad ke-21. Data yang peneliti dapatkan di Rumah Sakit H. Jusuf S.K terkonfirmasi Covid-19 ada 15 orang, 7 orang mengatakan mengalami stress berat (tekanan darah meningkat, jantung berdebar-debar), 5 orang mengatakan stres ringan (sakit kepala, banyak tidur), 3 orang mengatakan biasa saja karena pasti akan sembuh. Penelitian ini bertujuan menggali pengalaman perawat yang mengalami stres saat terkonfirmasi Covid-19 di Rumah Sakit H. Jusuf S.K Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Penelitian ini berbentuk kualitatif dengan menggunakan alat bantu menggunakan tape recorder atau voice rekaman pada handphone, field note, dan daftar pertanyaan terstruktur yang telah dilakukan uji validitas sebelumnya pada beberapa partisipan dan memberikan makna yang sama. Setiap jawaban yang diberikan oleh partisipan, dikembangkan oleh peneliti sehingga tidak keluar dari topik yang didiskusikan dan diusahakan dapat bersambung ke pertanyaan selanjutnya. Hasil penelitian yang ditemukan peneliti tentang stres yang dialami perawat saat terkonfirmasi Covid-19 di RSUD Jusuf S.K Tarakan Kalimanatan Utara ditemukan 4 tema dan 8 subtema. Tema hasil penelitian ini adalah faktor yang mempengaruhi stres perawat saat terkonfirmasi Covid-19, stres yang dialami perawat saat terkonfirmasi Covid-19 yaitu gejala yang dialami saat terkonfirmasi Covid-19, tingkat stres yang dialami perawat saat terkonfirmasi Covid-19 dengan data pendukung yaitu stres sedang dan stres berat dan tindakan yang dilakukan untuk menenangkan diri yang dipengaruhi oleh kegiatan yang dilakukan dalam mengatasi stres dan keyakinan diri yang kuat untuk sembuh. Faktor yang mempengaruhi stres perawat saat terkonfirmasi Covid-19 merupakan tema yang paling mendukung.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
ABSTRAK Berdasarkan Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009, Rumah sakit memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman, efektif dan bermutu dengan mengutamakan kepentingan pasien. Salah satu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kepentingan pasien adalah dalam hal pelaksanaan perencanaan pulang atau discharge planning. Kegagalan dalam memberikan dan mendokumentasikan Discharge Planning dapat berisiko terhadap beratnya penyakit, ancaman hidup, dan disfungsi fisik. Rancangan penelitian ini adalah analitic correlational dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian berjumlah 110 orang yang dipilih berdasarkan teknik purpsove sampling. Hasil penelitian menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan perawat dengan kepatuhan dalam pelaksanaan discharge planning pada pasien rawat inap dengan Pvalue sebesar 0,005 0,05. Perawat yang memiliki pengetahuan kurang memiliki peluang untuk tidak patuh dalam menerapkan discharge planning 3,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan perawat yang memiliki pengetahuan dalam kategori baik. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi tenaga kesehatan khususnya perawat dalam melaksanakan perannya sebagai edukator, diharapkan lebih meningkatkan pengetahuan khususnya dalam pelaksanaan discharge planning agar dapat melaksanakan discharge planning secara baik.