ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Belanja pemerintah yang terdiri atas belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal merupakan instrumen fiskal untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan publik, dan pembangunan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta belanja modal terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pengangguran, dan kemiskinan di Provinsi Kalimantan Utara 2015–2024. Hasil analisis regresi data panel menggunakan Eviews.14. Model 1 (PDRB) dengan model FEM Y₁it=184.636,6+0,8391X₁it+0,9440X₂it−0,2844X₃it+εit dan Adjusted R²=0,9962. Hasil analisis cross effect menunjukkan bahwa Kabupaten Bulungan menambah nilai PDRB sebesar 911.289,4. Sedangkan KTT (-215.108,7), Malinau (-251.161,1), Nunukan (-232.369,5), dan Kota Tarakan (-212.650,1) mengurangi nilai PDRB. Model 2 (Pengangguran) dengan model CEM Y₂it= 4,7102+0,0035X₁it−0,0068X₂it+0,0023X₃it+εit dan Adjusted R²=0,1805. Belanja pegawai berpengaruh positif signifikan, belanja barang dan jasa berpengaruh negatif signifikan, sedangkan belanja modal tidak signifikan. Model 3 (Kemiskinan) dengan model REM Y₃it=17,3514−1,2152X₁it−0,6071X₂it+ 0,03371X₃it εit dan Adjusted R²=0,0534. Hasil Cross effect menunjukkan bahwa Kabupaten Bulungan meningkatkan nilai kemiskinan sebesar 2,5943 dan Malinau 0,7540. Sebaliknya, KTT mengurangi nilai kemiskinan (-1,9209), Nunukan (-0,4937), dan Kota Tarakan (-0,9337). Belanja pemerintah berkontribusi terhadap peningkatan PDRB, namun tidak berpengaruh signifikan dalam mengurangi pengangguran dan kemiskinan di Provinsi Kalimantan Utara.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Tujuan penelitian ini adalah untuk (i) mengetahui efektivitas belanja modal pemerintah terhadap penurunan kemiskinan dan pengangguran di Malinau, untuk (ii) mengetahui kebutuhan belanja modal pemerintah di Malinau tahun 2024-2028. Periode yang digunakan dalam penelitian ini adalah lima belas tahun, mulai dari 2009-2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan Time Series dengan menggunakan data sekunder. Dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang ditransformasi menjadi efektifitas belanja modal pemerintah terhadap penurnuan kemiskinan dan pengangguran. Adapun hasil analisis ICOR yang ditransformasikan, kemiskinan tahun 2009-2013 nilai efektivitasnya -3,40. Periode berikutnya 2014-2018 efektivitasnya 5,66. Selanjutnya periode ketiga tahun 2019-2023 efektivitasnya 24,23. Berdasarkan ketiga nilai itu maka nilai rata-rata efektivitas belanja modal terhadap kemiskinan 26,49. Artinya bahwa secara umum belanja modal terhadap penurunan kemiskinan tidak efektif. Sedangkan pengangguran tahun 2009-2013 nilai efektivitasnya -4,14. Periode berikutnya 2014-2018 efektivitasnya 8,20. Selanjutnya periode ketiga tahun 2019-2023 efektivitasnya -9,96. Berdasasrkan ketiga nilai itu maka nilai rata-rata efektivitas belanja modal terhadap pengangguran -5,90. Artinya bahwa secara umum belanja modal terhadap penurunan pengangguran efektif. Adapun untuk hasil dari proyeksi belanja modal pemerintah kabupaten malinau tahun 2024-2028 untuk penurunan kemiskinan dan pengangguran. Belanja modal yang diperlukan untuk Penurunan 3% kemiskinan tahun 2024 dibutuhkan Rp1.576.00171 triliun. Penurunan 1% kemiskinan tahun 2025 dibutuhkan Rp509.573.8863 miliar. Penurunan 4% kemiskinan tahun 2026 dibutuhkan Rp2.017.91259 triliun. Penurunan 5% kemiskinan tahun 2027 dibutuhkan Rp2.421.495108 triliun. Penurunan 4% kemiskinan tahun 2028 dibutuhkan Rp1.840.336282 triliun. Sedangkan untuk penurunan 3% pengangguran tahun 2024 dibutuhkan Rp59.985,9258 triliun. Untuk penurunan 1% pengangguran tahun 2025 dibutuhkan Rp2.648,440656 triliun. Penurunan 4% pengangguran tahun 2026 dibutuhkan Rp11.634,33121 triliun. Penurunan 5% pengangguran tahun 2027 dibutuhkan Rp13,961,19745 triliun. Penurunan 4% pengangguan tahun 2028 dibutuhkan Rp10.610,51006 triliun.