ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan yang potensial untuk dibudidayakan karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap berbagai kondisi lingkungan, termasuk kisaran salinitas yang luas. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi budidaya ikan nila adalah melalui penggunaan pakan yang memiliki kandungan nutrisi tinggi. Salah satu alternatif pakan yang dapat digunakan adalah maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (Hermetia illucens), yang dikenal memiliki kandungan protein tinggi dan berpotensi menggantikan pakan komersial. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemberian pakan alami maggot Black Soldier Fly dengan pakan pelet terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian dilaksanakan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang digunakan terdiri atas pakan pelet (perlakuan A), kombinasi 50% pelet dan 50% maggot (perlakuan B), serta pakan maggot 100% (perlakuan C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B (kombinasi 50% pelet dan 50% maggot) memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan panjang mutlak tertinggi sebesar 3,10 cm. Selanjutnya diikuti oleh perlakuan A (100% pelet) dengan pertumbuhan panjang mutlak sebesar 2,71 cm, dan perlakuan C (100% maggot) sebesar 2,51 cm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Kepiting bakau adalah komoditas budidaya perikanan yang mempunyai nilai ekspor yang tinggi yaitu senilai 6.95 juta ton pada tahun 2022. Salah satu barang modal produksi yang paling besar dalam usaha budidaya kepiting bakau adalah pakan. Kebergantungan terhadap pakan komersil yang mahal yaitu bisa mencapai 60-70 % dari total biaya budidaya dan pakan alami yang langka membuat kegiatan budidaya kepiting bakau menjadi terhambat. Maggot (larva) lalat Black Soldier Fly (BSF) dapat dijadikan bahan baku alternatif karena mempunyai kandungan protein 45-50%. Pembuatan pakan pellet kepiting dilakukan dengan teknologi enkapsulasi. Enkapsulasi bertujuan untuk melindungi zat inti dengan suatu lapisan polimer sehingga menjadi partikel yang berukuran mikro. Gelatin salah satu polimer yang dapat digunakan sebagai coating enkapsulasi. Gelatin mempunyai keunggulan selain sebagai coating, juga dapat menambah nutrisi pakan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Maggot kering dibuat dalam bentuk tepung kemudian di coating dengan gelatin dan dicetak membentuk pelet. Uji kualitas pakan dilakukan dengan pengujian parameter proksimat, uji stabilitas dalam air, kandungan aflatoksin, cemaran antibiotik kloramfenikol dan oksitetrasiklin, serta cemaran Salmonella sp. Pengujian terhadap pertumbuhan kepiting dilakukan dengan pemberian pakan pellet enkapsul sebanyak 3% biomassa dengan jumlah 20 sampel kepiting selama 20 hari. Berdasarkan hasil pengujian kualitas pakan enkapsul, didapatkan seluruh parameter sesuai dengan SNI 8227:2022. Pakan enkapsul berbasis maggot memiliki kadar protein 30%, lemak 22.63%, karbohidrat 15.51%, serat kasar 4.82%, kadar abu 9.03%, stabilitas dalam air 99.3%, dan tidak terdeteksi (negatif) terhadap aflatoksin, kloramfenikol, oksitetrasiklin dan cemaran Salmonella sp. Pengujian pertumbuhan pellet enkapsul terhadap kepiting bakau didapatkan pertumbuhan bobot mutlak (BM) 26,5 g dan food convertion ratio (FCR) 2.7 g. Berdasarkan hasil tersebut menunjukan bahwa pakan pellet enkapsul berbasis maggot mempunyai kualitas pakan untuk kepiting bakau.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu upaya meningkatkan kualitas pelet adalah melakukan pengkayaan. Pengkayaan pelet melalui penambahan berbagai senyawa, seperti vitamin, mineral, dan tumbuhan herbal baik berupa serbuk maupun ekstrak telah banyak dilaporkan para peneliti. Tumbuhan karamunting merupakan herbal yang memiliki pengaruh positif pada pertumbuhan benih udang windu. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pengkayaan pada pakan pelet dengan ekstrak daun karamunting terhadap laju pertumbuhan benur udang windu (Penaeus monodon) yang dipelihara di tambak tradisional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, terdiri dari dua perlakuan dan lima ulangan, yakni; perlakuan kontrol pemberian pellet tanpa ekstrak daun karamunting dan perlakuan pengkayaan pakan pellet dengan ekstrak daun karamunting sebanyak 150 mg/kg. Pakan yang diberikan sebesar 5 % dari biomassa populasi, frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari. Pemeliharaan dilakukan selama 3 bulan (90 hari). Parameter penelitian yang diamati adalah hasil uji T, menunjukkan respon pertumbuhan yang lebih baik terhadap laju pertumbuhan udang windu yang diberikan pakan pelet yang telah diperkaya ekstrak daun karamunting sebesar 5,13%. Pengkayaan daun karamunting dapat mempengaruhi laju pertumbuhan udang windu dibandingan dengan perlakuan kontrol. Tingkat kelangsungan hidup (SR) dari pemeliharaan udang windu di akhir penelitian menunjukkan nilai yang berbeda nyata antar perlakuan. Tingkat kelangsungan hidup benur udang windu berkisar 49-61%. kontrol sebesar 61%, perlakuan ekstrak sebesar 49%. Berdasarkan hasil yang diperoleh selama penelitian, pengkayaan pakan pelet dengan penambahan ekstrak daun karamunting dapat mempengaruhi laju pertumbuhan udang windu Penambahan ekstrak daun karamunting memberikan respon yang positif pada pertumbuhan udang windu.