ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kemampuan membaca pemahaman adalah kompetensi dasar yang berhubungan dengan kefasihan dalam kemampuan siswa memahami isi bacaan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa melalui penerapan metode membaca terbimbing. Penelitian ini mengaplikasikan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas V A SDN Utama 2 Tarakan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, tes membaca, tes membaca pemahaman, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas mengajar guru mengalami peningkatan dari 82,5% pada siklus I menjadi 95% pada siklus II dengan kategori tinggi. Aktivitas belajar siswa pada siklus I mencapai 87,2% dan pada siklus II sebesar 83,5%, yang keduanya berada pada kategori tinggi. Hasil tes membaca pemahaman pada siklus I menunjukkan kategori baik sekali sebesar 16,67%, baik 25%, dan kurang 58,33%. Pada siklus II, kategori baik sekali meningkat menjadi 25%, baik 25%%, sedang 33,33% dan kategori kurang menurun menjadi 16,67%. Dengan demikian, metode membaca terbimbing terbukti dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Reading comprehension skills are basic competencies related to students' fluency in understanding reading content This study aims to improve students' reading comprehension through guided reading. This study applies a Classroom Action Research (CAR) type conducted in two cycles. Each cycle consists of four stages, namely planning, implementation, observation, and reflection. The research subjects were fifth-grade students of SDN Utama 2 Tarakan. Data collection techniques. included observation, reading tests, reading comprehension tests, and documentation. The results showed that the teacher's teaching activities improved from 82.5% in cycle I to 95% in cycle II, which was categorized as high. Student learning activities in cycle I reached 87.2% and in cycle II reached 83.5%, both of which were in the high category. The results of the reading comprehension test in cycle I showed that 16.67% were in the very good category, 25% were in the good category, and 58.33% were in the poor category. In cycle II, the very good category increased to 25%, good 25%, fair 33.33%, and poor decreased to 16.67%. Thus, the guided reading method has been proven to improve students' reading comprehension skills.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan kosakata siswa melalui permainan Word Chain sebagai media pembelajaran dan juga untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap penggunaan permainan word chain didalam kelas. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-9 SMP Negeri 7 Tarakan, dengan jumlah 31 Siswa. Terdapat dua siklus dalam penelitian ini, dan setiap siklus terdiri dari tiga kali pertemuan yang meliputi perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Pada siklus pertama terdapat 15 siswa yang berhasil mencapai kriteria ketuntasan (KKTP) dengan nilai persentase 48%, sedangkan 16 siswa dengan persentase 52% belum mencapai kriteria ketuntasan (KKTP). Pada siklus kedua, terdapat 27 siswa yang mencapai kriteria kesuksesan (KKTP) dengan persentase 87% dan 4 siswa lainnya tidak mencapai kriteria kesuksesan (KKTP) dengan persentase 13%. Selain itu, observasi terhadap guru dan siswa juga mengalami peningkatan, yang menunjukkan tanggapan siswa terhadap permainan Word Chain. Siklus pertama, lembar observasi siswa mendapatkan score tinggi dipertemuan ketiga pada persentase 74% dengan kategori cukup dan siklus kedua dengan perkembangan yang sangat baik, mendapatkan nilai persentase 91% dengan kategori sangat baik. Disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran permainan Word Chain dapat meningkatkan penguasaan kosakata siswa di kelas VIII-9 SMP Negeri 7 Tarakan. This study aimed to improve students' vocabulary mastery through the Word Chain game as a learning media and to know the students' responses to the use of the word chain game in the classroom. The research method used was Classroom Action Research (CAR), involving 31 eighth-grade students from VIII-9 at SMP Negeri 7 Tarakan. There were two cycles in this study, and each cycle consisted of three meetings that included stages of planning, action, observation, and reflection. In the first cycle, 15 students successfully achieved the mastery criteria of learning objective with a percentage of 48%, while 16 students with a percentage of 52% did not achieve the mastery criteria. In the second cycle, the number of students meeting the criteria increased significantly to 27 students (87%), with only 4 students (13%) still below the expected standard. Observational data also indicated improvement in classroom engagement. Student observation scores rose from 74% in the “fair” category during the final meeting of the first cycle to 91% in the “very good” category in the second cycle. It was concluded that the use of the Word Chain game as a learning medium could enhance students’ vocabulary mastery in Grade VIII-9 at SMP Negeri 7 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas IV-B melalui penerapan media simulasi PhET (Physical Education Technology) dalam pembelajaran matematika. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas IV-B yang berjumlah 24 peserta didik. Data dikumpulkan melalui angket motivasi belajar, tes soal dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan media simulasi PhET dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik, yang ditandai dengan peningkatan skor motivasi belajar pada siklus I dan II. Pada siklus I, skor motivasi belajar peserta didik mencapai 75,00% yang temasuk dalam kategori sangat termotivasi, dan pada siklus II meningkat menjadi 95,83% yang termasuk dalam kategori sangat termotivasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media simulasi PhET dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika, karena PhET memungkinkan peserta didik untuk belajar secara interaktif dan menyenangkan.