ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan komoditas perkebunan strategis yang memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia, Kondisi lahan dapat menjadi faktor pembatas yang berpengaruh terhadap pertumbuhan kalapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kualitas lahan serta mengidentifikasi faktor pembatas produksi kelapa sawit pada lokus Sei Menggaris dan Sebatik, Kabupaten Nunukan. Landasan penelitian mengacu pada konsep evaluasi kualitas dan kesesuaian lahan berdasarkan FAO serta metode matching dengan prinsip simple limitation, yaitu mencocokkan karakteristik lahan dengan persyaratan tumbuh tanaman kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan pada Januari–April 2026 menggunakan metode survei. Penggalian data dilakukan melalui observasi lapangan, penentuan titik pengamatan, pengukuran karakteristik fisik lahan, pengambilan sampel tanah pada kedalaman 0–60 cm, pengumpulan data iklim, serta analisis sifat kimia tanah di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Penelitian dilakukan pada lima unit lahan, terdiri atas dua unit di Sebatik dan tiga unit di Sei Menggaris, dengan empat sampel tanah pada setiap titik pengamatan yang dikompositkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi iklim wilayah penelitian tergolong sesuai bagi pertumbuhan kelapa sawit, dengan rata-rata curah hujan 2.419 mm tahun⁻¹ dan rata-rata bulan kering 0,4 bulan. Karakteristik fisik lahan secara umum berada pada kelas sesuai, dengan tekstur agak halus hingga halus, kedalaman tanah 105–115 cm, serta kondisi lereng, drainase, erosi, genangan, batuan permukaan, dan singkapan batuan yang tidak menjadi faktor pembatas. Sifat kimia tanah menunjukkan pH H₂O 5,58–6,06, N-total 0,08–0,18%, P tersedia 5,80-8,22 ppm, K tersedia 5,29–9,63 ppm, dan C-organik 0,74–1,17%. Hasil evaluasi menunjukkan Sebatik 1, Sebatik 2, dan Sei Menggaris 2 termasuk kelas S1 (sangat sesuai), sedangkan Sei Menggaris 1 dan Sei Menggaris 3 termasuk S2 (cukup sesuai) dengan faktor pembatas utama berupa rendahnya C-organik. Produktivitas Sebatik mencapai 1.690 kg ha⁻¹, lebih tinggi dibandingkan Sei Menggaris sebesar 1.305 kg ha⁻¹. Dengan demikian, peningkatan bahan organik dan pemupukan berimbang diperlukan untuk memperbaiki kualitas lahan dan mendukung peningkatan produktivitas kelapa sawit secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi tingkat kesesuaian lahan pada tanaman padi sawah (Oryza sativa L.) di Desa Sajau Hilir, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, guna mendukung ketahanan pangan daerah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif melalui survei lapangan dan analisis laboratorium untuk mengidentifikasi karakteristik fisik serta kimia tanah. Parameter pengamatan meliputi temperatur (tc), ketersediaan air (wa), media perakaran (rc), retensi hara (nr), bahaya banjir (fh) dan penyiapan lahan (lp). Evaluasi dilakukan dengan metode pencocokan (matching) antara persyaratan tumbuh tanaman padi sawah berdasarkan kriteria BBPPSLP (2011) dengan kualitas lahan yang tersedia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kesesuaian lahan aktual di lokasi tersebut tergolong dalam kelas S1 (Sangat Sesuai) dan S2 (Cukup Sesuai). Faktor pembatas utama yang ditemukan meliputi retensi hara akibat pH tanah yang masam dan rendahnya kandungan bahan organik, serta faktor fisik berupa permeabilitas tanah yang tergolong agak cepat sehingga profil tanah sulit mempertahankan lengas, terutama saat suhu udara ekstrem mencapai 35,48°C. Meskipun demikian, seluruh lahan memiliki potensi untuk ditingkatkan menjadi kelas kesesuaian potensial S1 (Sangat Sesuai) melalui upaya perbaikan seperti pengapuran untuk menetralkan pH, pemberian pupuk organik guna meningkatkan ketersediaan hara, serta penerapan teknik pelumpuran (puddling) untuk membentuk lapisan kedap air agar pengelolaan air lebih efisien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu sumber penghasilan masyarakat di pulau Sebatik yaitu budidaya rumput laut. Usaha rumput laut semakin meningkat dan berkembang disepanjang pesisir Kecamatan Sebatik Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lahan budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii di perairan Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menggunakan metode scoring berdasarkan parameter kualitas perairan. Penelitian dilakukan pada bulan April hingga Mei 2025 di tiga lokasi pesisir yaitu Desa Setabu, desa Binalawan, dan Desa Liang Bunyu. Parameter yang diamati meliputi suhu, kecerahan, salinitas, pH, kecepatan arus, kandungan nitrat, dan fosfat. Analisis data menggunakan metode skor berjenjang. Skor total yang diperoleh kemudian diklasifikasikan dalam tiga kategori: Sesuai (S1) jika skor 66–90, Cukup Sesuai (S2) jika skor 42–65, dan Tidak Sesuai (N) jika skor 18–41. Hasil penelitian menunjukkan ketiga lokasi berada dalam kategori cukup sesuai (S2) dengan skor total berturut-turut Desa Setabu sebesar 62, Desa Liang Bunyu sebesar 57 dan Desa Binalawan sebesar 50. Faktor pembatas utama yang ditemukan adalah kecepatan arus yang melebihi batas optimal dan kandungan nitrat yang tinggi, terutama di lokasi yang berdekatan dengan pemukiman (Desa Setabu). Parameter lain seperti suhu (30–31°C), salinitas (29–31 ppt), pH (7,7–8,3), kecerahan (1–1,7 m), dan fosfat (0,009–0,050 mg/L) berada dalam kisaran SNI 2011 tentang kualitas air untuk pertumbuhan rumput laut. Kesimpulan, perairan Sebatik Barat memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya rumput laut secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Rumput laut dari Kabupaten Nunukan merupakan salah satu komoditas ekonomi unggulan daerah. Namun dalam aktivitas budidaya rumput laut masih ditemukan beberapa permasalahan yang mengakibatkan menurunnya jumlah produksi. Salah satu faktor keberhasilan budidaya rumput laut adalah kesesuaian lahan yang mendukung produksi rumput laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian lahan budidaya rumput laut (Kappaphycus alvarezii) di Kabupaten Nunukan, melalui parameter fisika kimia perairan. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari - Februari 2024. Setiap lokasi dilakukan sampling pada tiga titik sampling pada metode long line. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan cara survei pengamatan parameter perairan. Parameter pengamatan untuk analisis kesesuaian lahan yaitu pengukuran kualitas air selanjutnya dilakukan matching dan scoring. Parameter kualitas air yang diamati adalah parameter fisika dan kimia. Setelah diperoleh nilai skor dari setiap parameter pada setiap titik pengamatan, kemudian dilakukan penghitungan menggunakan program Microsoft Excel untuk menentukan penilaian sesuai (S1) dengan kisaran nilai 49-63, cukup sesuai (S2) dengan kisaran nilai 35-48 dan tidak sesuai (N) dengan kisaran nilai 28–47. Dari hasil analisis data diperoleh hasil bahwa Pancang kuning luar pada titik 1 masuk dalam kategori S1 (sesuai) sedangkan pada titik 2 dan titik 3 masuk dalam kategori S2 (cukup sesuai). Sedangkan, Pancang kuning dalam pada setiap titik masuk dalam kategori S2 (cukup sesuai) untuk dijadikan lahan budidaya rumput laut (Kappaphycus alvarezii).