ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) di Kota Tarakan tidak hanya memiliki fungsi ekologis yang penting, tetapi juga berpotensi sebagai sarana pendidikan lingkungan. Namun, pengelolaan kawasan di tengah wilayah perkotaan ini dihadapkan pada berbagai kendala. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran dan tantangan pengelola KKMB Kota Tarakan, serta menganalisis potensi kawasan tersebut sebagai sumber pembelajaran biologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam bersama informan pengelola kawasan, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran pengelola dalam menjaga kelestarian KKMB telah berjalan melalui manajemen kawasan secara rutin, yang mencakup pemeliharaan vegetasi mangrove dari sampah, perlindungan populasi bekantan (Nasalis larvatus) melalui pemantauan bulanan dan pemberian pakan tambahan, pengawasan aktivitas pengunjung, serta pelaksanaan edukasi lingkungan. Dalam pelaksanaannya, pengelola menghadapi tantangan berupa gangguan dari luar seperti tumpukan sampah plastik yang masuk ke kawasan, keterbatasan sumber daya manusia, dan minimnya fasilitas pendukung. Selain itu, terdapat kendala yuridis berupa tumpang tindih status kepemilikan lahan yang menghambat perbaikan aset fisik. Meskipun demikian, KKMB memiliki potensi dan keselarasan yang kuat untuk diintegrasikan sebagai sumber pembelajaran biologi yang kontekstual. Kawasan ini sangat relevan untuk mendukung materi ekosistem, keanekaragaman hayati, interaksi makhluk hidup, dan pelestarian lingkungan. Disimpulkan bahwa pengelola telah menjalankan fungsi manajemen konservasi dengan baik di tengah berbagai tantangan, dan kawasan ini sangat potensial untuk dimanfaatkan secara maksimal sebagai laboratorium alam bagi dunia pendidikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Degradasi ekosistem mangrove dan ancaman kepunahan bekantan (Nasalis larvatus) di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Tarakan menuntut inovasi pemantauan ekologis yang melampaui batasan observasi visual konvensional. Penelitian ini merancang ALFANDA (Automated Learning Framework for Acoustic Nasalis-larvatus Detection and Analysis), sebuah arsitektur cross-modal Artificial Intelligence untuk menerjemahkan vokalisasi bekantan ke dalam label semantik perilaku (Sosial Kasual, Agresi Teritorial, dan Peringatan Bahaya) tanpa bergantung pada pelatih pengklasifikasi parametrik konvensional yang rentan overfitting. Sebanyak 240 sampel vokal liar dikumpulkan secara non-invasif dan diproses melalui jaringan neural biodenoising. Untuk mencegah hilangnya sinyal biologis kritis (silent failures), segmentasi temporal Convolutional Recurrent Neural Network (CRNN) dari Voxaboxen secara taktis dikalibrasi pada ambang batas hipersensitif (0,01) dan dipulihkan melalui protokol Human-in-the-Loop (HITL), mengamankan tingkat Recall batas suara absolut sebesar 100%. Sistem secara inovatif mengekstraksi "sidik jari" akustik laten 1-Dimensi menggunakan model self-supervised Transformer (sl-BEATs-all). Studi ablasi mengungkap fenomena centroid dilution saat fitur bising (kotor) disatukan, sehingga klasifikasi dioptimalkan menggunakan clean-only embeddings melalui komputasi jarak spasial (Cosine Similarity). Pengujian algoritma secara ketat menggunakan event-level stratified split (N=148 segmen uji murni) membuktikan ALFANDA mencapai Akurasi Keseluruhan sebesar 65,13%. Model beroperasi secara adaptif menghadapi ketidakseimbangan data (imbalanced dataset); mencetak Presisi tinggi 87,23% pada vokalisasi Casual, dan mengamankan Sensitivitas (Recall) pada vokalisasi Warning. Penelitian ini secara teknis meletakkan fondasi komputasional zero-training yang tangguh terhadap distorsi lingkungan, siap diimplementasikan sebagai instrumen Passive Acoustic Monitoring (PAM) waktu-nyata (real-time) untuk memajukan konservasi alam berbasis interaksi lintas-spesies.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bekantan (Nasalis larvatus) adalah salah satu spesies yang dilindung. Primata ini memiliki ciri khas pada bagian hidungnya yang panjang. Di Kota Tarakan masyarakat mengenal bekantan dengan sebutan “Monyet Belanda” karena karakteristik wajahnya yang menonjol dan warna oranye pada bagian bulunya. Penelitian yang dilakukan di Kawasan Konservasi mangrove dan bekantan (KKMB) Tarakan bertujuan untuk mengetahui tingkah laku makan dan jenis p/akan serta mengidentifikasi potensi ancaman terhadap kelangsungan hidup bekantan. Teknik pengambilan yang digunakan adalah Ad libitum sampling, pengumpulan data melibatkan pemantauan rutinitas harian individu untuk menentukan durasi dan frekuensi perilaku yang diamati. Sampel penelitian terdiri dari dua ekor bekantan, terdiri dari satu jantan dan satu betina. Pengumpulan data melibatkan pemanfaatan tabel aktivitas harian, catatan perilaku makan, dan wawancara terstruktur pada pengelola Kawasan Konservasi mangrove dan bekantan (KKMB) Tarakan. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa proporsi aktivitas lokomotor/ berpindah bekantan, terhitung 30,26% dari perilaku yang diamati. Sementara itu, untuk perilaku makan diperoleh persentase sebanyak 55,68% dari yang paling banyak dilakukan adalah memetik dan untuk preferensi mengonsumsi daun muda dengan jumlah 58,42%. Bekantan menunjukkan preferensi untuk daun muda paling tinggi karena monyet ini termasuk folivorous (pemakan daun muda), karena daun ini rendah serat kasar, memfasilitasi pencernaan yang lebih mudah dan menawarkan kandungan protein yang tinggi. Selain itu, di KKMB bekantan juga diberikan pakan tambahan berupa pisang muda jenis kapok/muli. Temuan lain penelitian ini dari wawancara terdapat tiga sumber utama ancaman bagi para bekantan, yaitu faktor manusia, hewan, dan tumbuhan dalam fasilitas yang ditunjuk. Mengingat berbagai ancaman yang dihadapi oleh hewan endemik ini, diharapkan agar pengelolaan KKMB dapat dioptimalkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
NILAI MANFAAT EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI EKOWISATA DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE BEKANTAN (KKMB) KOTA TARAKAN Abstrak Konservasi Kawasan Mangrove Bekantan merupakan kawasan ekowisata yang sering dikunjungi oleh masyarakat lokal maupun luar pulau Kota Tarakan. Pemanfaatan hutan mangrove sebagai ekowisata merupakan langkah yang strategis guna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekologis dan ekonomis. Namun demikian, nilai ekonomi sumber daya alam yang menawarkan keindahan alam atau lanskap, pada umumnya bersifat non-market atau tidak dapat diperdagangkan. Untuk mengestimasi nilai ekonomi dari jasa lingkungan tersebut harus menggunakan teknik penilaian (valuation) tertentu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai manfaat ekosistem mangrove sebagai ekowisata dengan menggunakan metode analisis biaya perjalanan (Travel Cost Method) dan WTP (Willingness to pay). Lokasi penelitian ini dilaksanakan di KKMB Kecamatan Kota Tarakan Barat, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan september hingga oktober 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan biaya perjalanan (Travel Cost Method) dan pendekatan biaya kontribusi (WTP). Hasil penelitian yang diperoleh yaitu biaya perjalanan terendah terdapat 44 pengunjung dengan presentase 44 % dengan total biaya perjalanan di rata – ratakan kurang dari Rp. 940.000 – 990.000. Biaya perjalanan rata – rata responden (X1) yang diperoleh dari jumlah biaya perjalanan total responden (BPT) dibagi dengan jumlah responden sebesar Rp. 353.900/kunjungan. Rendahnya biaya perjalanan yang ada disebabkan karena rata – rata yag melakukan kunjungan ke KKMB merupakan warga domestik Kota Tarakan dan Kalimantan Utara maka dari itu biaya perjalanan yang dikeluarkan terbilang kecil.