BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
(STEMI) dapat menyebabkan gangguan fungsi jantung sehingga menyebabkan penurunan kemampuan pompa jantung yang berdampak pada keseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen. Pasien dengan STEMI mengalami gangguan pola pernapasan akibat peningkatan beban kerja pernapasan. Kondisi tersebut dapat ditandai dengan munculnya sesak napas, peningkatan frekuensi pernapasan. Saturasi oksigen dan frekuensi pernapasan merupakan parameter penting yang perlu dipantau pada pasien STEMI karena mencerminkan status oksigenasi dan respon tubuh terhadap gangguan kardiovaskular. Salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat diterapkan adalah kombinasi posisi semi fowler dan pursed lip breathing (PLB). Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui perubahan nilai saturasi oksigen dan frekuensi pernapasan pasien dengan STEMI setelah diberikan penerapan kombinasi posisi semi fowler dan pursed lip breathing. Penerapan inovasi keperawatan dilakukan pada empat pasien STEMI dengan masalah keperawatan pola napas tidak efektif di ruang ICVCU. Intervensi inovasi diberikan selama tiga hari dengan frekuensi dua kali sehari pada sesi pagi dan sore. Rata-rata frekuensi pernapasan sebelum intervensi dengan rentang 25-37 x/menit,sedangkan rata-rata saturasi oksigen dengan rentang 93-94%. Setelah dilakukan penerapan intervensi selama 3 hari dengan frekuensi 2 kali sehari yaitu sesi pagi dan sore, terjadi perbaikan parameter respirasi dengan rata-rata frekuensi pernapasan menurun dengan rentang 16-19 x/menit serta rata-rata saturasi oksigen dengan rentang 98-99%. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa penerapan kombinasi posisi semi fowler dan PLB membantu pasien dalam mengontrol pola napas dan meningkatkan status oksigenasi. Selain itu, menjadi salah satu intervensi keperawatan suportif dalam membantu memperbaiki pola napas pada pasien STEMI dengan masalah keperawatan pola napas tidak efektif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
(STEMI) dapat menyebabkan gangguan fungsi jantung sehingga menyebabkan penurunan kemampuan pompa jantung yang berdampak pada keseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen. Pasien dengan STEMI mengalami gangguan pola pernapasan akibat peningkatan beban kerja pernapasan. Kondisi tersebut dapat ditandai dengan munculnya sesak napas, peningkatan frekuensi pernapasan. Saturasi oksigen dan frekuensi pernapasan merupakan parameter penting yang perlu dipantau pada pasien STEMI karena mencerminkan status oksigenasi dan respon tubuh terhadap gangguan kardiovaskular. Salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat diterapkan adalah kombinasi posisi semi fowler dan pursed lip breathing (PLB). Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui perubahan nilai saturasi oksigen dan frekuensi pernapasan pasien dengan STEMI setelah diberikan penerapan kombinasi posisi semi fowler dan pursed lip breathing. Penerapan inovasi keperawatan dilakukan pada empat pasien STEMI dengan masalah keperawatan pola napas tidak efektif di ruang ICVCU. Intervensi inovasi diberikan selama tiga hari dengan frekuensi dua kali sehari pada sesi pagi dan sore. Rata-rata frekuensi pernapasan sebelum intervensi dengan rentang 25-37 x/menit,sedangkan rata-rata saturasi oksigen dengan rentang 93-94%. Setelah dilakukan penerapan intervensi selama 3 hari dengan frekuensi 2 kali sehari yaitu sesi pagi dan sore, terjadi perbaikan parameter respirasi dengan rata-rata frekuensi pernapasan menurun dengan rentang 16-19 x/menit serta rata-rata saturasi oksigen dengan rentang 98-99%. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa penerapan kombinasi posisi semi fowler dan PLB membantu pasien dalam mengontrol pola napas dan meningkatkan status oksigenasi. Selain itu, menjadi salah satu intervensi keperawatan suportif dalam membantu memperbaiki pola napas pada pasien STEMI dengan masalah keperawatan pola napas tidak efektif.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•
Kanker merupakan tantangan utama di wilayah pesisir karena adanya hambatan dalam mengakses layanan kesehatan. Perilaku pasien dalam mencari pengobatan sangat dipengaruhi oleh persepsi risiko, keterbatasan fasilitas medis, dan dukungan keluarga. Penelitian ini menyoroti dinamika adaptasi emosional dan spiritual, serta strategi pasien dalam menavigasi sistem kesehatan untuk memahami perilaku pencarian kesehatan pasien kanker. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi perilaku pencarian kesehatan pasien kanker. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan wawancara semi terstruktur. Analisis tematik digunakan untuk menganalisis data. Partisipan pada penelitian berjumlah 12 partisipan yang diambil sesuai kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Lima tema utama muncul: (1) Respons awal gejala dan inisiatif pengobatan; (2) Menjelajahi labirin sistem kesehatan; (3) kekuatan dukungan di perjalanan pasien; (4) Adaptasi emosional dan spiritual; (5) Hidup dengan minum obat dan kemoterapi. Kesimpulan penelitian ini Perilaku mencari pengobatan pasien kanker di wilayah pesisir dipengaruhi oleh persepsi awal gejala, hambatan akses dan pembiayaan layanan kesehatan, serta dukungan dari keluarga dan petugas kesehatan. Pasien menunjukkan kemampuan beradaptasi emosional dan spiritual dalam menghadapi proses diagnosis dan pengobatan, dan melanjutkan pengobatan meskipun menghadapi berbagai tantangan. Hasil penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang health seeking behavior pasien kanker di wilayah pesisir yang dapat menjadi dasar untuk pengembangan program intervensi dan layanan kesehatan yang lebih baik untuk pasien kanker
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kanker merupakan tantangan utama di wilayah pesisir karena adanya hambatan dalam mengakses layanan kesehatan. Perilaku pasien dalam mencari pengobatan sangat dipengaruhi oleh persepsi risiko, keterbatasan fasilitas medis, dan dukungan keluarga. Penelitian ini menyoroti dinamika adaptasi emosional dan spiritual, serta strategi pasien dalam menavigasi sistem kesehatan untuk memahami perilaku pencarian kesehatan pasien kanker. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi perilaku pencarian kesehatan pasien kanker. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan wawancara semi terstruktur. Analisis tematik digunakan untuk menganalisis data. Partisipan pada penelitian berjumlah 12 partisipan yang diambil sesuai kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Lima tema utama muncul: (1) Respons awal gejala dan inisiatif pengobatan; (2) Menjelajahi labirin sistem kesehatan; (3) kekuatan dukungan di perjalanan pasien; (4) Adaptasi emosional dan spiritual; (5) Hidup dengan minum obat dan kemoterapi. Kesimpulan penelitian ini Perilaku mencari pengobatan pasien kanker di wilayah pesisir dipengaruhi oleh persepsi awal gejala, hambatan akses dan pembiayaan layanan kesehatan, serta dukungan dari keluarga dan petugas kesehatan. Pasien menunjukkan kemampuan beradaptasi emosional dan spiritual dalam menghadapi proses diagnosis dan pengobatan, dan melanjutkan pengobatan meskipun menghadapi berbagai tantangan. Hasil penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang health seeking behavior pasien kanker di wilayah pesisir yang dapat menjadi dasar untuk pengembangan program intervensi dan layanan kesehatan yang lebih baik untuk pasien kanker