Desain dan Simulasi Maximum Power Point Tracking (MPPT) menggunakan Metode Perturb and Observe (P&O) dengan Boost Converter pada Thermoelectric Generator (TEG)
.
Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.
.
.Energi listrik merupakan sumber energi yang paling dibutuhkan saat ini, maka banyak dikalangan peneliti merancang pembangkit energi listrik dengan memanfaatkan berbagai sumber terbarukan, Energi listrik yang digunakan masih memanfaatkan fosil sebagai sumber bahan bakar, sedangkan persediaan energi fosil saat ini semakin menipis sehingga disarankan untuk dikembangkan salah satunya adalah Pembangkit Energi Listrik Generator Thermoelectric. Generator Thermoelectric untuk mengkonversi perbedaan energi suhu menjadi energi listrik. Tujuan penelitian dapat mengsimulasi dan menerapkan (Maximum Power Point Tracking) Metode (Perturb And Observe) dengan Boost Converter pada Thermoelectric Generator. Hasil penelitian pengujian Boost Converter, dimana arus keluaran yang dihasilkan adalah 2.78 A, tegangan keluaran ialah 24.5 V dan daya keluaran sebesar 57 W. Ketika suhu Tc dinaikan maka daya menjadi turun, daya yang awalnya 71.14 W berubah menjadi 60.61 W dan turun menjadi 43.2 W.Ketika suhu Th 150 ˚C dan Tc 30 ˚C tegangan dan arus yang dihasilkan sebesar 18.35 V dan 1.742 A, suhu 180 ˚C dan Tc 30 ˚C tegangan dan arus yang dihasilkan adalah 22.99 V dan 2.183 A, dan ketika suhu 250 ˚C dan Tc 30 ˚C tegangan dan arus yang dihasilkan sebesar 27.37 V dan 2.699 A.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan self-efficacy siswa kelas XII MIPA SMA Negeri 2 Tarakan dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian, yaitu satu siswa gender maskulin dan satu siswa gender feminin dengan klasifikasi self-efficacy tinggi. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari angket self-efficacy, Bem Seks Role Inventory, tes kemampuan pemecahan masalah, pedoman wawancara, dan dokumentasi yang telah disesuaikan dengan kriteria self-efficacy dalam pemecahan masalah matematika milik Polya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan deskripsi antara siswa gender maskulin dan gender feminin. Subjek maskulin memiliki keyakinan yang tinggi akan kemampuannya memecahkan masalah matematika. Akan tetapi, subjek maskulin lebih banyak membutuhkan bantuan orang lain dan masih belum bisa mengendalikan emosi serta rasa cemasnya secara optimal. Subjek sering kali membutuhkan bantuan dari guru maupun teman sebaya dalam prosesnya mengerjakan masalah matematika. Meskipun demikian, subjek bersungguh-sungguh mengerjakan pemecahan masalah dan mampu meyakinkan diri serta menyelesaikan permasalahan matematika dengan baik dan meminimalisir gangguan yang timbul selama proses pemecahan masalah matematika. Subjek dengan gender feminin memiliki keyakinan diri akan kemampuannya memecahkan masalah matematika. Subjek feminin mampu mengendalikan emosi dan rasa cemas serta mampu meminimalisir ketergantungan terhadap bantuan orang lain, baik guru mata pelajaran maupun teman sebaya. Subjek feminin bersungguh-sungguh mengerjakan pemecahan masalah matematika dan mampu meyakinkan diri serta menyelesaikan permasalah matematika dengan baik dan meminimalisir gangguan yang timbul selama proses pemecahan masalah matematika.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan self-efficacy siswa kelas XII MIPA SMA Negeri 2 Tarakan dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian, yaitu satu siswa gender maskulin dan satu siswa gender feminin dengan klasifikasi self-efficacy tinggi. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari angket self-efficacy, Bem Seks Role Inventory, tes kemampuan pemecahan masalah, pedoman wawancara, dan dokumentasi yang telah disesuaikan dengan kriteria self-efficacy dalam pemecahan masalah matematika milik Polya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan deskripsi antara siswa gender maskulin dan gender feminin. Subjek maskulin memiliki keyakinan yang tinggi akan kemampuannya memecahkan masalah matematika. Akan tetapi, subjek maskulin lebih banyak membutuhkan bantuan orang lain dan masih belum bisa mengendalikan emosi serta rasa cemasnya secara optimal. Subjek sering kali membutuhkan bantuan dari guru maupun teman sebaya dalam prosesnya mengerjakan masalah matematika. Meskipun demikian, subjek bersungguh-sungguh mengerjakan pemecahan masalah dan mampu meyakinkan diri serta menyelesaikan permasalahan matematika dengan baik dan meminimalisir gangguan yang timbul selama proses pemecahan masalah matematika. Subjek dengan gender feminin memiliki keyakinan diri akan kemampuannya memecahkan masalah matematika. Subjek feminin mampu mengendalikan emosi dan rasa cemas serta mampu meminimalisir ketergantungan terhadap bantuan orang lain, baik guru mata pelajaran maupun teman sebaya. Subjek feminin bersungguh-sungguh mengerjakan pemecahan masalah matematika dan mampu meyakinkan diri serta menyelesaikan permasalah matematika dengan baik dan meminimalisir gangguan yang timbul selama proses pemecahan masalah matematika.