BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Pembelajaran literasi sains sangat penting bagi peserta didik untuk dapat mengaplikasikan sains dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini penting untuk dilakukan mengingat pentingnya peran guru dalam meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pembelajaran berbasis literasi sains yang dilakukan oleh guru SMA Negeri di Kota Tarakan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian yaitu tujuh guru Biologi SMA Negeri di Kota Tarakan dengan penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh berdasarkan hasil angket dan wawancara. Hasil penelitian pada aspek pengetahuan ilmiah menunjukkan bahwa semua guru dapat membedakan istilah dalam pembelajaran literasi sains dan pada aspek keterampilan proses intelektual dalam indikator menghasilkan prinsip melalui induksi menunjukkan semua guru dapat menjelaskan fenomena hasil pengamatan, dalam indikator mengidentifikasi dan mengontrol variabel menunjukkan bahwa dua orang guru mengalami kendala dalam mengidentifikasi dan mengontrol variabel dan lima guru lainnya dapat mengidentifikasi dan mengontrol variabel, dalam indikator mengkontruksi grafik dan menemukan hubungan menunjukkan bahwa semua dapat mentransformasikan data ke dalam bentuk tabel/grafik, dalam indikator mendesain dan memimpin investigasi menunjukan bahwa tiga orang guru tidak mendesain sendiri, tiga guru lainnya mendesain sendiri dan satu guru lainnya kadang mendesain sendiri dan kadang tidak mendesain sendiri langkah-langkah praktikum, pada indikator menggunakan teknologi dan kepastian dalam investigasi menunjukkan bahwa satu orang guru tidak memanfaatkan peralatan laboratorium dan teknologi dan enam guru lainnya memanfaatkan peralatan dan teknologi dalam melakukan pengamatan serta dalam indikator penarikan kesimpulan dari fakta-fakta menunjukkan bahwa semua guru membuat kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari hasil pengamatan.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Minuman serbuk buah kundur merupakan salah satu upaya pemanfaatan buah kundur (Benincasa hispida). Pengolahan ini menggunakan metode foam mat drying dengan pengeringan konsentrat bahan cair menggunakan pengeringan pada suhu 50-80˚C.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu dan waktu pengeringan yang sesuai pada proses foam mat drying pada minuman serbuk buah kundur serta kandungan vitamin C dan kadar antioksidan pada minuman serbuk buah kundur yang dihasilkan. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor, yaitu suhu pengeringan (50ºC, 60ºC dan 70ºC) dan waktu pengeringan (6 jam, 12 jam dan 18 jam) yang diulangi sebanyak 3 kali sehingga terdapat 27 satuan percobaan. Parameter yang diamati adalah Kadar Air, Kadar Vitamin C dan Kadar Antioksidan. Berdasarkan hasil perhitungan pada parameter kadar air memiliki nilai paling tinggi adalah T1W1 (suhu 50ºC dengan waktu 6 jam) sebesar 5,85%, parameter kadar vitamin C memiliki nilai paling tinggi T2W2 (suhu 60ºC dengan waktu 12 jam) sebesar 2 mg dan pada parameter kadar antioksidan memiliki nilai tertinggi T3W3 (suhu 70ºC dengan waktu 18 jam).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Minuman serbuk buah kundur merupakan salah satu upaya pemanfaatan buah kundur (Benincasa hispida). Pengolahan ini menggunakan metode foam mat drying dengan pengeringan konsentrat bahan cair menggunakan pengeringan pada suhu 50-80˚C.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu dan waktu pengeringan yang sesuai pada proses foam mat drying pada minuman serbuk buah kundur serta kandungan vitamin C dan kadar antioksidan pada minuman serbuk buah kundur yang dihasilkan. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor, yaitu suhu pengeringan (50ºC, 60ºC dan 70ºC) dan waktu pengeringan (6 jam, 12 jam dan 18 jam) yang diulangi sebanyak 3 kali sehingga terdapat 27 satuan percobaan. Parameter yang diamati adalah Kadar Air, Kadar Vitamin C dan Kadar Antioksidan. Berdasarkan hasil perhitungan pada parameter kadar air memiliki nilai paling tinggi adalah T1W1 (suhu 50ºC dengan waktu 6 jam) sebesar 5,85%, parameter kadar vitamin C memiliki nilai paling tinggi T2W2 (suhu 60ºC dengan waktu 12 jam) sebesar 2 mg dan pada parameter kadar antioksidan memiliki nilai tertinggi T3W3 (suhu 70ºC dengan waktu 18 jam).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pembelajaran literasi sains sangat penting bagi peserta didik untuk dapat mengaplikasikan sains dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini penting untuk dilakukan mengingat pentingnya peran guru dalam meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pembelajaran berbasis literasi sains yang dilakukan oleh guru SMA Negeri di Kota Tarakan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian yaitu tujuh guru Biologi SMA Negeri di Kota Tarakan dengan penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh berdasarkan hasil angket dan wawancara. Hasil penelitian pada aspek pengetahuan ilmiah menunjukkan bahwa semua guru dapat membedakan istilah dalam pembelajaran literasi sains dan pada aspek keterampilan proses intelektual dalam indikator menghasilkan prinsip melalui induksi menunjukkan semua guru dapat menjelaskan fenomena hasil pengamatan, dalam indikator mengidentifikasi dan mengontrol variabel menunjukkan bahwa dua orang guru mengalami kendala dalam mengidentifikasi dan mengontrol variabel dan lima guru lainnya dapat mengidentifikasi dan mengontrol variabel, dalam indikator mengkontruksi grafik dan menemukan hubungan menunjukkan bahwa semua dapat mentransformasikan data ke dalam bentuk tabel/grafik, dalam indikator mendesain dan memimpin investigasi menunjukan bahwa tiga orang guru tidak mendesain sendiri, tiga guru lainnya mendesain sendiri dan satu guru lainnya kadang mendesain sendiri dan kadang tidak mendesain sendiri langkah-langkah praktikum, pada indikator menggunakan teknologi dan kepastian dalam investigasi menunjukkan bahwa satu orang guru tidak memanfaatkan peralatan laboratorium dan teknologi dan enam guru lainnya memanfaatkan peralatan dan teknologi dalam melakukan pengamatan serta dalam indikator penarikan kesimpulan dari fakta-fakta menunjukkan bahwa semua guru membuat kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari hasil pengamatan.