2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular yang masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, dengan masalah keperawatan yang sering muncul adalah bersihan jalan napas tidak efektif akibat penumpukan sekret di saluran pernapasan. Intervensi nonfarmakologis seperti Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) dan teknik batuk efektif dapat membantu mengatasi masalah tersebut. Penulisan karya ilmiah akhir ners ini bertujuan untuk menerapkan teknik batuk efektif dan ACBT dalam mengatasi bersihan jalan napas tidak efektif pada pasien tuberkulosis paru. Karya ilmiah ini menggunakan metode laporan kasus (case report) pada dua orang pasien tuberkulosis paru dengan masalah bersihan jalan napas tidak efektif, dengan intervensi yang diberikan selama tiga hari dan durasi 15–20 menit setiap sesi. Setelah diberikan intervensi, frekuensi napas menurun dari 25×/menit menjadi 18×/menit, saturasi oksigen meningkat dari 95% menjadi 100%, dan pengeluaran sputum meningkat dari belum mampu menjadi 2,5 ml. Penerapan ACBT dan teknik batuk efektif efektif dalam mengatasi masalah bersihan jalan napas tidak efektif pada pasien tuberkulosis paru, yang ditandai dengan penurunan frekuensi pernapasan, peningkatan saturasi oksigen, peningkatan pengeluaran sputum, dan perbaikan bunyi napas. Oleh karena itu, intervensi ini direkomendasikan sebagai tindakan keperawatan nonfarmakologis yang dapat diterapkan secara rutin sebagai pendamping terapi medis untuk membantu meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien tuberkulosis paru.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular yang masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, dengan masalah keperawatan yang sering muncul adalah bersihan jalan napas tidak efektif akibat penumpukan sekret di saluran pernapasan. Intervensi nonfarmakologis seperti Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) dan teknik batuk efektif dapat membantu mengatasi masalah tersebut. Penulisan karya ilmiah akhir ners ini bertujuan untuk menerapkan teknik batuk efektif dan ACBT dalam mengatasi bersihan jalan napas tidak efektif pada pasien tuberkulosis paru. Karya ilmiah ini menggunakan metode laporan kasus (case report) pada dua orang pasien tuberkulosis paru dengan masalah bersihan jalan napas tidak efektif, dengan intervensi yang diberikan selama tiga hari dan durasi 15–20 menit setiap sesi. Setelah diberikan intervensi, frekuensi napas menurun dari 25×/menit menjadi 18×/menit, saturasi oksigen meningkat dari 95% menjadi 100%, dan pengeluaran sputum meningkat dari belum mampu menjadi 2,5 ml. Penerapan ACBT dan teknik batuk efektif efektif dalam mengatasi masalah bersihan jalan napas tidak efektif pada pasien tuberkulosis paru, yang ditandai dengan penurunan frekuensi pernapasan, peningkatan saturasi oksigen, peningkatan pengeluaran sputum, dan perbaikan bunyi napas. Oleh karena itu, intervensi ini direkomendasikan sebagai tindakan keperawatan nonfarmakologis yang dapat diterapkan secara rutin sebagai pendamping terapi medis untuk membantu meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien tuberkulosis paru.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Penyakit diabetes melitus semakin meningkat di seluruh dunia setiap tahunnya dan Indonesia sendiri berada di urutan ke lima. Kalimantan Utara jumlah penderita diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter berjumlah 2.300. Pada tahun 2023, dari 1.168 pasien diabetes melitus yang tercatat di Puskesmas Karang Rejo ditemukan sebesar 99,79% penyandang diabetes melitus yang kadar gula darahnya belum terkontrol. Mengontrol kadar gula darah dan mencegah komplikasi, penting bagi pasien untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam mengelola penyakit secara mandiri. Tindakan ini dikenal sebagai manajemen diri. Namun, banyak pasien diabetes melitus yang masih memiliki perilaku manajemen diri yang kurang baik. Ada beberapa hal yang memengaruhi perilaku manajemen diri pasien diabetes melitus diantaranya pengetahuan dan lama terdiagnosis. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan lama terdiagnosis dengan perilaku manajemen diri pasien diabetes melitus. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian ini sebanyak 88 responden dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-24) dan Diabetes Self-Management Questionnaire (DSMQ). Analisis data menggunakan uji korelasi gamma untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku manajemen diri pasien diabetes melitus dan uji korelasi spearman untuk mengetahui hubungan lama terdiagnosis dengan perilaku manajemen diri pasien diabetes melitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan dengan manajemen diri pasien diabetes melitus dengan p value 0,047 dan ada hubungan lama terdiagnosis dengan manajemen diri pasien diabetes melitus dengan p value 0,020.
2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyakit diabetes melitus semakin meningkat di seluruh dunia setiap tahunnya dan Indonesia sendiri berada di urutan ke lima. Kalimantan Utara jumlah penderita diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter berjumlah 2.300. Pada tahun 2023, dari 1.168 pasien diabetes melitus yang tercatat di Puskesmas Karang Rejo ditemukan sebesar 99,79% penyandang diabetes melitus yang kadar gula darahnya belum terkontrol. Mengontrol kadar gula darah dan mencegah komplikasi, penting bagi pasien untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam mengelola penyakit secara mandiri. Tindakan ini dikenal sebagai manajemen diri. Namun, banyak pasien diabetes melitus yang masih memiliki perilaku manajemen diri yang kurang baik. Ada beberapa hal yang memengaruhi perilaku manajemen diri pasien diabetes melitus diantaranya pengetahuan dan lama terdiagnosis. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan lama terdiagnosis dengan perilaku manajemen diri pasien diabetes melitus. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian ini sebanyak 88 responden dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-24) dan Diabetes Self-Management Questionnaire (DSMQ). Analisis data menggunakan uji korelasi gamma untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku manajemen diri pasien diabetes melitus dan uji korelasi spearman untuk mengetahui hubungan lama terdiagnosis dengan perilaku manajemen diri pasien diabetes melitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan dengan manajemen diri pasien diabetes melitus dengan p value 0,047 dan ada hubungan lama terdiagnosis dengan manajemen diri pasien diabetes melitus dengan p value 0,020.