Penerapan Terapi Afirmasi Positif dengan Gratitude Journal pada Pasien Tunadaksa dengan Diagnosis Keperawatan Risiko Bunuh Diri
Penyandang disabilitas khususnya tunadaksa, memiliki risiko tinggi mengalami gangguan psikologis akibat stigma sosial, diskriminasi, dan penolakan dari lingkungan. Perilaku diskriminatif serta penolakan sosial dapat memberikan pengaruh negatif terhadap kesehatan mental penyandang disabilitas, yang dapat memicu timbulnya gejala depresi hingga akhirnya mengarah pada ideasi bunuh diri. Hal ini menunjukkan pentingnya intervensi yang tepat untuk membangun kembali harga diri, rasa percaya diri, serta makna hidup yang mungkin hilang akibat stigma dan diskriminasi yang mereka alami. Penulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas gratitude journal sebagai intervensi inovasi yang dapat membantu menurunkan ideasi bunuh diri pada pasien penyandang disabilitas. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan penerapan gratitude journal selama 6 hari. Terapi diberikan dengan durasi 10 sampai dengan 15 menit tiap sesinya. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen Revised-Suicide Ideation Scale (R-SIS) untuk menilai perubahan ideasi bunuh diri sebelum dan sesudah intervensi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya penurunan skor ideasi bunuh diri, serta peningkatan ekspresi positif pada pasien. Kesimpulan dari penulisan ini menunjukkan bahwa gratitude journal dapat menjadi intervensi psikososial yang efektif, sederhana, dan aplikatif dalam menurunkan risiko bunuh diri pada pasien penyandang disabilitas. Intervensi ini mampu memperkuat harga diri, meningkatkan penerimaan diri, serta mengurangi beban emosi negatif. Oleh karena itu, disarankan agar terapi ini dapat digunakan sebagai bagian dari intervensi keperawatan psikososial, khususnya pada kelompok pasien dengan risiko tinggi terhadap depresi dan ideasi bunuh diri.