ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Penyakit Vibriosis bersifat sangat akut serta ganas, karena dapat mengakibatkan kematian larva udang pada waktu yang singkat antara 1 hingga 3 hari sejak awal terinfeksi. Salah satu alternatif pencegahan terhadap penyakit Vibriosis adalah pemberian bakteri probiotik. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan probiotik dalam menghambat pertumbuhan bakteri V.parahaemolyticus yang akan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup post larva udang windu (P. monodon). Penelitian ini menggunakan RAL dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan 1 pemberian probiotik kultur, perlakuan 2 pemberian probiotik komersil (EM4), dan perlakuan 3 tanpa pemberian probiotik. Penelitian dilakukan selama 66 hari dengan total masa pemeliharaan 51 hari, melakukan sampling 2 kali, kemudian di lanjut uji tantang selama 15 hari serta menghitung pengukuran panjang dan berat. Parameter kualitas air yang diukur pada penelitian ini meliputi suhu, salinitas, oksigen terlarut (DO), pH, dan amonia. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Anova dan disajikan dalam bentuk grafik. Didapatkan perlakuan terbaik adalah pemberian probiotik kultur dengan nilai panjang mutlak 1,83 cm, berat mutlak 0,5 gr, SGR 3,86 %, dan SR 72,5 %, dimana hasil ini memberikan pengaruh yang signifikan dari pada perlakuan lainnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyakit vibriosis menjadi salah satu kendala dalam kegiatan budidaya udang windu yang disebabkan oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn) sebagai anti bakteri untuk menanggulangi serangan bakteri Vibrio parahaemolyticus pada udang windu (Penaeus monodon). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah kontrol tanpa ekstrak, pemberian ekstrak 20 ppm, 30 ppm, dan 40 ppm. Benur udang windu yang diberi ekstrak daun belimbing wuluh pada konsentrasi 40 ppm menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap kelangsungan hidup udang windu yang diinfeksi Vibrio parahaemolyticus yaitu sebesar 95.83% dibandingkan dengan kontrol 56.84%, sedangkan pertumbuhan spesifik udang windu yang diberi ekstrak daun belimbing wuluh pada konsentrasi 40 ppm menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap laju pertumbuhan spesifik selama pemeliharaan yaitu sebesar 12,33% dibandingkan dengan kontrol 3,66%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun belimbing wuluh dapat digunakan untuk mengobati serangan Vibrio parahaemolyticus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu golongan yang menyerang udang windu (Penaeus monodon) adalah Vibrio harveyi dan merupakan patogen yang dapat menginfeksi larva udang. Larva yang terserang V. harveyi terlihat bercahaya pada kondisi gelap seperti kunang-kunang, sehingga disebut penyakit kunang – kunang atau luminescent vibriosis, untuk menanggulangi vibriosis pada udang yakni penggunaan bahan yang ramah lingkungan (natural product) yang mudah di dapat sehingga tidak menimbulkan resistensi. Salah satu bahan alami yang berpotensi sebagai antibakteri adalah daun pepaya (Carica papaya). Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh dari daun pepaya (Carica papaya), mengenai daya hambat pertumbuhan bakteri V. harveyi berdasarkan zona hambat yang terbentuk. Metode jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris in vitro. Metode pengujian antibakteri yang digunakan adalah metode difusi dengan menggunakan cakram disk. Penelitian menggunakan 6 kelompok perlakuan yang terdiri dari antibiotik tetracilin sebagai kontrol positif, aquades sebagai kontrol negatif, dan ekstrak etanol 10 mg, 20 mg, 30 mg dan 40 mg, dengan tiga kali ulangan. Ekstraksi dilakukan dengan cara meserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Hal yang diamati dari penelitian ini adalah diameter zona hambat yang terbentuk di sekitar disk setelah inkubasi 24 jam.