Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Subjek: Prevalensi
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

identifikasi ektoparasit ikan nila (oreochromis niloticus) pada lokasi yang berbeda di kota tarakan

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan air tawar yang mudah di budidayakan karena memiliki daya adaptasi terhadap lingkungan cukup baik. Selain itu ikan nila mengandung gizi yang sangat tinggi, memiliki rasa lezat, disukai konsumen, sehingga memiliki nilai ekonominya cukup tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis ektoparasit dan tingkat prevalensi ektoparasit pada Ikan nila (Oreochromis niloticus) pada lokasi yang berbeda, metode yang digunakan adalah metode deskriptif, sampel diambil satu persatu dari wadah selanjutnya diletakkan di atas nampan atau talang, kemudian mematikan saraf otaknya dengan menusuk kepala ikan tersebut. Aspek yang dilihat saat identifikasi ektoparasit yaitu sirip ekor, sirip renang, sisik, mata dan insang yang dilakukan di Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Tarakan. Hasil identifikasi Ektoparasit yang ditemukan ada 2 jenis yaitu Dactylogyrus sp dan Trichodina sp. Tingkat prevalensi tertinggi yaitu Lokasi Kelurahan Kampung satu dengan 86% dengan kategori infeksi sedang dan Lokasi Kelurahan Sebengkok 66% dengan kategori infeksi sangat sering dan Intensitas masing-masing ektoparasit di Lokasi Kampung satu 3,84 ind/ekor dengan kategori Rendah dan Lokasi Sebengkok 8,30 ind/ekor dengan kategori sedang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Identifikasi Ektoparasit dan Endoparasit pada udang windu (Penaeus monodon) di tambak tradisional kalimantan utara

2022•

IDENTIFIKASI EKTOPARASIT DAN ENDOPARASIT PADA UDANG WINDU (Penaeus monodon) DI TAMBAK TRADISIONAL KALIMANTAN UTARA Abstrak Indonesia berada di kawasan negara tropis, selain jumlah organisme yang cukup banyak, potensi wilayah untuk pengembangan budidaya perairan juga cukup luas. Salah satu komoditi budidaya perairan di Indonesia adalah udang windu. Budidaya udang windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu komoditas unggulan di Kalimantan Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentikasi ektoparasit dan endoparasit pada udang windu (P. monodon) di tambak tradisional Kalimantan Utara, serta menghitung nilai prevalensi dan nilai itensitas parasit pada udang windu (P. monodon). Metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif dengan metode pengambilan sampel udang windu (P. monodon) dilakukan secara random sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dimana semua individu dalam populasi diambil secara acak. Hasil identifikasi ektoparasit yang menyerang udang windu yaitu Zoothamnium sp., Epistylis sp. dan Vorticella sp. Sedangkan endoparasit yang menyerang udang windu yaitu Ascarophis sp. Dengan nilai prevalensi tertinggi pada 3 lokasi tambak yaitu 80% dengan kategori infeksi sedang, untuk nilai itensitas tertinggi pada 3 lokasi tambak yaitu 7,48% dengan kategori infeksi parah. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian menunjukkan bahwa kisaran yang diperoleh masih berada pada batas optimum dan baik bagi kehidupan udang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI DAN PREVALENSI ENDOPARASIT PADA UDANG WINDU (Penaeus monodon) DI TAMBAK KOTA TARAKAN

2022•

Udang merupakan salah satu bahan makanan sumber protein hewani bermutu tinggi yang sangat digemari oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu jenis udang yang merupakan primadona komoditas ekspor non-migas dari sektor adalah udang windu (Penaus monodon). Tambak tradisional dicirikan dengan sistem pengelolaan tambak yang sederhana, dimana sumber air mengandalkan pasang surut, pengelolaan yang tanpa pakan, dan tanpa aerasi. Luas tambak tradisional di Kota Tarakan memiliki kesamaan yakni padat penebaran rendah kurang lebih 2 ekor udang per meter persegi (WWF, 2011). Penyakit yang biasanya menyerang udang windu (Penaus monodon) disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, dan jamur. Endoparasit adalah parasit yang menyerang bagian dalam tubuh inang, misalnya dalam alat pencernaan, peredaran darah, atau organ dalam lainnya. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Tarakan (BKIPM Tarakan) dan Laboratorium Kualitas Air Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan. Parasit yang menyerang udang windu (Penaeus monodon) adalah cacing genus Ascarophis, namun tidak selalu menyerang udang yang dibudidayakan di kedua tambak. Hal tersebut dilihat dari hasil prevalensi yang dilakukan dari sampel yang diambil. Dari data hasil perhitungan prevalensi endoparasit pada tambak yang berada di Kelurahan Karang Anyar Pantai menunjukan bahwa nilai rata-rata prevalensi endoparasit adalah sebesar 0,13%, nilai tersebut menunjukan kategori prevalensi Rarely.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI PREVALENSI EKTOPARASIT PADA UDANG WINDU(Penaeus monodon)DI TAMBAK TRADISIONAL KOTA TARAKAN

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kota Tarakan memiliki potensi sumber daya perikanan cukup besar khususnya perikanan budidaya. Pemanfaatan budidaya udang windu cukup tinggi namun terjadi beberapa permasalahan salah satunya adalah penyakit. Penyakit yang menginfeksi pada udang windu adalah parasit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pravalensi ektoparasit pada udang windu (Penaeus monodon) di tambak tradisionl Kota Tarakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling. Pengambilan sampel udang diambil sebanyak 4 kali dalam sebulan dengan umur udang 1 bulan. Setiap minggu diambil sebanyak 10 ekor. Identifikasi ektoparasit dilakukan pada organ mata, insang, kaki jalan, kaki renang, kulit, ekor. Selajutnya menghitung prevalensi ektoparasit. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 3 jenis parasit yaitu Zoothamnium sp,Vorticella sp, Epistylis sp. Prevalensi ektoparasit pada udang windu (penaeus monodon) dari 40 sampel di peroleh 25 sampel yang terinfeksi ektoparasit (62,5%). Nilai prevalensi ektoparasit tertinggi ditemukan pada minggu kedua sebesar 80%. Sedangkan nilai terendah di dapatkan pada minggu pertama 50%. Nilai intensitas ektoparasit yang paling dominan yaitu Zoothamnium sp dengan nilai 1 ind/ekor

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail