Prototipe Sistem Monitoring dan Peringatan Dini Potensi Longsor Berbasis Internet of things dengan Metode Fuzzy sugeno untuk Wilayah Rawan Longsor
Tanah longsor merupakan salah satu dari tiga bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia, dengan 291 kejadian tercatat sepanjang tahun 2020. Faktor-faktor seperti kelembapan tanah, kemiringan lereng, dan getaran menjadi pemicu utama terjadinya longsor. Penelitian ini mengembangkan sistem monitoring dan peringatan dini potensi longsor berbasis IoT dengan metode Fuzzy Sugeno yang efektif dalam mendeteksi potensi longsor. Hasil kalibrasi menunjukkan tingkat keakuratan sensor yang tinggi, dengan sensor kemiringan (MPU6050) memiliki akurasi 99,72%, sensor kelembapan tanah (YL-69) 100%, dan sensor getaran (SW-420) 100%. Sistem ini mengintegrasikan ketiga sensor tersebut yang terhubung dengan aplikasi Blynk untuk pemantauan real-time, memungkinkan akses data secara cepat dan akurat. Pengujian dilakukan dengan membuat tanah berlapis tiga, yaitu aluvial, laterit, dan gambut, serta mensimulasikan berbagai kondisi seperti kemiringan hingga 60°, kelembapan mencapai 70%, dan pemberian getaran untuk menguji respons sistem terhadap perubahan lingkungan. Data hasil pengujian menunjukkan bahwa sensor berfungsi dengan baik dalam mendeteksi potensi longsor, sementara logika Fuzzy Sugeno mampu mengidentifikasi tingkat bahaya dengan efektivitas 100% berdasarkan parameter kemiringan, kelembapan, dan getaran tanah. Sistem ini juga berhasil mengirim data secara real-time ke aplikasi Blynk dan memberikan notifikasi bahaya yang dapat diterima langsung oleh perangkat mobile, sehingga memungkinkan respons cepat terhadap kondisi darurat. Selain itu, sistem peringatan dini yang menggunakan buzzer terbukti akurat dan responsif, dengan efektivitas mencapai 100%, memberikan sinyal peringatan yang jelas saat kondisi berbahaya terdeteksi. Keseluruhan hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem ini efektif dan dapat diandalkan untuk memantau perubahan kondisi tanah serta memberikan peringatan dini terhadap potensi longsor, sehingga dapat berkontribusi dalam mitigasi risiko bencana di wilayah rawan longsor.