ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Limbah zat warna metilen biru (MB) dari industri tekstil menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan perairan karena sifatnya yang persisten dan toksik. Bioremediasi menggunakan bakteri merupakan alternatif yang ramah lingkungan untuk mengatasi pencemaran tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi bakteri simbion spons Stylissa sp. dalam mendegradasi MB. Sebanyak 20 isolat bakteri dari spons Stylissa sp. diskrining kemampuannya dalam mendegradasi MB. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dekolorisasi MB, pengaruh suhu (30°C, 35°C dan 40°C), pengaruh pH berkisar 5 sampai 10, pengaruh konsentrasi inokulum (1x106, 1x107 dan 1x108 CFU/mL) dan pengaruh konsentrasi MB (200, 300, 400 dan 500 mg/L). Hasil skrining menunjukkan bahwa empat isolat (SS03, SS15, SS16 dan SS19) mampu mendegradasikan MB dengan perubahan warna dari biru menjadi tidak berwarna setelah 7 hari inkubasi. Isolat SS16 menunjukkan kinerja terbaik dengan efisiensi dekolorisasi mencapai 100% pada suhu 35°C dan pH 9. Konsentrasi inokulum optimum adalah 1×108 CFU/mL dengan waktu degradasi tercepat 96 jam. Namun, efisiensi degradasi menurun seiring peningkatan konsentrasi MB, dengan hasil tertinggi 87,41% pada konsentrasi 200 mg/L oleh isolat SS16. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa bakteri simbion spons Stylissa sp., khususnya isolat SS16, berpotensi sebagai agen bioremediasi limbah zat warna metilen biru.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pencemaran lingkungan akibat limbah industri tekstil, khususnya zat warna azo seperti Congo Red (CR), menjadi permasalahan serius karena bersifat toksik, karsinogenik dan sulit terurai. Biodegradasi mikroorganisme menawarkan solusi ramah lingkungan untuk mengatasi masalah ini. Penelitian ini mengeksplorasi potensi bakteri simbion spons laut Stylissa sp. dalam mendengradasi CR. Dari 20 isolat awal, diperoleh empat isolat unggul (SS05, SS08, SS09 dan SS18) yang mampu mendegradasi CR. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dekolorisasi CR, pengaruh suhu (30℃,35℃ dan 40℃), pengaruh pH 5 sampai 10, pengaruh konsentrasi inokulum (106, 107, dan 108 CFU/mL) dan pengaruh konsentrasi zat warna CR (100,150, dan 200 mg/L). Hasil skrining menunjukan bahwa empat isolat (SS05, SS08, SS09 dan SS18) mampu mendengradasi CR dengan perubahan warna setelah 7 hari inkubasi dari warna merah terang menjadi warna tidak bewarna. Isolat SS18 menunjukan efisiensi yang baik dalam mendengradasi mencapai ±70% pada suhu 35℃ dan pH 6. Konsentrasi inokulum optimum Adalah 1x108 CFU/mL dengan waktu degradasi tercepat 72 jam. Namun, efsiensi degradasi menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi CR, dengan hasil tertinggi ±70% pada konsentrasi 100 mg/L oleh isolat SS18 hasil ini menunjukkan bahwa bakteri simbion Stylissa sp., khususnya SS18, berpotensi sebagai agen bioremediasi efektif dan ramah lingkungan untuk pengolahan limbah cair tekstil yang mengandung pewarna azo.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Biosurfaktan merupakan senyawa permukaan aktif yang ramah lingkungan dan dapat digunakan dalam berbagai industri seperti farmasi, kosmetik, detergen, serta sebagai pengemulsi di industri makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengeksplorasi potensi isolat bakteri simbion sponge Clathria sp. dari perairan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, sebagai penghasil biosurfaktan. Penelitian dilakukan dalam tujuh tahap, yaitu pembuatan dan sterilisasi media, premajaan isolat bakteri simbion, produksi biosurfaktan, serta uji kualitatif oil spreading, drop collapse, dan hemolisis untuk menilai aktivitas biosurfaktan yang dihasilkan. Dari 23 isolat bakteri simbion Clathria sp., 15 isolat terbukti memiliki kemampuan menghasilkan biosurfaktan berdasarkan uji oil spreading dengan zona bening yang bervariasi antara 10,33 mm hingga 12,67 mm. Uji drop collapse menghasilkan 17 isolat dengan hasil positif, yang ditunjukkan oleh tetesan mendatar. Sementara itu, hasil uji hemolisis menunjukkan bahwa 3 isolat menghasilkan hemolisis beta, 15 isolat menghasilkan hemolisis alfa, dan 5 isolat tidak menunjukkan aktivitas hemolitik. Isolat SC01, SC02, SC03, SC04, SC05, SC06, SC07, SC08, SC09, SC11, SC12, SC13, SC14, SC15, dan SC16 merupakan isolat yang menunjukkan potensi biosurfaktan yang paling signifikan, dengan hasil yang konsisten dalam uji oil spreading, drop collapse, dan hemolisis. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa isolat bakteri simbion Clathria sp. memiliki potensi besar sebagai sumber biosurfaktan alami yang ramah lingkungan, menawarkan peluang pengembangan lebih lanjut dalam aplikasi industri yang berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Spons merupakan organisme laut memiliki sifat yang unik dan memiliki manfaat yang baik dibidang industri, mulai dari industri pangan, farmasi, hingga detergen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas enzim dari bakteri simbion spons Clathria sp sebagai kandidat penghasil enzim bioindustri. Penumbuhan bakteri dari simbion spons Clathria sp pada media selektif yang ditambahkan substrat susu skim, CMC (Carboxy Methyl Cellulose), tributirin dan amilum pati dilakukan untuk melihat potensi bakteri yang mampu menghasilkan enzim protease, selulase, lipase dan amilase melalui proses hidrolisis. Dengan pengukuran zona bening dan diameter koloni, telah diperoleh isolat yang memiliki aktivitas enzim tertinggi pada masing-masing bakteri antara lain Proteolitik isolat BSC10 (2.49), Selulolitik isolat BSC10 (3.83), Lipolitik BSC10 (3.89) dan Amilolitik BSC02 (2.63). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat isolat terbaik tersebut termasuk kategori kuat dalam menghasilkan ezim dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut khususnya dalam bidang bioindustri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Spons laut merupakan sumber senyawa bioaktif yang potensial dalam antibakteri, antikanker, antiinflamasi dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifika kandungan bioaktif bakteri simbion spons Clathria sp. melalui uji fitokimia dan menemukan bakteri simbion Clathria sp, yang berpotensi menghasilkan senyawa antioksidan. Penenlitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Uji fitokimia menunjukkan bahwa dari 23 isolat bakteri simbion Clathria sp, mengandung saponin. Uji antioksidan dengan metode DPPH diperoleh aktivitas terbaik dengan persentase inhibisi rata-rata diatas 50% pada isolat C1 (56,46%), C3 (53,17%), C13 (54,49%), dan C15 (53,06%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri simbion Clathria sp, berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif dan antioksidan, dan membuka peluang pengembangan obat antimikroba dan antioksidan di masa depan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Spons merupakan organisme laut yang berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif, namun belum sepenuhnya dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, mengidentifikasi morfologi dan menguji aktivitas antimikroba bakteri yang terdapat pada spons Xestospongia sp. terhadap bakteri patogen multidrug-resistant (MDR). Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini berhasil mengisolasi bakteri simbion dari spons dengan rentang konsentrasi dari 10-1 hingga 10-5 sebanyak 7 isolat. Identifikasi morfologi bakteri dilakukan berdasarkan karakteristik seperti warna, ukuran, margin, bentuk, dan elevasi. Dari tujuh isolat bakteri yang diidentifikasi, lima di antaranya adalah bakteri Gram-positif dan dua isolat adalah bakteri Gram-negatif, semuanya menunjukkan bentuk basil. Berdasarkan hasil uji aktivitas antibakteri diantara tujuh isolat, lima menunjukkan aktivitas antimikroba. Secara spesifik, isolat Xp-05 menunjukkan aktivitas antimikroba yang signifikan terhadap Staphylococcus aureus, menghasilkan zona bening dengan diameter 20 mm, sedangkan isolat Xp-03 efektif melawan Escherichia coli dengan zona bening berdiameter 16 mm. Isolat lain, Xp-01, Xp-06, dan Xp-07 menunjukkan zona bening berdiameter lebih kecil. Variabilitas efektivitas antibakteri ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan konsentrasi atau produksi metabolit sekunder antar isolat. Dengan demikian, hasil ini menunjukkan bahwa bakteri simbion dari spons Xestospongia sp. memiliki potensi sebagai sumber baru agen antimikroba, namun perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami variasi dalam produksi metabolit sekunder dan efektivitas antimikroba mereka.