Pemberian Dosis Optimum Ekstrak Daun Karamunting (Melastoma malabathricum) dengan Frekuensi Penyuntikan Yang Berbeda Terhadap Pematangan Ovari Kepiting Bakau (Syclla sp.)
Salah satu tumbuhan yang memiliki potensi sebagai sumber hormon adalah karamunting. Tumbuhan karamunting memiliki metabolisme sekunder yang terdiri dari saponin, tanin, triterpenoid, dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian frekuensi ekstrak daun karamunting optimum dengan frekuensi penyuntikan yang berbeda terhadap pematangan ovari kepiting bakau (Scylla sp). Pada penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan, yaitu (kontrol), P1 (pemberian ekstrak daun karamunting dengan satu kali injeksi), P2 (pemberian ekstrak daun karamunting dengan dua kali injeksi) dan P3 (pemberian ekstrak daun karamunting dengan tiga kali injeksi). Dosis penyuntikan yang diberikan adalah 1 mg/100 g. Parameter pengamatan terdiri dari morfologi ovari, nilai GSI, nilai HIS, survival rate dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan P3 memberikan hasil terbaik dengan nilai GSI sebesar 10,9%, HSI 2,3%, dan telah mencapai TKG IV. Pemberian ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) dengan frekuensi penyuntikan yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap proses pematangan ovari induk kepiting bakau dibandingkan dengan perlakukan kontrol.