BookOpen AccessMetadata saja
2026•
Ekowisata merupakan konsep pariwisata berkelanjutan yang memadukan konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) di Kota Tarakan memiliki luas 22 ha dan berfungsi sebagai paru-paru kota, penahan abrasi, serta habitat bekantan yang merupakan satwa endemik Kalimantan. Potensi besar kawasan ini mendorong perlunya kajian kesesuaian dan daya dukung untuk memastikan pemanfaatannya sebagai destinasi ekowisata tidak melebihi kapasitas ekologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian dan daya dukung kawasan ekowisata mangrove KKMB dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui observasi lapangan, pengukuran ketebalan dan kerapatan mangrove, identifikasi jenis mangrove dan biota asosiasi, serta analisis pasang surut. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung, sedangkan data sekunder berasal dari laporan flora-fauna dan data pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) sebesar 2,51 (83,7%) yang termasuk kategori sangat sesuai (S1). Perhitungan daya dukung kawasan menunjukkan kapasitas maksimum 9 orang per jam atau sekitar 81 orang per hari. Analisis Indeks Nilai Penting (INP) menempatkan Avicennia alba (86,29%) dan Rhizophora apiculata (84,82%) sebagai spesies dominan. Simpulannya, KKMB sangat layak dikembangkan sebagai ekowisata mangrove berkelanjutan, namun keberhasilan pengelolaan tetap bergantung pada pemeliharaan infrastruktur, kebersihan, dan konservasi ekosistem agar manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi dapat terus berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Ekowisata merupakan konsep pariwisata berkelanjutan yang memadukan konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) di Kota Tarakan memiliki luas 22 ha dan berfungsi sebagai paru-paru kota, penahan abrasi, serta habitat bekantan yang merupakan satwa endemik Kalimantan. Potensi besar kawasan ini mendorong perlunya kajian kesesuaian dan daya dukung untuk memastikan pemanfaatannya sebagai destinasi ekowisata tidak melebihi kapasitas ekologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian dan daya dukung kawasan ekowisata mangrove KKMB dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui observasi lapangan, pengukuran ketebalan dan kerapatan mangrove, identifikasi jenis mangrove dan biota asosiasi, serta analisis pasang surut. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung, sedangkan data sekunder berasal dari laporan flora-fauna dan data pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) sebesar 2,51 (83,7%) yang termasuk kategori sangat sesuai (S1). Perhitungan daya dukung kawasan menunjukkan kapasitas maksimum 9 orang per jam atau sekitar 81 orang per hari. Analisis Indeks Nilai Penting (INP) menempatkan Avicennia alba (86,29%) dan Rhizophora apiculata (84,82%) sebagai spesies dominan. Simpulannya, KKMB sangat layak dikembangkan sebagai ekowisata mangrove berkelanjutan, namun keberhasilan pengelolaan tetap bergantung pada pemeliharaan infrastruktur, kebersihan, dan konservasi ekosistem agar manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi dapat terus berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemuaian adalah bertambah ukuran atau besar suatu benda karena kenaikan suhu yang terjadi pada benda tersebut. Setiap zat padat memiliki besaran yang disebut koefisien muai panjang. Koefisien muai panjang suatu zat adalah angka yang menunjukan pertambahan panjang suatu zat apabila suhunya dinaikan sebesar 1°C. Telah dilakukan rancang bangun alat uji pemuaian yang berhasil menunjukan fenomena pemuaian pada spesimen besi, tembaga dan kuningan. Penelitian ini berfokus pada pengujian alat tersebut untuk mengetahui nilai akurasi dan presisinya serta ketidakpastian. Proses dilakukan dengan material besi, tembaga dan kuningan. Pada pengujian berulang menunjukan nilai muai panjang besi 0,000053/°C, tembaga 0,000024/°C dan kuningan 0,000029/°C. Hasilnya menunjukan bahwa akurasi alat pada uji spesimen besi, tembaga dan kuningan berurutan adalah 345 %, 41%, dan -6%. Sedangkan untuk nilai spesimen secara berurutan 75%, 26% dan 29%. Hal tersebut menunjukan nilai akurasi dan presisi yang belum baik. Dikarenakan nilai koefisien refrensi besi, tembaga dan kuningan secara berurutan adalah 0,000012/°C, 0,000017/°C dan 0,000019/°C. Hal tersebut menunjukan bahwa alat ini belum dapat mengamati fenomena pemuaian secara kuantitatif, namun masi dapat dilakukan pengamatan fonomena pemuaian secara kualitatif
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Penelitian ini membahas mengenai permasalahan dari kelemahan metode grading udang konvensional yang tidak seragam dalam menduga mutu udang karena tingkat persepsi manusia yang berbeda-beda. Solusi yang ditawarkan adalah menggunakan teknologi CVAR (computer vision dan analisis regresi) dalam menentukan size udang berdasarkan citra yang ditangkap kamera. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan kombinasi metode K-Means Clustering dan morfologi dalam menentukan size dan kategori ukuran udang vaname, berdasarkan perbandingan area dalam piksel hasil olah citra dengan teknologi computer vision terhadap massa dalam gram, menggunakan persamaan regresi kuadratik terkecil. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang berfokus untuk mengetahui keterkaitan dari variabel dependen yang berupa massa terhadap variabel independen yang berupa area. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dari hasil observasi dan pengukuran di lokasi penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah probability disproportionate stratified random sampling dikarenakan output dari sampel adalah klaster udang berdasarkan strata yang telah ditentukan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kebaruan kombinasi metode yang diterapkan mampu menyegmentasi citra dengan sangat baik dengan nilai RMSE 0.68 yang jauh lebih kecil dibandingkan thresholding yang sebesar 2.89 dan k-means clustering sebesar 0.73. Hubungan variabel sangat kuat yang dinyatakan dengan korelasi sebesar 0.992. Akurasi sistem dalam melakukan pengukuran massa sebesar 93.64% dan pengukuran size sebesar 93.37%, sedangkan akurasi sistem dalam klasterisasi ukuran udang sebesar 95.45%.