BookOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kemampuan numerasi yang tidak hanya menuntut penguasaan konsep dan prosedur matematika, tetapi juga kemampuan untuk berpikir secara kritis dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan di dunia nyata yang dihadapi. Orientasi kritis menjadi aspek penting dalam numerasi karena memungkinkan siswa untuk mengekstraksikan informasi, Menyusun strategi, mengevaluasi strategi penyelesaian, serta merefleksikan hasil yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi orientasi kritis siswa ketika berhadapan dengan soal dan tugas yang berkaitan dengan masalah numerasi selama pembelajaran menggunakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan penelitian terdiri atas dua Data dikumpulkan melalui pretest, posttest, tugas selama proses pembelajaran, observasi, dan wawancara. Analisis data dilakukan secara tematik dan memberikan hasil bahwa OKKN tampak melalui kemampuan mengidentifikasi informasi yang relevan, menghubungkan konsep matematika dengan konteks permasalahan, mempertimbangkan dan mengevaluasi strategi penyelesaian, serta merefleksikan hasil yang diperoleh. Temuan penelitian dikelompokkan ke dalam empat tema utama, yaitu orientasi kritis dalam konteks numerasi, pengalaman belajar, persepsi dan proses berpikir dalam penyelesaian masalah, serta hambatan dan kesulitan yang dialami siswa. Siswa yang mengikuti pembelajaran RME menunjukkan kecenderungan lebih aktif dalam mengonstruksi pemahaman, mengaitkan matematika dengan situasi nyata, dan melakukan refleksi terhadap proses penyelesaian masalah dibandingkan siswa pada pembelajaran konvensional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kemampuan numerasi yang tidak hanya menuntut penguasaan konsep dan prosedur matematika, tetapi juga kemampuan untuk berpikir secara kritis dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan di dunia nyata yang dihadapi. Orientasi kritis menjadi aspek penting dalam numerasi karena memungkinkan siswa untuk mengekstraksikan informasi, Menyusun strategi, mengevaluasi strategi penyelesaian, serta merefleksikan hasil yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi orientasi kritis siswa ketika berhadapan dengan soal dan tugas yang berkaitan dengan masalah numerasi selama pembelajaran menggunakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan penelitian terdiri atas dua Data dikumpulkan melalui pretest, posttest, tugas selama proses pembelajaran, observasi, dan wawancara. Analisis data dilakukan secara tematik dan memberikan hasil bahwa OKKN tampak melalui kemampuan mengidentifikasi informasi yang relevan, menghubungkan konsep matematika dengan konteks permasalahan, mempertimbangkan dan mengevaluasi strategi penyelesaian, serta merefleksikan hasil yang diperoleh. Temuan penelitian dikelompokkan ke dalam empat tema utama, yaitu orientasi kritis dalam konteks numerasi, pengalaman belajar, persepsi dan proses berpikir dalam penyelesaian masalah, serta hambatan dan kesulitan yang dialami siswa. Siswa yang mengikuti pembelajaran RME menunjukkan kecenderungan lebih aktif dalam mengonstruksi pemahaman, mengaitkan matematika dengan situasi nyata, dan melakukan refleksi terhadap proses penyelesaian masalah dibandingkan siswa pada pembelajaran konvensional.
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan
Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain maupun komunikasi dengan orang lain. Tujuan umum laporan tugas akhir ini adalah mendapatkan pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan yang dilakukan dengan memusatkan perhatian pada satu kasus secara intensif, di mulai dari pengumpulan data, analisa data, merumuskan masalah, intervensi, implementasi, dan mengevaluasi hasil yang telah dilakukan. Hasil studi kasus yang didapatkan terdapat tiga diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan pada Tn. U yaitu isolasi sosial:menarik diri, gangguan konsep diri:harga diri rendah,gangguan konsep diri:halusinasi. Kesimpulan penulis mendapatkan proses pemecahan masalah pada Tn.U dengan diagnosa isolasi sosial:menarik diri, gangguan konsep diri:harga diri rendah,resiko persepsi sensori:halusinasi penglihatan, rencana tindak lanjut yaitu mempertahan intervensi setiap diagnosa serta memberikan pujian pada pasien atas keberhasilannya melakukan intervensi yang telah dibuat perawat. Hasil tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus. Pada pelaksanaan tidak dapat dilakukan intervensi pada intervensi keluarga untuk ketiga diagnosa. Saran penulis diharapkan keluarga klien meningkatkan komunikasi terapeutik dengan bahasa yang mudah dimengerti serta memberikan kesempatan klien untuk menceritakan keadaannya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•
Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain maupun komunikasi dengan orang lain. Tujuan umum laporan tugas akhir ini adalah mendapatkan pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan yang dilakukan dengan memusatkan perhatian pada satu kasus secara intensif, di mulai dari pengumpulan data, analisa data, merumuskan masalah, intervensi, implementasi, dan mengevaluasi hasil yang telah dilakukan. Hasil studi kasus yang didapatkan terdapat tiga diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan pada Tn. U yaitu isolasi sosial:menarik diri, gangguan konsep diri:harga diri rendah,gangguan konsep diri:halusinasi. Kesimpulan penulis mendapatkan proses pemecahan masalah pada Tn.U dengan diagnosa isolasi sosial:menarik diri, gangguan konsep diri:harga diri rendah,resiko persepsi sensori:halusinasi penglihatan, rencana tindak lanjut yaitu mempertahan intervensi setiap diagnosa serta memberikan pujian pada pasien atas keberhasilannya melakukan intervensi yang telah dibuat perawat. Hasil tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus. Pada pelaksanaan tidak dapat dilakukan intervensi pada intervensi keluarga untuk ketiga diagnosa. Saran penulis diharapkan keluarga klien meningkatkan komunikasi terapeutik dengan bahasa yang mudah dimengerti serta memberikan kesempatan klien untuk menceritakan keadaannya.