2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis dan keanekaragaman anggrek teresterial di kawasan hutan kota Sei Batu Mapan Mamburungan Tarakan Timur, serta mengetahui potensi implementasinya dalam pembelajaran biologi. Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Lokasi penelitian terbagi menjadi 4 stasiun, yang terdiri dari 8 plot. Parameter lingkungan yang diukur yaitu meliputi pH tanah dan intensitas cahaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan dua spesies anggrek yaitu, Spathoglottis plicata dan Bromhedia finlaysoniana. Jenis anggrek Bromheadia finlaysoniana berjumlah 889 individu sedangkan jenis Spathoglottis plicata berjumlah 3 individu. Jenis Bromheadia finlaysoniana memiliki ciri-ciri akar yang panjang dan rapat untuk mengambil air dan zat organik didalam tanah. Daunnya berukuran tebal, lonjong, berwarna hijau kekuningan dan daunnya tumbuuh di setiap ruas. Spathoglottis Plicata memiliki ciri-ciri batangnya merupakan umbi semu. Daunnya berbentuk klanset, berujung lancip, dan bertulang daun sejajar. Bunga tersusun rapat dalam rangkaian yang berbentuk tandan tegak yang tumbuh dari sisi umbi. Selanjutnya dilakukan analisis keterkaitan penelitian dengan pembelajaran biologi yaitu pada materi keanekaragaman hayati kompetensi dasar 3.2 mengenalisis berbagai tingkat keanekaragaman hayati di Indonesia beserta ancaman dan pelestariannya serta 4.2 menyajikan hasil observasi berbagai tingkat keanekaragaman hayati di Indonesia dan usulan upaya pelestariannya.
2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis dan keanekaragaman anggrek teresterial di kawasan hutan kota Sei Batu Mapan Mamburungan Tarakan Timur, serta mengetahui potensi implementasinya dalam pembelajaran biologi. Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Lokasi penelitian terbagi menjadi 4 stasiun, yang terdiri dari 8 plot. Parameter lingkungan yang diukur yaitu meliputi pH tanah dan intensitas cahaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan dua spesies anggrek yaitu, Spathoglottis plicata dan Bromhedia finlaysoniana. Jenis anggrek Bromheadia finlaysoniana berjumlah 889 individu sedangkan jenis Spathoglottis plicata berjumlah 3 individu. Jenis Bromheadia finlaysoniana memiliki ciri-ciri akar yang panjang dan rapat untuk mengambil air dan zat organik didalam tanah. Daunnya berukuran tebal, lonjong, berwarna hijau kekuningan dan daunnya tumbuuh di setiap ruas. Spathoglottis Plicata memiliki ciri-ciri batangnya merupakan umbi semu. Daunnya berbentuk klanset, berujung lancip, dan bertulang daun sejajar. Bunga tersusun rapat dalam rangkaian yang berbentuk tandan tegak yang tumbuh dari sisi umbi. Selanjutnya dilakukan analisis keterkaitan penelitian dengan pembelajaran biologi yaitu pada materi keanekaragaman hayati kompetensi dasar 3.2 mengenalisis berbagai tingkat keanekaragaman hayati di Indonesia beserta ancaman dan pelestariannya serta 4.2 menyajikan hasil observasi berbagai tingkat keanekaragaman hayati di Indonesia dan usulan upaya pelestariannya.
2021 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ANALISIS STRUKTUR VEGETASI DAN HUBUNGANNYA TERHADAP KOMPOSISI SPESIES PREDATOR CAPUNG DI PULAU TARAKAN Suparman,Abdul Rahim Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan Jalan Amal Lama Nomor 1 Kelurahan Pantai Amal, Kota Tarakan, 77123 Email: [email protected] ABSTRAK Serangga ordo Odonata (capung) merupakan indikator kualitas lingkungan dan predator hama pada areal lahan pertanian. Pengetahuan tentang komposisi dan persebaran capung dapat mendukung upaya konservasi predator pada lahan pertanian dan non pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur vegetasi dan komposisi kelompok capung (Ordo Odonata). Serta, mengetahui hubungannya pada beberapa areal pertanian dan non pertanian di Pulau Tarakan. Pengambilan contoh capung pada 29 lokasi yang terdiri dari 8 areal lahan non pertanian, dan 21 lahan pertanian. Lahan non pertanian terdiri dari hutan primer, mangrove dan rawa. Sedangkan, lahan pertanian terdiri dari perkebunan sayur, perkebunan buah, dan sawah. Selain itu, pengambilan data suhu, kelembapan, intensitas cahaya, dan pH Air. Indeks kekayaan jenis, indeks keanekaragaman Shannon, indeks dominansi Simpson, indeks kemerataan, regresi, diagram venn, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan struktur tumbuhan terdiri dari 28 Famili, 35 genus, 39 spesies dan 1.426 Indvidu, sedangkan komposisi spesies capung di Pulau Tarakan terdiri dari 10 famili, 33 Genus, 46 Spesies, dan 1.100 individu. Indeks kekayaan spesies, indeks keanekaragaman, dan indeks kemerataan lahan non pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan lahan pertanian. Selanjutnya, persebaran spesies cenderung berbeda antara lahan pertanian dan non pertanian. Terdapat 19 spesies tersebar atau aktif di areal lahan pertanian dan non pertanian. Sedangkan, spesies yang hanya ditemukan pada areal non pertanian sebanyak 14 spesies, dan areal lahan pertanian sebanyak 13 spesies. Selain itu, hasil analisis AIC menjelaskan hubungan keaneragaman capung dengan keberadaan air lebih tinggi, diikuti oleh hubungan antara jumlah indicu tumbuhan/tanaman dan keberadaan air. Hal ini merupakan indikasi air merupakan faktor utama penentu keanekragaman capung, dan didukung oleh keberadan/jumlah tanaman/tumbuhan di suatu areal atau habitat.
2021 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Serangga ordo Odonata (capung) merupakan indikator kualitas lingkungan dan predator hama pada areal lahan pertanian. Pengetahuan tentang komposisi dan persebaran capung dapat mendukung upaya konservasi predator pada lahan pertanian dan non pertanian. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan membandingkan komposisi spesies, dan persebaran, serta kondisi lingkungan mikro predator capung di Pulau Tarakan, khususnya pada areal pertanian dan non pertanian. Pengambilan contoh capung pada 29 lokasi yang terdiri dari 8 areal lahan non pertanian, dan 21 lahan pertanian. Lahan non pertanian terdiri dari hutan primer, mangrove dan rawa. Sedangkan, lahan pertanian terdiri dari perkebunan sayur, perkebunan buah, dan sawah. Selain itu, pengambilan data suhu, kelembapan, intensitas cahaya, dan pH Air. Indeks kekayaan jenis, indeks keanekaragaman Shannon, indeks dominansi Simpson, indeks kemerataan, regresi, diagram venn, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan komposisi spesies capung di Pulau Tarakan terdiri dari 7 famili, 33 Genus, 48 Spesies. Indeks kekayaan spesies, indeks keanekaragaman, dan indeks kemerataan lahan non pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan lahan pertanian. Sedangkan, indeks dominasi tertinggi pada areal lahan non pertanian, Selanjutnya, persebaran spesies cenderung berbeda antara lahan pertanian dan non pertanian. Terdapat 17 spesies tersebar atau aktif di areal lahan pertanian dan non pertanian. Sedangkan, spesies yang hanya ditemukan pada areal non pertanian sebanyak 15 spesies, dan areal lahan pertanian sebanyak 16 spesies. Selain itu, terdapat hubungan negatif signifikan antara jumlah spesies dan pH Air. Hal ini merupakan indikasi pH merupakan faktor lingkungan yang paling berperan dalam persebaran capung.