ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menginventarisasi jenis-jenis tumbuhan herba di Hutan Tane O’len Desa Wisata Setulang Kabupaten Malinau. (2) Mengetahui tentang bagaimana habitat tumbuhan herba mampu tumbuh di kawasan Hutan Tane O’len. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Subjek pada penelitian ini adalah tumbuhan herba yang tumbuh di hutan Tane O’len dengan penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling untuk memperoleh data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan jenis-jenis tumbuhan herba yang tumbuh di kawasan Hutan Tane O’len sebanyak 8 jenis yang tergolong kedalam 5 famili diantaranya, Maranta arundinaceae, Homolomena javanica, Cheilcostus cpeciosus, Alocasia princeps, Afromomum angustifolium, Amorphophallus muelleri, Xanthosoma sagittifolium, dan Colacasia esculentadari. Habitat tumbuhan herba di kawasan hutan Tane O’len di dukung oleh kelembapan tanah yang baik, suhu udara yang stabil, pH tanah yang sesusai untuk pertumbuhan atau habitat tumbuhan herba tumbuhan herba di hutan Tane O'len, hanya sebagian kecil dari tumbuhan yang ditemukan mampu beradaptasi di hutan Tane O’len.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu permasalahan yang sering ditemukan pada usaha pembenihan udang windu di hatchery Kota Tarakan yaitu tidak terjadinya proses moulting pada fase Post Larva udang windu khususnya fase PL-2 sehingga mengakibatkan pertumbuhan yang lambat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan penggunaan tumbuhan herbal ekstrak daun karamunting. Tumbuhan herbal ini memiliki senyawa bioaktif yang dapat berperan dalam meningkatkan laju pertumbuhan pada benur udang windu. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) terhadap laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup Post Larva Udang Windu (Penaeus monodon) serta menentukan perlakuan dengan konsentrasi terbaik.. Penelitian ini menggunakan metode ekperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu perlakuan kontrol (tanpa ekstrak), perlakuan 25 ppm, perlakuan 50 ppm dan perlakuan 75 ppm. Pemeliharaan dilakukan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang udang tertinggi didapatkan pada perlakuan 50 ppm yaitu sebesar 1,1 cm, sedangkan pertumbuhan panjang terendah pada perlakuan kontrol yaitu 0,5 cm. Tingkat kelangsungan hidup benur untuk semua perlakuan berkisar antara 77-83%. Kelangsungan hidup tertinggi didapatkan pada perlakuan 50 ppm yaitu sebesar 83%, sedangkan Kelangsungan hidup terendah didapatkan pada perlakuan kontrol yaitu 62%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu perendaman ekstrak daun karamunting dengan konsentrasi berbeda memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang windu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Abstrak Permasalahan utama dalam pembenihan adalah kegagalan pada proses moulting PL2 yang mengalami keterlambatan bahkan gagal berganti kulit beberapa faktor yang mempengaruhi proses ganti kulit, meliputi; penurunan daya dukung lingkungan, kepadatan populasi (padat penebaran), pH, Alkalinitas, pakan dan hormon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah kepadatan yang berbeda dalam aktivitas moulting benih udang windu (Penaeus monodon) yang diberikan perlakuan perendaman ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum L) dengan dosis 50 ppm. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Padat penebaran yang digunakan dalam setiap wadah berbeda-beda yaitu 5, 10, 15 dan 20 ind/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman ekstrak daun karamunting pada benur dengan jumlah padat penebaran yang berbeda mempengaruhi aktivitas moulting, sintasan hidup, dan pertambahan panjang pada benur udang windu. Perlakuan padat penebaran 5ind/L menunjukkan persentase moulting tertinggi, sedangkan untuk sintasan hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan padat penebaran 10ind/L dan pertumbuhan panjang tertinggi diperoleh pada perlakuan 5ind/L. Perendaman ekstrak daun karamunting 50 ppm dengan padat penebaran benur berkisar 5 - 10ind/L, menghasilkan persentase moulting, pertumbuhan panjang mutlak dan sintasan hidup yang optimal.