BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Gaya belajar merupakan salah satu faktor pendukung kemampuan numerasi yang dapat memudahkan dalam proses pembelajaran dan berkomunikasi. Setiap anak mempunyai gaya belajar sendiri-sendiri dan tidak dapat dipaksakan untuk menggunakan gaya belajar yang seragam, sehingga kemampuan numerasi anakpun juga berbeda Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan numerasi siswa berdasarkan gaya belajar. Jenis penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan pengambilan data melalui angket, tes, dan wawancara. Subjek dalam penelitian ini ada tiga peserta didik, satu peserta didik dengan gaya belajar visual. Satu peserta didik dengan gaya belajar auditorial. Satu peserta didik dengan gaya belajar kinestetik. Analisis data melewati tahapan dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa siswa dengan gaya belajar visual cepat tanggap karena siswa dengan gaya belajar visual dapat mengerjakan seluruh soal tes dan memenuhi seluruh indikator kemampuan numerasi. Sedangkan untuk gaya belajar auditorial dan kinestetik cenderung memiliki respon yang sama ketika mendapat soal tes meminta bantuan terhadap guru dan hanya memenuhi dua indikator kemampuan numerasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gaya belajar merupakan salah satu faktor pendukung kemampuan numerasi yang dapat memudahkan dalam proses pembelajaran dan berkomunikasi. Setiap anak mempunyai gaya belajar sendiri-sendiri dan tidak dapat dipaksakan untuk menggunakan gaya belajar yang seragam, sehingga kemampuan numerasi anakpun juga berbeda Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan numerasi siswa berdasarkan gaya belajar. Jenis penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan pengambilan data melalui angket, tes, dan wawancara. Subjek dalam penelitian ini ada tiga peserta didik, satu peserta didik dengan gaya belajar visual. Satu peserta didik dengan gaya belajar auditorial. Satu peserta didik dengan gaya belajar kinestetik. Analisis data melewati tahapan dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa siswa dengan gaya belajar visual cepat tanggap karena siswa dengan gaya belajar visual dapat mengerjakan seluruh soal tes dan memenuhi seluruh indikator kemampuan numerasi. Sedangkan untuk gaya belajar auditorial dan kinestetik cenderung memiliki respon yang sama ketika mendapat soal tes meminta bantuan terhadap guru dan hanya memenuhi dua indikator kemampuan numerasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•
ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemerolehan bahasa pertama pada anak 5 tahun aspek morfologi melalui kajian psikolinguistik.penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Laporan penyajian data, disajikan secara terurai dalam bentuk kata- kata maupun kalimat. Sumber data penelitian ini adalah anak usia 5 tahun di daerah Selumit Pantai. Data dalam penelitian ini berupa penggalan kalimat dari hasil percakapan terhadap anak usia 5 tahun. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, rekam, dan teknik catat. Penyajian hasil analisis data dengan analisis deskriptif. Penelitian ini difokuskan pada permasalahan yang berkaitan dengan kata- kata yang masuk aspek morfologi pada anak yang berkaitan dengan kajian psikolinguistik. Psikolinguistik merupakan salah satu ilmu yang berkaitan dengan ilmu bahasa. Secara umum, analisis menggunakan 5 anak untuk memperoleh data. Dari hasil analisis data terdapat 38 aspek morfologi dari sumber data yang ada. Dari 5 anak yang di analisis dapat disimpulkan pada data pertama berdasarkan hasil dari analisis, anak sudah mampu membentuk beberapa morfem dalam morfologi. Data keempat, anak usia 5 tahun sudah mampu membentuk beberapa morfem dalam morfologi. Pada data ini anak sudah mampu memperlihatkan afiks prefix dalam pengucapannya selain morfem bebas, morfem terikat, dan afiks sufiks. Kemudian data kelima, anak sudah mampu mengucapkan beberapa morfem bebas dengan baik, hanya saja dalam data ini anak belum berbicara dengan membentuk morfem lainnya. Pada data keenam, anak sudah mampu membentuk beberapa morfem dalam morfologi. Seperti morfem bebas, morfem terikat, morfem dasar, dan afiks prefiks. Setiap anak mampu memperoleh morfologi. Namun, bentuk morfologinya ada yang sudah terlihat lebih banyak memperoleh morfologinya dan ada yang masih terlihat sedikit dalam memperoleh morfologinya. Kata Kunci : Pemerolehan Bahasa, Anak, Morfologi, Psikolinguistik