Abstrak
Isolasi sosial merupakan salah satu masalah keperawatan yang sering ditemukan pada pasien dengan gangguan jiwa, khususnya skizofrenia. Kondisi ini ditandai dengan ketidakmampuan individu berinteraksi secara positif dengan orang lain, penarikan diri dari lingkungan sosial, afek datar, serta kurangnya partisipasi dalam kegiatan kelompok. Data RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan mencatat 67 kasus isolasi sosial pada tahun 2022 dan 10 kasus pada periode Januari–April 2024, menjadikan isolasi sosial sebagai salah satu prioritas penanganan keperawatan jiwa. Studi kasus ini bertujuan menggambarkan penerapan asuhan keperawatan secara sistematis pada klien dengan diagnosis keperawatan isolasi sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif studi kasus terhadap dua klien (Tn. S, 48 tahun dan Ny. Y, 39 tahun) dengan diagnosis medis skizofrenia paranoid di Ruang Teratai RSUD dr. H. Jusuf SK Kota Tarakan, dilaksanakan pada 27 April–3 Mei 2026. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi, dan kepustakaan. Hasil pengkajian menunjukkan kedua klien mengalami isolasi sosial disertai masalah defisit perawatan diri. Klien 1 juga mengalami halusinasi pendengaran, sedangkan Klien 2 mengalami harga diri rendah. Intervensi dilaksanakan menggunakan Strategi Pelaksanaan (SP) 1–4 yang mencakup latihan berkenalan secara bertahap, berbicara saat kegiatan harian, serta latihan sosialisasi. Setelah implementasi, kedua klien menunjukkan peningkatan kemampuan berinteraksi, meskipun masih tampak gugup. Keberhasilan asuhan didukung oleh penerapan komunikasi terapeutik yang efektif dan kerja sama tim kesehatan. Disimpulkan bahwa penerapan asuhan keperawatan dengan pendekatan SP isolasi sosial secara bertahap efektif meningkatkan kemampuan sosial klien selama perawatan di rumah sakit jiwa.