Abstrak
Energi listrik merupakan kebutuhan penting dalam mendukung aktivitas rumah tangga, komersial, dan industri. Peningkatan kebutuhan energi listrik akibat pertumbuhan wilayah menuntut sistem distribusi yang andal dan efisien. Salah satu tantangan dalam sistem distribusi adalah penambahan beban baru yang dapat mempengaruhi stabilitas sistem pembangkitan melalui perubahan profil tegangan, rugi-rugi daya, dan jatuh tegangan. Oleh karena itu, diperlukan analisis untuk mengevaluasi kemampuan sistem dalam menjaga stabilitas setelah penambahan beban tanpa melanggar standar teknis yang berlaku. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan studi aliran daya berbantuan perangkat lunak Electrical Transient Analyzer Program (ETAP) versi 19.0.1. Data yang digunakan meliputi data pembangkit, saluran, transformator, beban, serta diagram segaris sistem distribusi 20 kV PT PLN Persero Tarakan. Simulasi dilakukan untuk menganalisis kondisi sistem sebelum dan setelah penambahan beban sebesar 3.294 kVA dari PT Phoenix dan PT Krist pada Feeder 10. Hasil simulasi divalidasi melalui perhitungan manual dan dibandingkan dengan standar SPLN 1:2015 dan SPLN 72:1987. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah penambahan beban, sistem tetap stabil dengan tegangan bus terendah 97,05% pada Bus89 dan jatuh tegangan tertinggi 1,83% pada saluran F10 Bus 5. Validasi perhitungan manual pada saluran F10 Bus 4 menunjukkan rugi-rugi daya aktif meningkat dari 9,2 kW menjadi 20,0 kW dan jatuh tegangan meningkat dari 0,98% menjadi 1,44%. Seluruh parameter masih memenuhi standar SPLN sehingga sistem pembangkitan PT PLN Persero Tarakan mampu menjaga stabilitas setelah penambahan beban.