Abstrak
Perkembangan teknologi mendorong inovasi di berbagai bidang, termasuk pertanian. Internet of Things memungkinkan otomatisasi dan pemantauan real-time untuk meningkatkan efisiensi. Penelitian ini merancang sistem penyiraman otomatis dan monitoring bibit kakao berbasis IoT di PT Pesona Khatulistiwa Nusantara. Sistem ini menggantikan metode manual yang kurang efisien serta meningkatkan akurasi pemantauan kelembapan tanah, suhu udara, dan pH tanah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk menganalisis data sensor dan memastikan keakuratan sensor. Selain itu, pendekatan eksperimental digunakan dalam desain penelitian untuk mengatur RTC dan mengubah nilai ADC pada sensor. Sistem menggunakan NodeMCU ESP8266 dengan sensor kelembapan tanah, suhu (DHT22) serta sensor pH tanah. Data perolehan hasil sensor akan dikirim pada LCD dan Blynk untuk pemantauan via smartphone. Sistem memiliki tiga mode penyiraman yaitu : otomatis saat kelembapan 40%, terjadwal dengan RTC (Real Time Clock) dan manual melalui Blynk. Proses Pengujian kalibrasi Sensor menggunakan Soil Survey Instrument sebagai alat perbandingan, dari hasil kalibrasi tesebut Sensor kelembapan tanah mendeteksi 0-30% pada kondisi tanah kering (DRY), 40-70% pada kondisi normal (NOR), dan 80-100% pada kondisi basah (WET+). Sensor DHT22 memiliki akurasi 99,36% dengan tingkat error 6,64%, sedangkan sensor pH tanah memiliki akurasi 89,31% pada kondisi asam (pH 3-4), 94,05% pada kondisi netral (pH 6-7), dan 93,56% pada kondisi basah (pH 9-10), dengan error maksimal 10,68%. Berdasarkan hasil Implementasi sistem yang dilakukan, pengujian dilakukan selama 9 jam (pukul 09:00 - 16:59) dengan pengambilan data setiap 30 menit dan pembacaan sensor setiap 2 detik hasil pengujian sistem rata-rata kelembapan tanah berada pada 65,25%, lalu pada penyiraman mode terjadwal pompa dapat aktif selama 15 detik berdasarkan hasil pengaturan RTC yang dimasukan pada program yaitu pukul 09.00, 12.00, 13.00 dan 16.00. Sensor pH menunjukkan pH normal (7,76) serta suhu udara rata-rata 31,44°C. sistem ini diharapkan dapat membantu petani dalam memantau kondisi kualitas bibit kakao serta pemeliharan berupa penyiraman secara otomatis.