Abstrak
Masturbasi dapat mempengaruhi segi psikis, selain merasa bersalah orang yang melakukan masturbasi akan mudah mengalami perasaan takut, banyak berpikir negatif, menyendiri dan malu. Berdasarkan hasil wawancara terbuka yang dilakukan pada remaja di pulau Sebatik wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia, ditemukan bahwa remaja tersebut telah melakukan perilaku masturbasi dan mengalami perasaan bersalah dan cemas terkait dengan hal tersebut. Remaja mengatakan takut jika orang-orang di sekitar mereka terlebih orang tua mengetahui perilaku masturbasi yang dilakukan, sehingga nantinya membuat mereka merasa terhakimi dan dipandang negatif oleh lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara perilaku masturbasi, perasaan bersalah, dan dampaknya terhadap kesehatan mental remaja di wilayah perbatasan Pulau Sebatik, Indonesia. Metode yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan siswa dari SMAN 1 Sebatik Tengah sebagai sampel yang diambil menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu dengan jumlah sampel sebanyak 192 sampel yang berusia 15-19 tahun. Penelitian ini menggunakan tiga intrumen penelitian berupa kuesioner, yaitu kuesioner The Guilt Sensitivity Scale (GSS), kuesioner Negative Attitude toward Masturbation Inventory (NAMI) dan kuesioner DASS 21 (Depression Anxiety Stress Scale). Analisis data menggunakan uji statistik Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara perilaku masturbasi dan perasaan bersalah dengan nilai p value 0,015 (p0,05). Namun, tidak ditemukan hubungan signifikan antara perilaku masturbasi dengan kesehatan mental (kecemasan, stres, depresi) dengan nilai p value kecemasan sebesar 0,361 (p>0,05), stres sebesar 0,181 (p>0,05) dan depresi sebesar 0,608 (p>0,05). Sebaliknya, terdapat hubungan yang signifikan antara perasaan bersalah dan kesehatan mental dengan nilai p value kecemasan sebesar 0,015 (p0,05), stres sebesar 0,025 (p0,05) dan depresi sebesar 0,011 (p0,05). Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan intervensi yang lebih efektif untuk mendukung kesehatan mental remaja yang berkaitan dengan perilaku seksualnya khususnya di daerah perbatasan.