Abstrak
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sering kali dihadapkan dengan diskriminasi termasuk di lingkungan sekolah. Kemudian masih banyak sekolah umum yang tidak dapat menerima anak-anak yang berkebutuhan khusus dikarenakan guru umum tidak memiliki pemahaman dan ilmu tentang penanganan anak berkebutuhan khusus. ABK melaksanakan Pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), namun ada juga sekolah yang mampu menerima anak regular dan anak berkebutuhan khusus yang dikenal dengan sekolah inklusi. Penelitian ini dilaksanakan di 3 sekolah negeri sebagai tempat penelitian yaitu SD Negeri 009, SD Negeri 010 dan SD Negeri 049 Kota Tarakan yang telah ditunjuk langsung oleh Dinas Provinsi Kalimantaan Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap dan emosi guru pada kesiapan pelaksanaan sekolah inklusi di Kota Tarakan. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode campuran (Mixed Method) dengan desain metode penelitian campuran sekuensial eksplanatori (Eksplanatory Sequential Design) yaitu penelitian kuantitatif dan kualitaitif, dengan 30 wali kelas sebagai sampel penelitian. Berdasarkan hasil kuesioner terdapat rata-rata presentase kesiapan sikap dan emosi guru yaitu 76.22%, k emudian diperkuat dengan data wawancara yang diperoleh, maka perlunya kesiapan guru yang memadai dan fasilitas yang dapat mendukung dan memperoleh bantuan dari guru pendamping dalam pelaksanaan sekolah inklusi. Sehingga sikap dan emosi guru sekolah dasar negeri memiliki kesiapan pada sekolah inklusi dengan penerapan sekolah inklusi sesuai dengan peraturan dan prosedur yang matang. Adanya kesiapan sikap dan emosi guru sekolah dasar pada pelaksanaan sekolah inklusi maka perlunya pemerintah memberikan dukungan dan fasilitas kepada guru-guru dan sekolah dalam melaksanakan sekolah inklusi.