Abstrak
.Gedung SMP Negeri 11 merupakah salah satu gedung sekolah yang saat ini sedang dalam proses pembangunan di Kota Tarakan. Proyek ini menggunakan uji CPT (Cone Penetration Test) atau Sondir sebagai pengujian tanah. Pondasi yang digunakan adalah pondasi tiang pancang (driven pile) dimensi 0,25 x 0,25 m. Pada studi ini direncanakan ulang menggunakan pondasi tiang bor (bore pile) dengan diameter 0,40 m untuk mencari alternatif desain yang lebih efisien. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan jenis tanah dari data CPT, mengetahui perencanaan tiang bor, mendapatkan perbandingan antara pondasi tiang pancang (driven pile) dan tiang bor (bore pile), berdasarkan kekuatan dan biaya yang dibutuhkan. Kapasitas daya dukung menggunakan metode statis, berupa Kekuatan bahan, Metode Schmertmann dan Nottingham dan Metode Mayerhoff untuk tanah granuler, serta Metode Bagemann dan Metode deRuiter dan Beringen untuk tiang dalam tanah kohesif. Berdasarkan hasil analisa diperoleh jenis tanah lempung pada kedalaman 0,00-6,80 m dan pasir pada kedalaman 6,80-11,60 m. Berdasarkan perencanaan pile cap, pondasi tiang pancang memiliki dimensi pile cap 2,25 x 1,50 x 0,50 m dengan tulangan D19-150 mm Aman terhadap gaya geser, tetapi Tidak Aman terhadap momen lentur. Sedangkan pile cap tiang bor direncanakan memiliki dimensi 2,50 x 1,50 x 0,50 n dengan tulangan D19-150 mm Aman terhadap gaya geser dan momen lentur. Berdasarkan analisa biaya, pondasi tiang pancang memerlukan anggaran sebesar Rp 31.093.000,00, sedangkan pondasi tiang bor memerlukan anggaran sebesar Rp 45.908.000,00. Berdasarkan hasil analisa, pondasi yang paling tepat dan dapat diaplikasikan dalam pekerjaan Proyek SMP Negeri 11 Kota Tarakan adalah pondasi tiang bor (bore pile) karena mempunyai daya dukung grup lebih besar, aman dari segi perencanaan, walaupun dengan biaya yang mahal daripada tiang pancang.