Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

IFA YULIA

2 karya publik ditemukan.

2026: 2

Determinan Kejadian Anemia pada Kehamilan di Puskesmas Pantai Amal Kota Tarakan

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Anemia pada kehamilan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Kondisi ini dikategorikan sebagai “potential danger to mother and child”. Dampak pada ibu meliputi hipertensi gestasional, preeklamsia, penurunan imunitas, persalinan prematur, KPD, partus lama, atonia uteri, hingga risiko perdarahan pascapersalinan. Bagi janin, kondisi ini memicu gangguan pertumbuhan, abortus, skor APGAR rendah, BBLR, kelahiran prematur, anemia neonatal, sindrom gangguan pernapasan, hambatan perkembangan, infeksi, asfiksia neonatal, serta risiko stunting. Penelitian kuantitatif dengan desain crosssectional ini bertujuan menganalisis determinan kejadian anemia pada kehamilan. Data dikumpulkan secara retrospektif dari buku register ANC terhadap 187 ibu hamil multipara dan grandemultipara di Puskesmas Pantai Amal periode JanuariDesember 2025. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari total populasi 270 ibu hamil yang melakukan ANC K1. Analisis bivariat dengan chisquare (α≤0,05) menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara usia ibu (p=0,429) dan paritas (p=0,606) dengan kejadian anemia. Sementara itu, terdapat hubungan signifikan pada jarak kehamilan (p=0,05), kekurangan energi kronik (p=0,007), dan waktu kunjungan ANC K1 (p0,001). Analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda dengan memasukkan variabel p0,25. Hasil menunjukkan bahwa waktu kunjungan ANC K1 merupakan faktor paling dominan, dibandingkan faktor lainnya dengan risiko kejadian anemia sekitar 8 kali lebih besar pada ibu yang melakukan ANC K1 akses. Selain itu, ibu dengan kekurangan energi kronik memiliki risiko kejadian anemia sekitar 3 kali lebih besar. Strategi promotif KIA perlu ditingkatkan untuk mendorong inisiasi ANC K1 sedini mungkin (0–12 minggu) melalui edukasi dan penjangkauan ibu hamil. Sementara itu, penanganan ibu hamil kekurangan energi kronik perlu diperkuat melalui deteksi dini dan intervensi gizi terpadu sejak kontak pertama di pelayanan kesehatan. Hal ini mencakup integrasi pemberian Makanan Tambahan (PMT) berkelanjutan, konseling gizi spesifik, serta pendampingan nutrisi intensif.

Determinan Kejadian Anemia pada Kehamilan di Puskesmas Pantai Amal Kota Tarakan

2026 · Thesis ·

Anemia pada kehamilan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Kondisi ini dikategorikan sebagai “potential danger to mother and child”. Dampak pada ibu meliputi hipertensi gestasional, preeklamsia, penurunan imunitas, persalinan prematur, KPD, partus lama, atonia uteri, hingga risiko perdarahan pascapersalinan. Bagi janin, kondisi ini memicu gangguan pertumbuhan, abortus, skor APGAR rendah, BBLR, kelahiran prematur, anemia neonatal, sindrom gangguan pernapasan, hambatan perkembangan, infeksi, asfiksia neonatal, serta risiko stunting. Penelitian kuantitatif dengan desain crosssectional ini bertujuan menganalisis determinan kejadian anemia pada kehamilan. Data dikumpulkan secara retrospektif dari buku register ANC terhadap 187 ibu hamil multipara dan grandemultipara di Puskesmas Pantai Amal periode JanuariDesember 2025. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari total populasi 270 ibu hamil yang melakukan ANC K1. Analisis bivariat dengan chisquare (α≤0,05) menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara usia ibu (p=0,429) dan paritas (p=0,606) dengan kejadian anemia. Sementara itu, terdapat hubungan signifikan pada jarak kehamilan (p=0,05), kekurangan energi kronik (p=0,007), dan waktu kunjungan ANC K1 (p0,001). Analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda dengan memasukkan variabel p0,25. Hasil menunjukkan bahwa waktu kunjungan ANC K1 merupakan faktor paling dominan, dibandingkan faktor lainnya dengan risiko kejadian anemia sekitar 8 kali lebih besar pada ibu yang melakukan ANC K1 akses. Selain itu, ibu dengan kekurangan energi kronik memiliki risiko kejadian anemia sekitar 3 kali lebih besar. Strategi promotif KIA perlu ditingkatkan untuk mendorong inisiasi ANC K1 sedini mungkin (0–12 minggu) melalui edukasi dan penjangkauan ibu hamil. Sementara itu, penanganan ibu hamil kekurangan energi kronik perlu diperkuat melalui deteksi dini dan intervensi gizi terpadu sejak kontak pertama di pelayanan kesehatan. Hal ini mencakup integrasi pemberian Makanan Tambahan (PMT) berkelanjutan, konseling gizi spesifik, serta pendampingan nutrisi intensif.