Produktivitas Infrastruktur, Investasi, dan Tenaga Kerja di Pulau Kalimantan
Kesenjangan output ekonomi antarprovinsi di Kalimantan dalam dinamika ekonomi yang mencakup masa pandemi hingga awal pembangunan Ibu Kota Nusantara memunculkan pertanyaan tentang seberapa produktif setiap tambahan infrastruktur listrik, air, investasi, dan tenaga kerja dalam mendorong PDRB ADHB di kawasan ini sepanjang 2018-2024. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat produktivitas keempat faktor produksi tersebut pada lima provinsi Kalimantan sekaligus menyusun klasifikasi produktivitas antarprovinsi. Penelitian bersifat kuantitatif deskriptif dengan teknik analisis Marginal Product of Capital (MPK) untuk mengukur produktivitas listrik, air, PMDN, dan PMA, serta Marginal Product of Labor (MPL) untuk mengukur produktivitas tenaga kerja, keduanya diturunkan dari fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukkan Kalimantan Utara menempati klasifikasi sangat produktif dengan nilai kapital 214,76 dan MPL sebesar 0,43 miliar rupiah per jiwa serta mencatat produktivitas tertinggi pada MPK listrik (Rp760,08 miliar per GWh) dan MPK PMA (Rp89,90 miliar per juta US$). Kalimantan Timur unggul pada MPK air (Rp10,93 miliar per m³) dan paling produktif dari sisi MPL dengan nilai 2,84 miliar rupiah per jiwa. Pada MPK PMDN, Kalimantan Selatan memimpin dengan nilai Rp23,79 miliar. Temuan ini mengisyaratkan perlunya kebijakan yang menyelaraskan penguatan kapasitas infrastruktur dasar dengan peningkatan kualitas tenaga kerja secara serentak, agar produktivitas kapital dan produktivitas tenaga kerja tumbuh beriringan.